<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rapat Menteri ESDM dan Komisi VII Memanas Gegara Impor Nikel di DPR</title><description>Rapat Menteri ESDM Arifin Tasrif dan Komisi VII DPR RI memanas karena isu impor nikel.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/31/320/2874752/rapat-menteri-esdm-dan-komisi-vii-memanas-gegara-impor-nikel-di-dpr</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/08/31/320/2874752/rapat-menteri-esdm-dan-komisi-vii-memanas-gegara-impor-nikel-di-dpr"/><item><title>Rapat Menteri ESDM dan Komisi VII Memanas Gegara Impor Nikel di DPR</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/31/320/2874752/rapat-menteri-esdm-dan-komisi-vii-memanas-gegara-impor-nikel-di-dpr</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/08/31/320/2874752/rapat-menteri-esdm-dan-komisi-vii-memanas-gegara-impor-nikel-di-dpr</guid><pubDate>Kamis 31 Agustus 2023 16:58 WIB</pubDate><dc:creator>Atikah Umiyani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/31/320/2874752/rapat-menteri-esdm-dan-komisi-vii-memanas-gegara-impor-nikel-di-dpr-GQoO1wWcJE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rapat komisi VII dan arifin tasrif memanas (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/31/320/2874752/rapat-menteri-esdm-dan-komisi-vii-memanas-gegara-impor-nikel-di-dpr-GQoO1wWcJE.jpg</image><title>Rapat komisi VII dan arifin tasrif memanas (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNi8yMC8xLzE2NzM4Mi81L3g4bHdyM2c=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Rapat Menteri ESDM Arifin Tasrif dan Komisi VII DPR RI memanas karena isu impor nikel. Rapat yang dipimpin oleh Ketua Komisi VII Sugeng Suparwoto itu sempat memanas lantaran dipicu persoalan nikel serta permasalahan birokrasi yang ada di Kementerian ESDM.
Awalnya, salah satu Anggota Komisi VII DPR RI Muhammad Nasir mengaku dirinya mendapatkan informasi soal impor nikel beberapa yang dirasanya janggal lantaran Indonesia merupakan penghasil nikel terbesar nomor 1 di dunia.

BACA JUGA:
Impor Barang di Bawah Rp1,5 Juta Dilarang, Ini Kata Tokopedia


&quot;Disampaikan di mana-mana bahwa penghasil nikel terbesar ini nomor 1 di dunia itu Indonesia. Hari ini kita mengimpor. Saya ingin interaktif, kendalanya seperti apa untuk birokrasi? Dalam perhatian sodara Menteri, kenapa sampai terjadi kita mengimpor nikel? Padahal konsesi kita cukup besar,&quot; tegasnya.
Nasir pun kemudian menyoroti kementerian yang malah mengeluarkan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) perusahaan-perusahaan yang menurutnya tidak kredibel. Sebaliknya, lanjut Nasir, perusahaan yang memiliki kualitas dan kemampuan justru dipersulit oleh birokrasi.

BACA JUGA:
Bulog Bakal Impor 400.000 Ton Beras Gegara Produksi Turun


&quot;Malah saya dapat masukan bahwa perusahaan-perusahaan yang tidak kredibel malah RKAB nya dikeluarkan. Pengusaha-pengusaha yang punya kualitas dan kemampuan sampai hari ini dipersulit birokrasinya Pak Menteri,&quot; jelasnya.
Menanggapi hal itu, Arifin pun mengungkapkan bahwa berdasarkan penelusurannya dari pemberitaan soal impor nikel ini, ternyata perusahaan yang melakukan impor nikel tersebut merupakan perusahaan yang selama ini mengambil bahan baku dari Blok Mandiodo yang bermasalah.
&quot;Jadi karena mereka harus berproses dan terkait dengan kontrak dengan offtaker di downstream-nya karena memang secara keseluruhan karena tidak boleh ekspor ore nikel ini, semua produsen tambang sudah terikat dengan offtaker smelter yang sedang berjalan,&quot; terangnya.
Nasir pun kemudian menilai bahwa yang menjadi masalah bagi penambang  yaitu birokrasi. Politisi Demokrat itu pun menyinggung soal valuator  yang belum lama ditangkap Kejaksaan Agung merupakan salah satu yang  mepersulit birokrasi di Kementerian ESDM.
&quot;Apakah ini penyebab terhambatnya perizinan RKB di kementerian ini?  Saya minta ini apasih permasalahannya? Atau kurang pembagian, sistemnya  atau ada yg njlimet di sana? Tolong ini jangan jadi hambatan.  Secara  prinsip secara pemasukan negara sangat besar, jadi saya minta ini harus  clear apa sih masalahnya,&quot; tegas Nasir.
Arifin pun menuturkan, sejak Undang-undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang  Minerba disahkan, perizinan yang ada di daerah dipindahkan ke pusat.  Dia mengatakan, untuk minerba yang selama ini hanya 400 izin kini  bertambah menjadi 6.000 izin. Hal itu direspons sebaik mungkin dengan  penyederhanaan izin.
Kemudian, lanjut Arifin, ada juga perusahaan yang tidak mengerti  pengisian form lalu terpaksa mengulang lagi. Diakui Arifin, dirinya pun  sudah memerintahkan seluruh staf untuk bisa membantu setiap perusahaan  yang belum memenuhi persyaratan. Sehingga RKAB yang tadinya tiap tahun  untuk produksi sekarang kita berikan 3 tahun.
Merespons pernyataan Arifin, Nasir pun menegaskan bahwa penunjukan  Arifin sebagai menteri yaitu untuk membantu memajukan negara, bukan  untuk memainkan wayang.
&amp;ldquo;Anda ini kan ditunjuk sebagai menteri untuk bagaimana negara ini maju, bukan anda jadi mainkan wayang ini di sini,&amp;rdquo; ujarnya.
Hal itu pun langsung dibantah Arifin yang menegaskan, dirinya  bukanlah wayang. &amp;ldquo;Saya bukan wayang, jadi perhatian, itu manusia, &amp;rdquo;  katanya.
Selanjutnya, Nasir pun menilai Arifin sejatinya memiliki target untuk  mengejar pemasukan negara. Sehingga dirinya menginginkan Arifin untuk  cepat merampungkan permasalahan proses birokrasi tersebut.
&amp;ldquo;Kalau tenaga kementerian ini masih kurang ditambah, kalau anggaran  masih kurang untuk menambah sistem IT ditambah, urusan paspor negara ini  4 jutaan orang diurus, tapi selesai dengan hitungan jam, gitu, bukan di  kementerian seperti ini,&amp;rdquo; jelas Nasir.
Pernyataan itu pun direspons Arifin dan keduanya saling meninggikan  suara, Hingga akhirnya Wakil Ketua Komisi VII Bambang Haryadi menegaskan  bahwa dirinya lah yang mengatur jalannya persidangan.
&quot;Saya yang mengatur jalannya persidangan kalau tidak saya tutup,&quot; jelas Bambang ketika menengahi perdebatan keduanya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNi8yMC8xLzE2NzM4Mi81L3g4bHdyM2c=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Rapat Menteri ESDM Arifin Tasrif dan Komisi VII DPR RI memanas karena isu impor nikel. Rapat yang dipimpin oleh Ketua Komisi VII Sugeng Suparwoto itu sempat memanas lantaran dipicu persoalan nikel serta permasalahan birokrasi yang ada di Kementerian ESDM.
Awalnya, salah satu Anggota Komisi VII DPR RI Muhammad Nasir mengaku dirinya mendapatkan informasi soal impor nikel beberapa yang dirasanya janggal lantaran Indonesia merupakan penghasil nikel terbesar nomor 1 di dunia.

BACA JUGA:
Impor Barang di Bawah Rp1,5 Juta Dilarang, Ini Kata Tokopedia


&quot;Disampaikan di mana-mana bahwa penghasil nikel terbesar ini nomor 1 di dunia itu Indonesia. Hari ini kita mengimpor. Saya ingin interaktif, kendalanya seperti apa untuk birokrasi? Dalam perhatian sodara Menteri, kenapa sampai terjadi kita mengimpor nikel? Padahal konsesi kita cukup besar,&quot; tegasnya.
Nasir pun kemudian menyoroti kementerian yang malah mengeluarkan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) perusahaan-perusahaan yang menurutnya tidak kredibel. Sebaliknya, lanjut Nasir, perusahaan yang memiliki kualitas dan kemampuan justru dipersulit oleh birokrasi.

BACA JUGA:
Bulog Bakal Impor 400.000 Ton Beras Gegara Produksi Turun


&quot;Malah saya dapat masukan bahwa perusahaan-perusahaan yang tidak kredibel malah RKAB nya dikeluarkan. Pengusaha-pengusaha yang punya kualitas dan kemampuan sampai hari ini dipersulit birokrasinya Pak Menteri,&quot; jelasnya.
Menanggapi hal itu, Arifin pun mengungkapkan bahwa berdasarkan penelusurannya dari pemberitaan soal impor nikel ini, ternyata perusahaan yang melakukan impor nikel tersebut merupakan perusahaan yang selama ini mengambil bahan baku dari Blok Mandiodo yang bermasalah.
&quot;Jadi karena mereka harus berproses dan terkait dengan kontrak dengan offtaker di downstream-nya karena memang secara keseluruhan karena tidak boleh ekspor ore nikel ini, semua produsen tambang sudah terikat dengan offtaker smelter yang sedang berjalan,&quot; terangnya.
Nasir pun kemudian menilai bahwa yang menjadi masalah bagi penambang  yaitu birokrasi. Politisi Demokrat itu pun menyinggung soal valuator  yang belum lama ditangkap Kejaksaan Agung merupakan salah satu yang  mepersulit birokrasi di Kementerian ESDM.
&quot;Apakah ini penyebab terhambatnya perizinan RKB di kementerian ini?  Saya minta ini apasih permasalahannya? Atau kurang pembagian, sistemnya  atau ada yg njlimet di sana? Tolong ini jangan jadi hambatan.  Secara  prinsip secara pemasukan negara sangat besar, jadi saya minta ini harus  clear apa sih masalahnya,&quot; tegas Nasir.
Arifin pun menuturkan, sejak Undang-undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang  Minerba disahkan, perizinan yang ada di daerah dipindahkan ke pusat.  Dia mengatakan, untuk minerba yang selama ini hanya 400 izin kini  bertambah menjadi 6.000 izin. Hal itu direspons sebaik mungkin dengan  penyederhanaan izin.
Kemudian, lanjut Arifin, ada juga perusahaan yang tidak mengerti  pengisian form lalu terpaksa mengulang lagi. Diakui Arifin, dirinya pun  sudah memerintahkan seluruh staf untuk bisa membantu setiap perusahaan  yang belum memenuhi persyaratan. Sehingga RKAB yang tadinya tiap tahun  untuk produksi sekarang kita berikan 3 tahun.
Merespons pernyataan Arifin, Nasir pun menegaskan bahwa penunjukan  Arifin sebagai menteri yaitu untuk membantu memajukan negara, bukan  untuk memainkan wayang.
&amp;ldquo;Anda ini kan ditunjuk sebagai menteri untuk bagaimana negara ini maju, bukan anda jadi mainkan wayang ini di sini,&amp;rdquo; ujarnya.
Hal itu pun langsung dibantah Arifin yang menegaskan, dirinya  bukanlah wayang. &amp;ldquo;Saya bukan wayang, jadi perhatian, itu manusia, &amp;rdquo;  katanya.
Selanjutnya, Nasir pun menilai Arifin sejatinya memiliki target untuk  mengejar pemasukan negara. Sehingga dirinya menginginkan Arifin untuk  cepat merampungkan permasalahan proses birokrasi tersebut.
&amp;ldquo;Kalau tenaga kementerian ini masih kurang ditambah, kalau anggaran  masih kurang untuk menambah sistem IT ditambah, urusan paspor negara ini  4 jutaan orang diurus, tapi selesai dengan hitungan jam, gitu, bukan di  kementerian seperti ini,&amp;rdquo; jelas Nasir.
Pernyataan itu pun direspons Arifin dan keduanya saling meninggikan  suara, Hingga akhirnya Wakil Ketua Komisi VII Bambang Haryadi menegaskan  bahwa dirinya lah yang mengatur jalannya persidangan.
&quot;Saya yang mengatur jalannya persidangan kalau tidak saya tutup,&quot; jelas Bambang ketika menengahi perdebatan keduanya.</content:encoded></item></channel></rss>
