<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gurihnya Bisnis Keripik Tempe Joko Asori, Sehari Laku 40 Kg!</title><description>Gurihnya bisnis Keripik Tempe milik Joko Asori yang tersohor di kawasan Jabodetabek.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/09/04/455/2876815/gurihnya-bisnis-keripik-tempe-joko-asori-sehari-laku-40-kg</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/09/04/455/2876815/gurihnya-bisnis-keripik-tempe-joko-asori-sehari-laku-40-kg"/><item><title>Gurihnya Bisnis Keripik Tempe Joko Asori, Sehari Laku 40 Kg!</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/09/04/455/2876815/gurihnya-bisnis-keripik-tempe-joko-asori-sehari-laku-40-kg</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/09/04/455/2876815/gurihnya-bisnis-keripik-tempe-joko-asori-sehari-laku-40-kg</guid><pubDate>Senin 04 September 2023 15:38 WIB</pubDate><dc:creator>Andri Bagus Syaeful </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/09/04/455/2876815/gurihnya-bisnis-keripik-tempe-joko-asori-sehari-laku-40-kg-z7XJflw6I1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Gurihnya bisnis keripik tempe milik Joko (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/09/04/455/2876815/gurihnya-bisnis-keripik-tempe-joko-asori-sehari-laku-40-kg-z7XJflw6I1.jpg</image><title>Gurihnya bisnis keripik tempe milik Joko (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8yMy80LzE2OTU4Ni81L3g4bmZtbWk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Gurihnya bisnis Keripik Tempe milik Joko Asori yang tersohor di kawasan Jabodetabek. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) keripik tempe milik Joko Asori ini dipasok ke wilayah Jabodetabek.
Awalnya, Joko adalah seorang pengrajin tempe sejak 1982 dan menjualnya di pasar tradisional. Pria berusia 68 tahun mengaku belajar membuat tempe dari Ayahnya.

BACA JUGA:
Kredit BRI Tembus Rp1.202,13 Triliun, Mayoritas untuk UMKM


&quot;Sebelum menjadi pengrajin tempe. Saya bekerja sama orang lain dahulu untuk belajar. Itu selain membantu ayah yang juga pengrajin tempe,&quot; ucap Joko, dikutip Senin (4/9/2023).
Dengan ilmu yang dimiliki, Joko menjadi pengrajin tempe selama 29 tahun. Setelah itu, Joko kemudian banting setir mencoba peruntungan di bisnis makanan olahan tempe.
Pada 2011, Joko mulai mencoba membuat olahan keripik tempe karena melihat potensi yang lebih besar. Dia pun mencobanya perlahan bermodalkan racikan bumbu yang diperoleh dari keponakan sang istri, yakni Siti Martinah.

BACA JUGA:
BRI Raup Laba Rp29,56 Triliun di Semester I-2023


Joko berguru pada Siti yang telah lebih dahulu terjun ke usaha keripik tempe yang berdekatan dengan rumah Joko di Jalan H Aom, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta. Dan saat ini kawasan tersebut menjadi klaster usaha keripik tempe dengan 40 pelaku usaha.
Joko yang merupakan Ketua Rukun Tetangga (RT) di sana cukup menikmati usaha olahan keripik tempe yang sudah dijalani. Sebab, usahanya itu secara perlahan terus berkembang dan punya pelanggan tetap.
&quot;Dalam satu hari saya usaha bisa menjual 30-40 kilogram (kg) keripik tempe,&quot; tutur Joko.
Majunya bisnis keripik tempe membuat Joko ingin mengembangkan  usahanya lebih besar lagi. Dia pun mencoba memanfaatkan program Kredit  Usaha Rakyat (KUR) BRI untuk mendapatkan modal dan mengembangkan  usahanya.
Dana segar yang diberikan kepadanya itu pun dimaksimalkan agar produksi olahan keripik tempenya bisa lebih banyak.
&quot;Sekarang bisa menjual 60-70 kilogram (kg) dalam satu hari. Itu setelah memanfaatkan KUR,&quot; ucapnya.

BACA JUGA:
Kredit BRI Tembus Rp1.202,13 Triliun, Mayoritas untuk UMKM


Belum lagi saat bulan Ramadhan yang membuat permintaan meningkat pesat. Sebab, dia bisa menjual 100 kilogram dalam satu hari.
Joko menjual olahan keripik tempenya sebesar Rp65.000 untuk ukuran  satu kilogram. Sementara itu, untuk kemasan 250 gram dibanderol  Rp20.000.
Dengan jerih payahnya,  Joko telah mempekerjakan enam orang karyawan  dan dibantu anak-anaknya dan istrinya dalam menjalankan usaha itu. Usaha  Joko dari 1982 yang diawali pengrajin tempe dan beralih usaha keripik  sudah dia rasakan nikmatnya.
Dia pun bersyukur karena dijadwalkan berangkat ke tanah suci untuk  menjalankan ibadah haji pada 2026. Itulah mimpinya yang bakal segera  terwujud sebentar lagi.
Melihat usaha yang dijalani Joko terlihat cukup menyenangkan karena  sudah memiliki pelanggan tetap dan berkembang pesat. Namun, sampai ke  titik ini bukan perkara mudah buatnya.

BACA JUGA:
BRI Gerakkan Ekonomi Lewat Pembiayaan dan Pemberdayaan UMKM


Oleh dikarenakan, usahanya pernah sedikit menurun saat pandemi  covid-19 yang membuat harga kedelai mahal saat itu. Namun, dengan  berbagai strategi bisnis membuatnya usaha bisa tetap bertahan.
&quot;Selama dua tahun saya alami penurunan. Usaha saya sempat menurun 20% penjualan. Itu dampak pandemi,&quot; katanya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8yMy80LzE2OTU4Ni81L3g4bmZtbWk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Gurihnya bisnis Keripik Tempe milik Joko Asori yang tersohor di kawasan Jabodetabek. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) keripik tempe milik Joko Asori ini dipasok ke wilayah Jabodetabek.
Awalnya, Joko adalah seorang pengrajin tempe sejak 1982 dan menjualnya di pasar tradisional. Pria berusia 68 tahun mengaku belajar membuat tempe dari Ayahnya.

BACA JUGA:
Kredit BRI Tembus Rp1.202,13 Triliun, Mayoritas untuk UMKM


&quot;Sebelum menjadi pengrajin tempe. Saya bekerja sama orang lain dahulu untuk belajar. Itu selain membantu ayah yang juga pengrajin tempe,&quot; ucap Joko, dikutip Senin (4/9/2023).
Dengan ilmu yang dimiliki, Joko menjadi pengrajin tempe selama 29 tahun. Setelah itu, Joko kemudian banting setir mencoba peruntungan di bisnis makanan olahan tempe.
Pada 2011, Joko mulai mencoba membuat olahan keripik tempe karena melihat potensi yang lebih besar. Dia pun mencobanya perlahan bermodalkan racikan bumbu yang diperoleh dari keponakan sang istri, yakni Siti Martinah.

BACA JUGA:
BRI Raup Laba Rp29,56 Triliun di Semester I-2023


Joko berguru pada Siti yang telah lebih dahulu terjun ke usaha keripik tempe yang berdekatan dengan rumah Joko di Jalan H Aom, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta. Dan saat ini kawasan tersebut menjadi klaster usaha keripik tempe dengan 40 pelaku usaha.
Joko yang merupakan Ketua Rukun Tetangga (RT) di sana cukup menikmati usaha olahan keripik tempe yang sudah dijalani. Sebab, usahanya itu secara perlahan terus berkembang dan punya pelanggan tetap.
&quot;Dalam satu hari saya usaha bisa menjual 30-40 kilogram (kg) keripik tempe,&quot; tutur Joko.
Majunya bisnis keripik tempe membuat Joko ingin mengembangkan  usahanya lebih besar lagi. Dia pun mencoba memanfaatkan program Kredit  Usaha Rakyat (KUR) BRI untuk mendapatkan modal dan mengembangkan  usahanya.
Dana segar yang diberikan kepadanya itu pun dimaksimalkan agar produksi olahan keripik tempenya bisa lebih banyak.
&quot;Sekarang bisa menjual 60-70 kilogram (kg) dalam satu hari. Itu setelah memanfaatkan KUR,&quot; ucapnya.

BACA JUGA:
Kredit BRI Tembus Rp1.202,13 Triliun, Mayoritas untuk UMKM


Belum lagi saat bulan Ramadhan yang membuat permintaan meningkat pesat. Sebab, dia bisa menjual 100 kilogram dalam satu hari.
Joko menjual olahan keripik tempenya sebesar Rp65.000 untuk ukuran  satu kilogram. Sementara itu, untuk kemasan 250 gram dibanderol  Rp20.000.
Dengan jerih payahnya,  Joko telah mempekerjakan enam orang karyawan  dan dibantu anak-anaknya dan istrinya dalam menjalankan usaha itu. Usaha  Joko dari 1982 yang diawali pengrajin tempe dan beralih usaha keripik  sudah dia rasakan nikmatnya.
Dia pun bersyukur karena dijadwalkan berangkat ke tanah suci untuk  menjalankan ibadah haji pada 2026. Itulah mimpinya yang bakal segera  terwujud sebentar lagi.
Melihat usaha yang dijalani Joko terlihat cukup menyenangkan karena  sudah memiliki pelanggan tetap dan berkembang pesat. Namun, sampai ke  titik ini bukan perkara mudah buatnya.

BACA JUGA:
BRI Gerakkan Ekonomi Lewat Pembiayaan dan Pemberdayaan UMKM


Oleh dikarenakan, usahanya pernah sedikit menurun saat pandemi  covid-19 yang membuat harga kedelai mahal saat itu. Namun, dengan  berbagai strategi bisnis membuatnya usaha bisa tetap bertahan.
&quot;Selama dua tahun saya alami penurunan. Usaha saya sempat menurun 20% penjualan. Itu dampak pandemi,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
