<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi China Melambat Jadi Sentimen IHSG Pekan Ini</title><description>Perlambatan ekonomi China menjadi sentiment IHSG pekan ini.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/09/11/278/2880789/ekonomi-china-melambat-jadi-sentimen-ihsg-pekan-ini</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/09/11/278/2880789/ekonomi-china-melambat-jadi-sentimen-ihsg-pekan-ini"/><item><title>Ekonomi China Melambat Jadi Sentimen IHSG Pekan Ini</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/09/11/278/2880789/ekonomi-china-melambat-jadi-sentimen-ihsg-pekan-ini</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/09/11/278/2880789/ekonomi-china-melambat-jadi-sentimen-ihsg-pekan-ini</guid><pubDate>Senin 11 September 2023 12:40 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/09/11/278/2880789/ekonomi-china-melambat-jadi-sentimen-ihsg-pekan-ini-3bgIHNSCjn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ekonomi China jadi sentimen IHSG pekan ini (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/09/11/278/2880789/ekonomi-china-melambat-jadi-sentimen-ihsg-pekan-ini-3bgIHNSCjn.jpg</image><title>Ekonomi China jadi sentimen IHSG pekan ini (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8wMi80LzE1OTk3OC81L3g4ajk5ZDk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Perlambatan ekonomi China menjadi sentiment IHSG pekan ini. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Dimas Krisna Ramadhani ada sejumlah sentimen yang mempengaruhi market pada minggu lalu.
Dimas menyebutkan ada tiga sentimen pada minggu lalu yakni Neraca dagang China, Pemangkasan produksi oleh OPEC+ dan Indeks FTSE low carbon. Terkait neraca dagang China, terangnya, data neraca dagang China sebagai partner dagang terbesar Indonesia ini mencatatkan surplus sebesar USD68,36 bio (&amp;lt;73,9 bio konsensusnya).

BACA JUGA:
IHSG Naik 0,19% ke Level 6.937 di Jeda Sesi I


&quot;Namun perlu dicatat surplus neraca perdagangan yang terjadi di China untuk Agustus ini merupakan surplus terkecil dalam 3 bulan terakhir (sejak Mei) yang disebabkan oleh penurunan ekspor yang lebih dalam dibanding impor dipicu oleh lemahnya permintaan dari dalam negeri maupun mitra dagang luar negeri China,&quot; jelas Dimas dalam analisisnya, Senin (11/9/2023).
Dimas menambahkan hal ini tidak terlepas dari kondisi ekonomi China yang saat ini sedang slowing down yang salah satunya disebabkan oleh melambatnya sektor properti yang menyumbang sekitar 20-30% GDP China (Evergrande dan Country Garden yang mengajukan perlindungan kebangkrutan dan gagal bayar kupon obligasi).

BACA JUGA:
IHSG Awal Pekan Dibuka Menguat ke 6.927


Sentimen kedua yakni pemangkasan produksi oleh OPEC+, dimana Arab saudi memangkas 1 juta barel/hari, Russia 300 ribu barel/hari hingga akhir tahun membuat harga minyak berjangka WTI naik dan sempat diperdagangkan di harga USD87 per barel dan merupakan level tertinggi sejak November.
&quot;Saham energi seperti MEDC dan AKRA naik signifikan dan memicu komoditas substitusi juga ikut naik seperti batu bara naik 1% sepanjang minggu lalu, seperti ADRO naik 7% sepanjang minggu lalu.
Sementara itu terkait Indeks FTSE low carbon, terang Dimas, impact ke GOTO karena masuknya GOTO ke indeks ESG global berarti sudah diakui dan lolos seleksi dari semua kriteria yang ada, ini suatu hal yang positif karena GOTO memiliki eksposur yang semakin luas secara global.
&quot;Harga saham GOTO terpantau menguat signifikan pada sesi I  perdagangan Kamis, 7 September 2023. Harga ditutup naik 5,49% ke Rp  96/saham. Nilai transaksi pun tembus Rp 370 miliar di sesi I,&quot; kata dia.
Adapun sektor yang menjadi top gainers pada minggu lalu yakni sektor  basic materials yang tertopang emiten AMMN yang naik 17% dan sektor  transport &amp;amp; logistic tertopang emiten GIAA yang naik signifikan 12%.
Sementara itu sektor yang menjadi top losers pada minggu lalu yakni  sektor properties &amp;amp; real estate karena bayang-bayang kenaikan suku  bunga The Fed dan sentimen negatif sektor properti China.
Sektor kedua yang jadi top loser minggu lalu yakni sektor consumers  non-cyc karena pelemahan pada saham-saham CPO yang disebabkan harga  komoditas CPO anjlok 5,2% dalam seminggu terakhir berada di level  MYR3.830 per ton. Ia menengarai hal ini dikarenakan persediaan minyak  sawit Malaysia pada akhir bulan Agustus kemungkinan melonjak ke level  tertinggi dalam enam bulan sebesar 1,89 juta ton karena produksi  meningkat dan ekspor melambat.
Adapun untuk potensi market pada minggu ini, Dimas mengimbau para  trader untuk memperhatikan tiga sentimen yang bakal menjadi katalis  IHSG. Tiga sentimen tersebut adalah inflasi Amerika, produksi industri  China dan neraca perdagangan Indonesia.
Inflasi AS pada Juli yang berada di level 3,2% YoY dan masih jauh  dari target yang ditetapkan yang berada di level 2%, terangnya, akan  sangat berpengaruh terhadap kebijakan suku bunga The Fed yang akan  ditentukan pada 21 September mendatang.
Terkait produksi industri China, dalam 4 bulan terakhir trend  cenderung menurun secara bulanan yang disebabkan kenaikan aktivitas  manufaktur yang lebih lambat. Ini mendukung data bahwa ekonomi China  memang sedang melambat dan tidak hanya terjadi pada sektor propertinya.
Menariknya, meski ekonomi China sedang melambat, dari dalam negeri  neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus dalam 39 bulan terakhir  dan diprediksi masih akan mencatatkan surplus yang disebabkan  peningkatan ekspor komoditas seperti nikel seiring harga komoditas  global yang masih tinggi.
Berkaca pada data-data ekonomi dan sejumlah sentimen di atas, Indo  Premier merekomendasikan 5 saham untuk trading pada minggu ini hingga 15  September 2023 yakni
Buy on Pullback BBNI (Support: 8.900, Resistance: 10.000),
Buy on Pullback GOTO (Support: 89, Resistance: 108),
Buy on Pullback MEDC (Support: 1.310, Resistance: 1.790),
Buy on Pullback PTPP (Support: 630, Resistance: 825)
dan Buy TPMA (Support: 555, Resistance: 700).</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8wMi80LzE1OTk3OC81L3g4ajk5ZDk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Perlambatan ekonomi China menjadi sentiment IHSG pekan ini. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Dimas Krisna Ramadhani ada sejumlah sentimen yang mempengaruhi market pada minggu lalu.
Dimas menyebutkan ada tiga sentimen pada minggu lalu yakni Neraca dagang China, Pemangkasan produksi oleh OPEC+ dan Indeks FTSE low carbon. Terkait neraca dagang China, terangnya, data neraca dagang China sebagai partner dagang terbesar Indonesia ini mencatatkan surplus sebesar USD68,36 bio (&amp;lt;73,9 bio konsensusnya).

BACA JUGA:
IHSG Naik 0,19% ke Level 6.937 di Jeda Sesi I


&quot;Namun perlu dicatat surplus neraca perdagangan yang terjadi di China untuk Agustus ini merupakan surplus terkecil dalam 3 bulan terakhir (sejak Mei) yang disebabkan oleh penurunan ekspor yang lebih dalam dibanding impor dipicu oleh lemahnya permintaan dari dalam negeri maupun mitra dagang luar negeri China,&quot; jelas Dimas dalam analisisnya, Senin (11/9/2023).
Dimas menambahkan hal ini tidak terlepas dari kondisi ekonomi China yang saat ini sedang slowing down yang salah satunya disebabkan oleh melambatnya sektor properti yang menyumbang sekitar 20-30% GDP China (Evergrande dan Country Garden yang mengajukan perlindungan kebangkrutan dan gagal bayar kupon obligasi).

BACA JUGA:
IHSG Awal Pekan Dibuka Menguat ke 6.927


Sentimen kedua yakni pemangkasan produksi oleh OPEC+, dimana Arab saudi memangkas 1 juta barel/hari, Russia 300 ribu barel/hari hingga akhir tahun membuat harga minyak berjangka WTI naik dan sempat diperdagangkan di harga USD87 per barel dan merupakan level tertinggi sejak November.
&quot;Saham energi seperti MEDC dan AKRA naik signifikan dan memicu komoditas substitusi juga ikut naik seperti batu bara naik 1% sepanjang minggu lalu, seperti ADRO naik 7% sepanjang minggu lalu.
Sementara itu terkait Indeks FTSE low carbon, terang Dimas, impact ke GOTO karena masuknya GOTO ke indeks ESG global berarti sudah diakui dan lolos seleksi dari semua kriteria yang ada, ini suatu hal yang positif karena GOTO memiliki eksposur yang semakin luas secara global.
&quot;Harga saham GOTO terpantau menguat signifikan pada sesi I  perdagangan Kamis, 7 September 2023. Harga ditutup naik 5,49% ke Rp  96/saham. Nilai transaksi pun tembus Rp 370 miliar di sesi I,&quot; kata dia.
Adapun sektor yang menjadi top gainers pada minggu lalu yakni sektor  basic materials yang tertopang emiten AMMN yang naik 17% dan sektor  transport &amp;amp; logistic tertopang emiten GIAA yang naik signifikan 12%.
Sementara itu sektor yang menjadi top losers pada minggu lalu yakni  sektor properties &amp;amp; real estate karena bayang-bayang kenaikan suku  bunga The Fed dan sentimen negatif sektor properti China.
Sektor kedua yang jadi top loser minggu lalu yakni sektor consumers  non-cyc karena pelemahan pada saham-saham CPO yang disebabkan harga  komoditas CPO anjlok 5,2% dalam seminggu terakhir berada di level  MYR3.830 per ton. Ia menengarai hal ini dikarenakan persediaan minyak  sawit Malaysia pada akhir bulan Agustus kemungkinan melonjak ke level  tertinggi dalam enam bulan sebesar 1,89 juta ton karena produksi  meningkat dan ekspor melambat.
Adapun untuk potensi market pada minggu ini, Dimas mengimbau para  trader untuk memperhatikan tiga sentimen yang bakal menjadi katalis  IHSG. Tiga sentimen tersebut adalah inflasi Amerika, produksi industri  China dan neraca perdagangan Indonesia.
Inflasi AS pada Juli yang berada di level 3,2% YoY dan masih jauh  dari target yang ditetapkan yang berada di level 2%, terangnya, akan  sangat berpengaruh terhadap kebijakan suku bunga The Fed yang akan  ditentukan pada 21 September mendatang.
Terkait produksi industri China, dalam 4 bulan terakhir trend  cenderung menurun secara bulanan yang disebabkan kenaikan aktivitas  manufaktur yang lebih lambat. Ini mendukung data bahwa ekonomi China  memang sedang melambat dan tidak hanya terjadi pada sektor propertinya.
Menariknya, meski ekonomi China sedang melambat, dari dalam negeri  neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus dalam 39 bulan terakhir  dan diprediksi masih akan mencatatkan surplus yang disebabkan  peningkatan ekspor komoditas seperti nikel seiring harga komoditas  global yang masih tinggi.
Berkaca pada data-data ekonomi dan sejumlah sentimen di atas, Indo  Premier merekomendasikan 5 saham untuk trading pada minggu ini hingga 15  September 2023 yakni
Buy on Pullback BBNI (Support: 8.900, Resistance: 10.000),
Buy on Pullback GOTO (Support: 89, Resistance: 108),
Buy on Pullback MEDC (Support: 1.310, Resistance: 1.790),
Buy on Pullback PTPP (Support: 630, Resistance: 825)
dan Buy TPMA (Support: 555, Resistance: 700).</content:encoded></item></channel></rss>
