<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Daftar 11 Startup di Asia Pasifik yang Naik Daun</title><description>Daftar 11 perusahaan rintisan atau startup di seluruh Asia terus membuat  terobosan baru, meski kondisi aktivitas modal sedang lesu.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/31/455/2874734/daftar-11-startup-di-asia-pasifik-yang-naik-daun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/08/31/455/2874734/daftar-11-startup-di-asia-pasifik-yang-naik-daun"/><item><title>Daftar 11 Startup di Asia Pasifik yang Naik Daun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/08/31/455/2874734/daftar-11-startup-di-asia-pasifik-yang-naik-daun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/08/31/455/2874734/daftar-11-startup-di-asia-pasifik-yang-naik-daun</guid><pubDate>Kamis 31 Agustus 2023 20:01 WIB</pubDate><dc:creator>Kharisma Rizkika Rahmawati</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/08/31/455/2874734/daftar-11-startup-di-asia-pasifik-yang-naik-daun-42FZRDH8Yp.jpg" expression="full" type="image/jpeg">11 perusahaan startup up yang sedang naik daun (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/08/31/455/2874734/daftar-11-startup-di-asia-pasifik-yang-naik-daun-42FZRDH8Yp.jpg</image><title>11 perusahaan startup up yang sedang naik daun (Foto: Freepik)</title></images><description>


JAKARTA &amp;ndash; Daftar 11 perusahaan rintisan atau startup di seluruh Asia terus membuat terobosan baru, meski kondisi aktivitas modal sedang lesu. Perusahaan rintisan ini terbagi menjadi 11 kategori yang sedang naik daun dan terus dikembangkan.
Melansir Forbes di Jakarta, Kamis (31/8/2023), beberapa perusahaan rintisan menyasar pada pasar yang belum terlayani atau menerapkan teknologi baru, mulai dari kecerdasan buatan (AI) hingga diagnostik kanker berbasis darah. Termasuk inovasi ramah lingkungan, seperti pengembangan protein alternatif berbasis serangga dan digitalisasi produksi susu untuk meningkatkan hasil panen. Ada juga penyedia perdagangan sosial, yang membantu pengguna menjual produk konsumen.

BACA JUGA:
Startup RI Ditantang Selesaikan Masalah Pembiayaan hingga Data Industri 

Adapun 11 kategori, termasuk bioteknologi dan perawatan kesehatan, e-commerce dan ritel, serta keuangan.
1. Abacus Digital
Abacus Digital merupakan anak perusahaan dari Siam Commercial Bank, salah satu pemberi pinjaman terbesar di Thailand. Abacus Digital berdiri sejak 2017 dan berencana untuk go public pada tahun 2025 mendatang.
Perusahaan rintisan ini mengembangkan sebuah aplikasi bertenaga AI untuk memberikan pinjaman dengan cepat, hanya dalam hitungan menit kepada sebagian besar pelanggan yang tidak memiliki rekening bank. Diketahui, aplikasinya yang disebut MoneyThunder, telah memberikan pinjaman sebesar USD250 juta, dengan lebih dari 3 juta pengguna.

BACA JUGA:
Jurus Menkop Teten Perbanyak Startup untuk Percepat Indonesia Jadi Negara Maju

2. Abillion
Abillion sebagai aplikasi media sosial, memungkinkan pengguna untuk berbagi konten tentang keberlanjutan dan membeli produk ramah lingkungan, seperti makanan vegan dan riasan cruelty-free.
Perusahaan ini juga didirikan tahun 2017, dan mengklaim bahwa pasar peer-to-peer dapat menjangkau lebih dari 40 negara, dan telah bermitra dengan badan amal lingkungan yang mendukung kesejahteraan hewan ternak, margasatwa laut, dan banyak lagi. Hingga saat ini, Abillion telah mengumpulkan dana sebesar USD16 juta atau setara Rp242,8 miliar. (Kurs: Rp15.178/USD).3. Aerodyne
Aerodyne memiliki teknologi drone otonom yang dapat menyemprot  tanaman, memeriksa kabel listrik, atau memantau jalanan kota. Sistem  drone bertenaga AI milik perusahaan ini membantu perangkat untuk saling  melakukan sinkronisasi satu sama lain dan kembali ke tempat pengisian  daya yang sama.
Sejak didirikan pada tahun 2014, Aerodyne mengklaim telah melakukan  lebih dari 458.000 operasi penerbangan di 45 negara, dan telah  mengumpulkan dana sebesar USD68 juta atau sebesar Rp1 triliun.
4. Ai-BrainScience
Perusahaan Ai-BrainScience milik Jepang ini berfokus pada kategori  bioteknologi dan kesehatan yang telah berdiri sejak 2019. Menggunakan  teknologi pelacakan mata, Ai-BrainScience telah mengembangkan penilaian  kognitif yang cepat untuk membantu deteksi dini penyakit demensia.
Setiap tes membutuhkan waktu sekitar tiga menit dan mengevaluasi  seberapa cepat pasien melihat serangkaian gambar yang ditampilkan di  layar. Ai-BrainScience berencana untuk melisensikan teknologinya kepada  perusahaan farmasi dan meluncurkan aplikasi yang tersedia untuk umum.
5. AmazingTalker
Sebagai sebuah pasar bimbingan belajar online, AmazingTalker  menghubungkan siswa dengan instruktur bahasa, seperti bahasa Inggris dan  Mandarin, dan mata pelajaran akademis lainnya. Pengguna membeli satu  pelajaran pada satu waktu, dengan harga sekitar Rp151.784 per 50 menit,  dan dari situ perusahaan rintisan ini mendapatkan komisi.
AmazingTalker yang telah mengumpulkan pendanaan sebesar Rp235,2  miliar, bahwa mereka telah memiliki 100.000 pengguna aktif di seluruh  aplikasi dan situs webnya.6. Beleaf
Beleaf sebagai perusahaan dalam kategori pertanian hidroponik,  menanam sayuran hijau, rempah-rempah, dan umbi-umbian untuk mitra  seperti jaringan hotpot Haidilao dan Shopee. Platform pertanian sebagai  layanan (FaaS) pada tahun 2022 juga mendukung petani Indonesia dengan  panduan pertanian, dukungan teknologi, dan layanan pemasaran. Operasi  Beleaf mencakup lima hektar lahan pertanian dan perusahaan mengklaim  memiliki 20 mitra FaaS.
7. ApnaKlub
ApnaKlub adalah distributor grosir barang-barang konsumen yang  bergerak cepat untuk toko-toko ibu dan anak yang menawarkan bahan  makanan dan barang-barang kering di seluruh pedesaan India. Berdasarkan  klaim perusahaan ini, dengan menggunakan aplikasi ApnaKlub, pemilik toko  bisa memilih lebih dari 1.000 produk yang ditawarkan oleh 300 merek.
8. Dash Living
Didirikan pada 2019, Dash Living menawarkan layanan sewa fleksibel  bagi para nomaden digital dan ekspatriat yang tinggal di beberapa kota  termahal di Asia. Perusahaan ini mengelola lebih dari 2.000 unit di  seluruh properti co-living, apartemen berlayanan, dan hunian hotel di  Hong Kong, Singapura, Tokyo, dan Sydney.
9. Dat Bike
Berbasis di Da Nang, Dat Bike memproduksi sepeda listrik dengan suku  cadang yang bersumber secara lokal dari Vietnam. Perusahaan rintisan ini  mengklaim bahwa model terbarunya, Weaver++, dapat menempuh jarak hingga  200 kilometer dalam sekali pengisian daya selama tiga jam. Dengan total  pendanaan sebesar Rp250,4 triliun, Dat Bike bermitra dengan perusahaan  teknologi raksasa GoTo untuk menggunakan sepeda listriknya pada layanan  seperti pengiriman makanan, logistik dan transportasi.10. Makestar
Makestar merupakan perusahaan rintisan asal Korea Selatan yang  mengoperasikan situs web yang menghubungkan artis K-pop dengan  penggemarnya. Perusahaan rintisan ini mengatakan bahwa para penggemar  dari seluruh dunia telah menggunakan situs webnya untuk membeli tiket  acara, album, dan barang dagangan dari 600 lebih artis. Makestar  mengatakan bahwa mereka mendapatkan keuntungan Rp7,5 miliar dari  pendapatan Rp558,5 miliar tahun lalu, dan menargetkan penjualan sebesar  Rp1,2 triliun tahun ini.
11. Syenta
Sebuah perusahaan spin-off dari Australian National University,  Syenta sebagai perusahaan teknik dan konstruksi sedang mengembangkan  printer 3D multi-material yang dapat mencetak menggunakan logam,  plastik, semikonduktor, dan bahan lainnya. Printer 3D Syenta  memungkinkan perusahaan untuk memproduksi barang elektronik secara  internal, sehingga menghemat waktu dan membantu melindungi kekayaan  intelektual mereka. Pada bulan Juli tahun lalu, Syenta berhasil  mengumpulkan pendanaan awal sebesar Rp36,4 miliar.</description><content:encoded>


JAKARTA &amp;ndash; Daftar 11 perusahaan rintisan atau startup di seluruh Asia terus membuat terobosan baru, meski kondisi aktivitas modal sedang lesu. Perusahaan rintisan ini terbagi menjadi 11 kategori yang sedang naik daun dan terus dikembangkan.
Melansir Forbes di Jakarta, Kamis (31/8/2023), beberapa perusahaan rintisan menyasar pada pasar yang belum terlayani atau menerapkan teknologi baru, mulai dari kecerdasan buatan (AI) hingga diagnostik kanker berbasis darah. Termasuk inovasi ramah lingkungan, seperti pengembangan protein alternatif berbasis serangga dan digitalisasi produksi susu untuk meningkatkan hasil panen. Ada juga penyedia perdagangan sosial, yang membantu pengguna menjual produk konsumen.

BACA JUGA:
Startup RI Ditantang Selesaikan Masalah Pembiayaan hingga Data Industri 

Adapun 11 kategori, termasuk bioteknologi dan perawatan kesehatan, e-commerce dan ritel, serta keuangan.
1. Abacus Digital
Abacus Digital merupakan anak perusahaan dari Siam Commercial Bank, salah satu pemberi pinjaman terbesar di Thailand. Abacus Digital berdiri sejak 2017 dan berencana untuk go public pada tahun 2025 mendatang.
Perusahaan rintisan ini mengembangkan sebuah aplikasi bertenaga AI untuk memberikan pinjaman dengan cepat, hanya dalam hitungan menit kepada sebagian besar pelanggan yang tidak memiliki rekening bank. Diketahui, aplikasinya yang disebut MoneyThunder, telah memberikan pinjaman sebesar USD250 juta, dengan lebih dari 3 juta pengguna.

BACA JUGA:
Jurus Menkop Teten Perbanyak Startup untuk Percepat Indonesia Jadi Negara Maju

2. Abillion
Abillion sebagai aplikasi media sosial, memungkinkan pengguna untuk berbagi konten tentang keberlanjutan dan membeli produk ramah lingkungan, seperti makanan vegan dan riasan cruelty-free.
Perusahaan ini juga didirikan tahun 2017, dan mengklaim bahwa pasar peer-to-peer dapat menjangkau lebih dari 40 negara, dan telah bermitra dengan badan amal lingkungan yang mendukung kesejahteraan hewan ternak, margasatwa laut, dan banyak lagi. Hingga saat ini, Abillion telah mengumpulkan dana sebesar USD16 juta atau setara Rp242,8 miliar. (Kurs: Rp15.178/USD).3. Aerodyne
Aerodyne memiliki teknologi drone otonom yang dapat menyemprot  tanaman, memeriksa kabel listrik, atau memantau jalanan kota. Sistem  drone bertenaga AI milik perusahaan ini membantu perangkat untuk saling  melakukan sinkronisasi satu sama lain dan kembali ke tempat pengisian  daya yang sama.
Sejak didirikan pada tahun 2014, Aerodyne mengklaim telah melakukan  lebih dari 458.000 operasi penerbangan di 45 negara, dan telah  mengumpulkan dana sebesar USD68 juta atau sebesar Rp1 triliun.
4. Ai-BrainScience
Perusahaan Ai-BrainScience milik Jepang ini berfokus pada kategori  bioteknologi dan kesehatan yang telah berdiri sejak 2019. Menggunakan  teknologi pelacakan mata, Ai-BrainScience telah mengembangkan penilaian  kognitif yang cepat untuk membantu deteksi dini penyakit demensia.
Setiap tes membutuhkan waktu sekitar tiga menit dan mengevaluasi  seberapa cepat pasien melihat serangkaian gambar yang ditampilkan di  layar. Ai-BrainScience berencana untuk melisensikan teknologinya kepada  perusahaan farmasi dan meluncurkan aplikasi yang tersedia untuk umum.
5. AmazingTalker
Sebagai sebuah pasar bimbingan belajar online, AmazingTalker  menghubungkan siswa dengan instruktur bahasa, seperti bahasa Inggris dan  Mandarin, dan mata pelajaran akademis lainnya. Pengguna membeli satu  pelajaran pada satu waktu, dengan harga sekitar Rp151.784 per 50 menit,  dan dari situ perusahaan rintisan ini mendapatkan komisi.
AmazingTalker yang telah mengumpulkan pendanaan sebesar Rp235,2  miliar, bahwa mereka telah memiliki 100.000 pengguna aktif di seluruh  aplikasi dan situs webnya.6. Beleaf
Beleaf sebagai perusahaan dalam kategori pertanian hidroponik,  menanam sayuran hijau, rempah-rempah, dan umbi-umbian untuk mitra  seperti jaringan hotpot Haidilao dan Shopee. Platform pertanian sebagai  layanan (FaaS) pada tahun 2022 juga mendukung petani Indonesia dengan  panduan pertanian, dukungan teknologi, dan layanan pemasaran. Operasi  Beleaf mencakup lima hektar lahan pertanian dan perusahaan mengklaim  memiliki 20 mitra FaaS.
7. ApnaKlub
ApnaKlub adalah distributor grosir barang-barang konsumen yang  bergerak cepat untuk toko-toko ibu dan anak yang menawarkan bahan  makanan dan barang-barang kering di seluruh pedesaan India. Berdasarkan  klaim perusahaan ini, dengan menggunakan aplikasi ApnaKlub, pemilik toko  bisa memilih lebih dari 1.000 produk yang ditawarkan oleh 300 merek.
8. Dash Living
Didirikan pada 2019, Dash Living menawarkan layanan sewa fleksibel  bagi para nomaden digital dan ekspatriat yang tinggal di beberapa kota  termahal di Asia. Perusahaan ini mengelola lebih dari 2.000 unit di  seluruh properti co-living, apartemen berlayanan, dan hunian hotel di  Hong Kong, Singapura, Tokyo, dan Sydney.
9. Dat Bike
Berbasis di Da Nang, Dat Bike memproduksi sepeda listrik dengan suku  cadang yang bersumber secara lokal dari Vietnam. Perusahaan rintisan ini  mengklaim bahwa model terbarunya, Weaver++, dapat menempuh jarak hingga  200 kilometer dalam sekali pengisian daya selama tiga jam. Dengan total  pendanaan sebesar Rp250,4 triliun, Dat Bike bermitra dengan perusahaan  teknologi raksasa GoTo untuk menggunakan sepeda listriknya pada layanan  seperti pengiriman makanan, logistik dan transportasi.10. Makestar
Makestar merupakan perusahaan rintisan asal Korea Selatan yang  mengoperasikan situs web yang menghubungkan artis K-pop dengan  penggemarnya. Perusahaan rintisan ini mengatakan bahwa para penggemar  dari seluruh dunia telah menggunakan situs webnya untuk membeli tiket  acara, album, dan barang dagangan dari 600 lebih artis. Makestar  mengatakan bahwa mereka mendapatkan keuntungan Rp7,5 miliar dari  pendapatan Rp558,5 miliar tahun lalu, dan menargetkan penjualan sebesar  Rp1,2 triliun tahun ini.
11. Syenta
Sebuah perusahaan spin-off dari Australian National University,  Syenta sebagai perusahaan teknik dan konstruksi sedang mengembangkan  printer 3D multi-material yang dapat mencetak menggunakan logam,  plastik, semikonduktor, dan bahan lainnya. Printer 3D Syenta  memungkinkan perusahaan untuk memproduksi barang elektronik secara  internal, sehingga menghemat waktu dan membantu melindungi kekayaan  intelektual mereka. Pada bulan Juli tahun lalu, Syenta berhasil  mengumpulkan pendanaan awal sebesar Rp36,4 miliar.</content:encoded></item></channel></rss>
