<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jadi Biang Kerok Polusi Udara, Segini Emisi Kendaraan di Jakarta   </title><description>Kendaraan tentu menjadi biang kerok polusi udara dan sekitaranya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/09/09/320/2879970/jadi-biang-kerok-polusi-udara-segini-emisi-kendaraan-di-jakarta</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/09/09/320/2879970/jadi-biang-kerok-polusi-udara-segini-emisi-kendaraan-di-jakarta"/><item><title>Jadi Biang Kerok Polusi Udara, Segini Emisi Kendaraan di Jakarta   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/09/09/320/2879970/jadi-biang-kerok-polusi-udara-segini-emisi-kendaraan-di-jakarta</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/09/09/320/2879970/jadi-biang-kerok-polusi-udara-segini-emisi-kendaraan-di-jakarta</guid><pubDate>Sabtu 09 September 2023 12:57 WIB</pubDate><dc:creator>Azahra Kaulika Irawansyah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/09/09/320/2879970/jadi-biang-kerok-polusi-udara-segini-emisi-kendaraan-di-jakarta-5CvrX6tfOB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Segini Emisi yang Dikeluarkan Kendaraan di Jakarta. (Foto: Okezone.com/Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/09/09/320/2879970/jadi-biang-kerok-polusi-udara-segini-emisi-kendaraan-di-jakarta-5CvrX6tfOB.jpg</image><title>Segini Emisi yang Dikeluarkan Kendaraan di Jakarta. (Foto: Okezone.com/Antara)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8wOC8xLzE3MDM0OC81L3g4bnhxczc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;mdash; Kendaraan tentu menjadi biang kerok polusi udara dan sekitaranya. Pasalnya emisi yang dihasilkan kendaraan sangatlah besar.
Total emisi karbon dari kendaraan bermotor di Jakarta mencapai 81,17 juta kg CO2e menyusul tingginya jumlah penggunaan. Angka tersebut disampaikan oleh Institute for Development of Economics and Finance (Indef).

BACA JUGA:
Kendaraan Listrik Solusi Tekan Polusi Udara di Jakarta&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development Indef Abra Talattov mengatakan, dengan rata-rata konsumsi BBM di Jakarta untuk motor sebesar 0,92 liter per hari dan mobil 3,9 liter per hari, maka total konsumsi BBM di Jakarta bisa mencapai 17,8 juta liter per hari untuk seluruh populasi motor dan 16,2 juta liter per hari untuk seluruh populasi mobil.
&amp;ldquo;Apabila jumlah emisi karbon 1 liter BBM setara dengan 2,4 kg CO2e, artinya estimasi total emisi yang dihasilkan dari total populasi sepeda motor dan mobil penumpang di Jakarta mencapai 81,17 juta kg CO2e,&amp;rdquo; katanya, Sabtu (9/9/2023).

BACA JUGA:
 Pemprov DKI Klaim Generator Water Mist Berhasil Turunkan Polusi di Jakarta&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Masalahnya, kata Abra, dalam lima tahun terakhir populasi mobil penumpang di Jakarta mengalami peningkatan hingga 15,5% menjadi 4,13 juta kendaraan. Sementara populasi sepeda motor meningkat hngga 27,8% menjadi 19,22 juta kendaraan.&amp;ldquo;Menyadari besarnya emisi karbon yang dihasilkan kendaraan berbasis fosil tersebut sudah mestinya menjadi momentum transformasi menuju ekosistem transportasi yang bersih,&amp;rdquo; tambahnya.
Untuk itu, pemerintah agar fokus dalam menyediakan transportasi massal yang nyaman dan terjangkau.
&amp;ldquo;Ini untuk mengurangi emisi karbon dari penggunaan kendaraan pribadi,&amp;rdquo; ujarnya.
Menurutnya, tetap buruknya kualitas udara Jakarta meski PLTU Suralaya dalam posisi shutdown membuktikan bahwa sektor transportasi adalah penyumbang utama polutan di Jakarta.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8wOC8xLzE3MDM0OC81L3g4bnhxczc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;mdash; Kendaraan tentu menjadi biang kerok polusi udara dan sekitaranya. Pasalnya emisi yang dihasilkan kendaraan sangatlah besar.
Total emisi karbon dari kendaraan bermotor di Jakarta mencapai 81,17 juta kg CO2e menyusul tingginya jumlah penggunaan. Angka tersebut disampaikan oleh Institute for Development of Economics and Finance (Indef).

BACA JUGA:
Kendaraan Listrik Solusi Tekan Polusi Udara di Jakarta&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development Indef Abra Talattov mengatakan, dengan rata-rata konsumsi BBM di Jakarta untuk motor sebesar 0,92 liter per hari dan mobil 3,9 liter per hari, maka total konsumsi BBM di Jakarta bisa mencapai 17,8 juta liter per hari untuk seluruh populasi motor dan 16,2 juta liter per hari untuk seluruh populasi mobil.
&amp;ldquo;Apabila jumlah emisi karbon 1 liter BBM setara dengan 2,4 kg CO2e, artinya estimasi total emisi yang dihasilkan dari total populasi sepeda motor dan mobil penumpang di Jakarta mencapai 81,17 juta kg CO2e,&amp;rdquo; katanya, Sabtu (9/9/2023).

BACA JUGA:
 Pemprov DKI Klaim Generator Water Mist Berhasil Turunkan Polusi di Jakarta&amp;nbsp; &amp;nbsp;

Masalahnya, kata Abra, dalam lima tahun terakhir populasi mobil penumpang di Jakarta mengalami peningkatan hingga 15,5% menjadi 4,13 juta kendaraan. Sementara populasi sepeda motor meningkat hngga 27,8% menjadi 19,22 juta kendaraan.&amp;ldquo;Menyadari besarnya emisi karbon yang dihasilkan kendaraan berbasis fosil tersebut sudah mestinya menjadi momentum transformasi menuju ekosistem transportasi yang bersih,&amp;rdquo; tambahnya.
Untuk itu, pemerintah agar fokus dalam menyediakan transportasi massal yang nyaman dan terjangkau.
&amp;ldquo;Ini untuk mengurangi emisi karbon dari penggunaan kendaraan pribadi,&amp;rdquo; ujarnya.
Menurutnya, tetap buruknya kualitas udara Jakarta meski PLTU Suralaya dalam posisi shutdown membuktikan bahwa sektor transportasi adalah penyumbang utama polutan di Jakarta.</content:encoded></item></channel></rss>
