<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Orang RI Lebih Senang Utang di Pinjol, Penerbitan Kartu Kredit Anjlok</title><description>Orang Indonesia lebih senang utang di pinjol atau pinjaman online). Hal ini memicu penerbitan kartu kredit menurun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/09/11/320/2881080/orang-ri-lebih-senang-utang-di-pinjol-penerbitan-kartu-kredit-anjlok</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/09/11/320/2881080/orang-ri-lebih-senang-utang-di-pinjol-penerbitan-kartu-kredit-anjlok"/><item><title>Orang RI Lebih Senang Utang di Pinjol, Penerbitan Kartu Kredit Anjlok</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/09/11/320/2881080/orang-ri-lebih-senang-utang-di-pinjol-penerbitan-kartu-kredit-anjlok</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/09/11/320/2881080/orang-ri-lebih-senang-utang-di-pinjol-penerbitan-kartu-kredit-anjlok</guid><pubDate>Senin 11 September 2023 18:01 WIB</pubDate><dc:creator> Ikhsan Permana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/09/11/320/2881080/orang-ri-lebih-senang-utang-di-pinjol-penerbitan-kartu-kredit-anjlok-ymoEeG1k4G.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Penerbitan kartu kredit turun karena pinjol (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/09/11/320/2881080/orang-ri-lebih-senang-utang-di-pinjol-penerbitan-kartu-kredit-anjlok-ymoEeG1k4G.jpg</image><title>Penerbitan kartu kredit turun karena pinjol (Foto: Reuters)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8xMS8xLzE2OTEwMS81L3g4bjVrbWo=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Orang Indonesia lebih senang utang di pinjol atau pinjaman online). Hal ini memicu penerbitan kartu kredit menurun.
Peneliti Center of Digital Economy and SMEs Indef Nailul Huda mengungkapkan, perubahan teknologi telah mengubah pola penyaluran pinjaman dari yang tadinya menggunakan kartu kredit beralih ke pinjaman Online.

BACA JUGA:
Terungkap Fakta! Peningkatan Transaksi Pinjol Berkaitan dengan Judi Online


Hal tersebut dapat dilihat dari anjloknya angka penerbitan kartu kredit. Dari mulai tahun 2020 hingga tahun 2022, pertumbuhan penerbitan kartu kredit rata-rata hanya mencapai 0,8%.
Di sisi lain pertumbuhan pinjaman online mencapai 71% pada Desember 2022 dan 18% hingga Juli 2023. Hal itu yang mengindikasikan adanya perpindahan pengguna kartu kredit ke pinjol
&quot;Ini yang menyebabkan akhirnya mungkin dari kartu kredit ini dia bisa pindah ke pinjaman online, karena kalau kita lihat dari penyaluran pinjaman online secara bulanan di Tahun 2022 itu meningkat relatif tajam,&quot; ungkap Huda dalam Diskusi Publik &quot;Bahaya Pinjaman Online Bagi Penduduk Usia Muda&quot; yang dipantau secara daring, Senin (11/9/2023).

BACA JUGA:
Heboh 58 Mahasiswa UMY Terjerat Pinjol demi Gaya Hidup, Rektor: Ini Bukan Pinjaman tapi Merampok!


Berdasarkan data tersebut, Huda menilai ada perpindahan masyarakat yang tidak bisa mengajukan pinjaman atau tidak bisa menerbitkan kartu kredit mereka akhirnya beralih ke pinjol.
Hal tersebut juga diperkuat oleh data dari Otoritas Jasa Keuangan yang mengungkapkan bahwa jumlah kantor cabang bank setiap tahun mengalami penurunan, hingga saat ini jumlahnya hanya sekitar 30 ribu kantor cabang bank yang tersebar di seluruh Indonesia.
&quot;Kalau kita lihat orang juga sudah cenderung males pergi ke cabang  perbankan. Di mana mungkin kalau yang dia lebih dari dua kali pergi ke  cabang bank itu dari 10 orang cuma 3 orang, jadi sekitar 30% saja,&quot;  imbuhnya.
Adapun 70% sisanya menurut Huda lebih senang menggunakan online banking maupun mobile apps.
&quot;Penggunaan mobile banking itu juga cukup tinggi di mana Indonesia  itu 44% dengan yang paling adaptif itu berada di rentang umur 34 sampai  20 tahun,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8xMS8xLzE2OTEwMS81L3g4bjVrbWo=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Orang Indonesia lebih senang utang di pinjol atau pinjaman online). Hal ini memicu penerbitan kartu kredit menurun.
Peneliti Center of Digital Economy and SMEs Indef Nailul Huda mengungkapkan, perubahan teknologi telah mengubah pola penyaluran pinjaman dari yang tadinya menggunakan kartu kredit beralih ke pinjaman Online.

BACA JUGA:
Terungkap Fakta! Peningkatan Transaksi Pinjol Berkaitan dengan Judi Online


Hal tersebut dapat dilihat dari anjloknya angka penerbitan kartu kredit. Dari mulai tahun 2020 hingga tahun 2022, pertumbuhan penerbitan kartu kredit rata-rata hanya mencapai 0,8%.
Di sisi lain pertumbuhan pinjaman online mencapai 71% pada Desember 2022 dan 18% hingga Juli 2023. Hal itu yang mengindikasikan adanya perpindahan pengguna kartu kredit ke pinjol
&quot;Ini yang menyebabkan akhirnya mungkin dari kartu kredit ini dia bisa pindah ke pinjaman online, karena kalau kita lihat dari penyaluran pinjaman online secara bulanan di Tahun 2022 itu meningkat relatif tajam,&quot; ungkap Huda dalam Diskusi Publik &quot;Bahaya Pinjaman Online Bagi Penduduk Usia Muda&quot; yang dipantau secara daring, Senin (11/9/2023).

BACA JUGA:
Heboh 58 Mahasiswa UMY Terjerat Pinjol demi Gaya Hidup, Rektor: Ini Bukan Pinjaman tapi Merampok!


Berdasarkan data tersebut, Huda menilai ada perpindahan masyarakat yang tidak bisa mengajukan pinjaman atau tidak bisa menerbitkan kartu kredit mereka akhirnya beralih ke pinjol.
Hal tersebut juga diperkuat oleh data dari Otoritas Jasa Keuangan yang mengungkapkan bahwa jumlah kantor cabang bank setiap tahun mengalami penurunan, hingga saat ini jumlahnya hanya sekitar 30 ribu kantor cabang bank yang tersebar di seluruh Indonesia.
&quot;Kalau kita lihat orang juga sudah cenderung males pergi ke cabang  perbankan. Di mana mungkin kalau yang dia lebih dari dua kali pergi ke  cabang bank itu dari 10 orang cuma 3 orang, jadi sekitar 30% saja,&quot;  imbuhnya.
Adapun 70% sisanya menurut Huda lebih senang menggunakan online banking maupun mobile apps.
&quot;Penggunaan mobile banking itu juga cukup tinggi di mana Indonesia  itu 44% dengan yang paling adaptif itu berada di rentang umur 34 sampai  20 tahun,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
