<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tips Milenial dan Gen Z Melek Keuangan</title><description>Tips milenial dan gen Z melek keuangan. Sebagian milenial dan gen z juga  masih sulit mengatur keuangannya sesuai skala prioritas.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/09/07/622/2878676/tips-milenial-dan-gen-z-melek-keuangan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/09/07/622/2878676/tips-milenial-dan-gen-z-melek-keuangan"/><item><title>Tips Milenial dan Gen Z Melek Keuangan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/09/07/622/2878676/tips-milenial-dan-gen-z-melek-keuangan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/09/07/622/2878676/tips-milenial-dan-gen-z-melek-keuangan</guid><pubDate>Kamis 07 September 2023 11:56 WIB</pubDate><dc:creator>Kharisma Rizkika Rahmawati</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/09/07/622/2878676/tips-milenial-dan-gen-z-melek-keuangan-gQRRvduqWc.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Tips milenial dan gen z mengatur keuangan (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/09/07/622/2878676/tips-milenial-dan-gen-z-melek-keuangan-gQRRvduqWc.jpeg</image><title>Tips milenial dan gen z mengatur keuangan (Foto: Shutterstock)</title></images><description>


JAKARTA -  Tips milenial dan gen Z melek keuangan. Sebagian milenial dan gen z juga masih sulit mengatur keuangannya sesuai skala prioritas. Keberhasilan mengelola keuangan sendiri sangat ditentukan oleh kedisiplinan dalam menjaga konsistensi gaya hidup hemat dan juga cerdas.
Hidup hemat bukan berarti menekan pengeluaran sehingga tidak memperhatikan kualitas, tetapi mengatur pengeluaran sesuai kebutuhan dan seimbang dengan penghasilan. Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Aman Santosa menilai, literasi keuangan menjadi suatu hal yang penting agar para milenial dan gen z saat ini dapat mengedepankan kebutuhan dibanding keinginan.

BACA JUGA:
Daftar 5 Kesalahan Finansial yang Sering Dilakukan Milenial

&amp;ldquo;Jadi prinsipnya kalau kita sudah suka membeli yang tidak diperlukan, kalau membeli sesuatu yang tidak produktif, siap-siap lah tidak membeli barang barang yang dibutuhkan sebelumnya,&amp;rdquo; ujar Aman dalam kegiatan Financial Literacy Roadshow bertema &amp;ldquo;Visi Indonesia Emas 2045: Milenial Melek Keuangan, Cari Cuan dan Aman&amp;rdquo;, dikutip Kamis (7/9/2023).
Dalam pengelolaan keuangan, lanjutnya, milenial dan gen z perlu memerhatikan hal-hal yang penting dalam memilih produk dan layanan jasa keuangan untuk mengelola manajemen keuangannya. &quot;Kenali produknya, pahami fiturnya, manfaat dan risikonya, pahami hak dan kewajiban sebagai konsumen, termasuk mekanisme perlindungan konsumennya,&quot; tegasnya.

BACA JUGA:
6 Fakta Backlog Rumah hingga Usul KPR Khusus Milenial

Lebih lanjut, para milenial dan gen z juga perlu memperhatikan barang-barang apa saja yang memang dianggap penting untuk kebutuhan sebelum terlanjur melakukan transaksi pembelian terhadap barang tersebut. &amp;ldquo;Intinya kita ingin mengatakan wisdom (kebijaksanaan) yang kedua adalah teliti sebelum membeli, kita sebelum transaksi pahami betul-betul itu merupakan kebutuhan yang kita butuhkan,&amp;rdquo; ungkap Aman.
Hal terakhir yang dapat dilakukan dalam memilih produk ataupun layanan jasa keuangan adalah terkait dengan legalitasnya, apakah produk ataupun layanan tersebut diawasi oleh OJK atau tidak, dan bersifat legal atau ilegal. &amp;ldquo;Intinya yang legal itu berizin di OJK, yang tidak legal tidak berizin dari OJK, kalau tidak berizin hampir dipastikan bisa menyesatkan,&quot; paparnya.Sedangkan produk keuangan yang terdaftar di OJK, sudah tentu diawasi  dan mengikuti aturan main yang harus dipatuhi sehingga konsumen akan  relatif lebih aman. Untuk itu ia mengimbau, jangan sampai kaum milenial  terjerumus ke dalam lingkaran pinjol ilegal. Dirinya meminta agar dapat  membedakan mana pinjol yang legal dan ilegal di tengah menjamurnya  pinjol yang menyesatkan masyarakat.
Generasi milenial dan gen z memang dinilai sebagai generasi paling  adaptif terhadap perkembangan zaman. Salah satunya, tren penggunaan  paylater untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup seperti memesan  makanan, fashion hingga agen perjalanan. Apalagi, belakangan kaum  milenial dan gen z begitu dimanjakan dengan akses sektor finansial.
&amp;ldquo;Bayangkan saja dengan one click, mereka bisa melakukan apa saja  seperti memesan makanan hingga produk fashion dengan pay latter,&amp;rdquo; tambah  Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Teguh  Dartanto.
Ia mengungkapkan, layanan paylater uang saat ini hadir di berbagai  platform digital memberikan kemudahan. Apalagi proses pendaftarannya  relatif cepat dan pengajuannya mudah. &amp;ldquo;Pokoknya paylater itu dibuat  menyenangkan bagi masyarakat. Ini yang menyebabkan layanan satu ini  populer, termasuk di kalangan milenial dan gen z,&amp;rdquo; jelasnya.
Namun di satu sisi, penggunaan paylater yang berlebihan bisa menjadi  bumerang bagi penggunanya. Bagai pisau bermata dua. Alih-alih ingin  memudahkan beragam kebutuhan hidup justru bisa membelit masalah  finansial. &amp;ldquo;Kita tidak sengaja klik ini, klik itu tapi kan akhir bulan  hutangnya harus dibayar. Kalau tidak bisa dibayar bagaimana?,&amp;rdquo; bebernya.
Untuk itu, dirinya mewanti-wanti kaum muda untuk bijak dalam  menggunakan layanan paylater. Jangan sampai menimbulkan masalah keuangan  di kemudian hari. Pasalnya, hal tersebut bisa memberikan credit score  buruk bagi pengguna yang tercatat dalam BI Checking atau kini populer  dengan istilah Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).</description><content:encoded>


JAKARTA -  Tips milenial dan gen Z melek keuangan. Sebagian milenial dan gen z juga masih sulit mengatur keuangannya sesuai skala prioritas. Keberhasilan mengelola keuangan sendiri sangat ditentukan oleh kedisiplinan dalam menjaga konsistensi gaya hidup hemat dan juga cerdas.
Hidup hemat bukan berarti menekan pengeluaran sehingga tidak memperhatikan kualitas, tetapi mengatur pengeluaran sesuai kebutuhan dan seimbang dengan penghasilan. Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Aman Santosa menilai, literasi keuangan menjadi suatu hal yang penting agar para milenial dan gen z saat ini dapat mengedepankan kebutuhan dibanding keinginan.

BACA JUGA:
Daftar 5 Kesalahan Finansial yang Sering Dilakukan Milenial

&amp;ldquo;Jadi prinsipnya kalau kita sudah suka membeli yang tidak diperlukan, kalau membeli sesuatu yang tidak produktif, siap-siap lah tidak membeli barang barang yang dibutuhkan sebelumnya,&amp;rdquo; ujar Aman dalam kegiatan Financial Literacy Roadshow bertema &amp;ldquo;Visi Indonesia Emas 2045: Milenial Melek Keuangan, Cari Cuan dan Aman&amp;rdquo;, dikutip Kamis (7/9/2023).
Dalam pengelolaan keuangan, lanjutnya, milenial dan gen z perlu memerhatikan hal-hal yang penting dalam memilih produk dan layanan jasa keuangan untuk mengelola manajemen keuangannya. &quot;Kenali produknya, pahami fiturnya, manfaat dan risikonya, pahami hak dan kewajiban sebagai konsumen, termasuk mekanisme perlindungan konsumennya,&quot; tegasnya.

BACA JUGA:
6 Fakta Backlog Rumah hingga Usul KPR Khusus Milenial

Lebih lanjut, para milenial dan gen z juga perlu memperhatikan barang-barang apa saja yang memang dianggap penting untuk kebutuhan sebelum terlanjur melakukan transaksi pembelian terhadap barang tersebut. &amp;ldquo;Intinya kita ingin mengatakan wisdom (kebijaksanaan) yang kedua adalah teliti sebelum membeli, kita sebelum transaksi pahami betul-betul itu merupakan kebutuhan yang kita butuhkan,&amp;rdquo; ungkap Aman.
Hal terakhir yang dapat dilakukan dalam memilih produk ataupun layanan jasa keuangan adalah terkait dengan legalitasnya, apakah produk ataupun layanan tersebut diawasi oleh OJK atau tidak, dan bersifat legal atau ilegal. &amp;ldquo;Intinya yang legal itu berizin di OJK, yang tidak legal tidak berizin dari OJK, kalau tidak berizin hampir dipastikan bisa menyesatkan,&quot; paparnya.Sedangkan produk keuangan yang terdaftar di OJK, sudah tentu diawasi  dan mengikuti aturan main yang harus dipatuhi sehingga konsumen akan  relatif lebih aman. Untuk itu ia mengimbau, jangan sampai kaum milenial  terjerumus ke dalam lingkaran pinjol ilegal. Dirinya meminta agar dapat  membedakan mana pinjol yang legal dan ilegal di tengah menjamurnya  pinjol yang menyesatkan masyarakat.
Generasi milenial dan gen z memang dinilai sebagai generasi paling  adaptif terhadap perkembangan zaman. Salah satunya, tren penggunaan  paylater untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup seperti memesan  makanan, fashion hingga agen perjalanan. Apalagi, belakangan kaum  milenial dan gen z begitu dimanjakan dengan akses sektor finansial.
&amp;ldquo;Bayangkan saja dengan one click, mereka bisa melakukan apa saja  seperti memesan makanan hingga produk fashion dengan pay latter,&amp;rdquo; tambah  Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Teguh  Dartanto.
Ia mengungkapkan, layanan paylater uang saat ini hadir di berbagai  platform digital memberikan kemudahan. Apalagi proses pendaftarannya  relatif cepat dan pengajuannya mudah. &amp;ldquo;Pokoknya paylater itu dibuat  menyenangkan bagi masyarakat. Ini yang menyebabkan layanan satu ini  populer, termasuk di kalangan milenial dan gen z,&amp;rdquo; jelasnya.
Namun di satu sisi, penggunaan paylater yang berlebihan bisa menjadi  bumerang bagi penggunanya. Bagai pisau bermata dua. Alih-alih ingin  memudahkan beragam kebutuhan hidup justru bisa membelit masalah  finansial. &amp;ldquo;Kita tidak sengaja klik ini, klik itu tapi kan akhir bulan  hutangnya harus dibayar. Kalau tidak bisa dibayar bagaimana?,&amp;rdquo; bebernya.
Untuk itu, dirinya mewanti-wanti kaum muda untuk bijak dalam  menggunakan layanan paylater. Jangan sampai menimbulkan masalah keuangan  di kemudian hari. Pasalnya, hal tersebut bisa memberikan credit score  buruk bagi pengguna yang tercatat dalam BI Checking atau kini populer  dengan istilah Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).</content:encoded></item></channel></rss>
