<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Endi Apendi Bikin Cuan 96 Petani dari Klaster Kebon Sayur</title><description>Kisah Endi Apendi bikin cuan 96 petani dari Klaster Kebon Sayur (Bonsay).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/09/11/455/2881122/kisah-endi-apendi-bikin-cuan-96-petani-dari-klaster-kebon-sayur</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/09/11/455/2881122/kisah-endi-apendi-bikin-cuan-96-petani-dari-klaster-kebon-sayur"/><item><title>Kisah Endi Apendi Bikin Cuan 96 Petani dari Klaster Kebon Sayur</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/09/11/455/2881122/kisah-endi-apendi-bikin-cuan-96-petani-dari-klaster-kebon-sayur</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/09/11/455/2881122/kisah-endi-apendi-bikin-cuan-96-petani-dari-klaster-kebon-sayur</guid><pubDate>Senin 11 September 2023 19:00 WIB</pubDate><dc:creator>Andri Bagus Syaeful </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/09/11/455/2881122/kisah-endi-apendi-bikin-cuan-96-petani-dari-klaster-kebon-sayur-tby38JZrW4.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kisah Endi Apendi bikin cuan 96 petani sayur (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/09/11/455/2881122/kisah-endi-apendi-bikin-cuan-96-petani-dari-klaster-kebon-sayur-tby38JZrW4.jpg</image><title>Kisah Endi Apendi bikin cuan 96 petani sayur (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8wNS80LzE3MDE2Mi81L3g4bnFtOWw=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Kisah Endi Apendi bikin cuan 96 petani dari Klaster Kebon Sayur (Bonsay). Bisnis sektor pertanian sayuran-sayuran bisa menjanjikan jika terkelola dengan baik.
Pasalnya, permintaan pasar terhadap kebutuhan sayur-sayuran cukup tinggi setiap harinya. Hal tersbeut menjadikan Endi Apendi tergerak menyatukan petani-petani sayur di Kampung Bubulak, Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

BACA JUGA:
Segudang Manfaat Jadi Agen BRILink, Makin Memudahkan Nasabah


Dia ingin agar sektor pertanian di sana terkelola dengan baik mulai dari pembibitan sampai penjualan. Sebab, potensi sektor pertanian di sana harus dimaksimalkan dengan hal tersebut.
Kisah ini bermula pada 2013, Endi berinisiatif mendirikan Kelompok/klaster Bonsay. Sebab, dengan adanya kelompok pun lebih memudahkan jika mendapatkan berbagai pembinaan dan bantuan dari pemerintah.

BACA JUGA:
BRI Bekali Proteksi Keamanan bagi Para Agen BRILink 


&quot;Ini inisiatif saya. Awalnya hanya beberapa pemuda, masyarakat dan tokoh agama yang tergabung dalam kelompok tani bonsay. Kelompok itu sebagai wadah para petani di Kampung Bubulak,&quot; ucap Endi kepada Okezone.com.
Endi yang juga menjabat sebagai ketua rukun warga (RT) ini pun juga merupakan petani. Jadi, dengan adanya kelompok tani itu akan saling melengkapi karena berbeda-beda hasil pertaniannya.
Dengan kegigihannya, geliat perekonomian di sana pun turut terbangun dengan adanya kelompok tani itu. Itu ditandai sektor pertanian di sana makin besar peminatnya yang merupakan dampak nyata kehadiran kelompok tani bonsay.
Sayur-sayuran yang dihasilkan di sana di antaranya, kangkung,  kemangi, singkong, bayem. Dalam setiap harinya klaster bonsay bisa  mengirim 15 ton sayuran ke berbagai pasar di Jabodetabek untuk memenuhi  permintaan.
&quot;Setiap hari panen dan langsung dikirim-kirim ke pasar di Jabodetabek,&quot; katanya.
Melihat geliat-geliat usaha itu memang cukup menggiurkan karena  setiap harinya ada transaksi dan sudah punya pelanggan tepat. Sayangnya  bisnis ini terkadang dihadapkan oleh persoalan hama yang kerap membuat  gagal panen.
&quot;Gagal panen menjadi tantangan buat para petani. Namun, kami harus bangkit lagi agar geliat pertanian berjalan,&quot; ujarnya.
Di sisi lain, terkadang modal pun menjadi kendala buat para petani  mengembangkan usaha agar lebih besar lagi. Oleh karena itu, anggotanya  sudah ada yang memanfaatkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI untuk  keperluan usaha.
&quot;Ada anggota yang sudah manfaat KUR atas nama pribadi. Namun, saya  harapkan KUR bisa menggunakan nama klaster agar lebih maksimal  penyaluran bantuan kepada anggota agar merata,&quot; ujarnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8wNS80LzE3MDE2Mi81L3g4bnFtOWw=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Kisah Endi Apendi bikin cuan 96 petani dari Klaster Kebon Sayur (Bonsay). Bisnis sektor pertanian sayuran-sayuran bisa menjanjikan jika terkelola dengan baik.
Pasalnya, permintaan pasar terhadap kebutuhan sayur-sayuran cukup tinggi setiap harinya. Hal tersbeut menjadikan Endi Apendi tergerak menyatukan petani-petani sayur di Kampung Bubulak, Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

BACA JUGA:
Segudang Manfaat Jadi Agen BRILink, Makin Memudahkan Nasabah


Dia ingin agar sektor pertanian di sana terkelola dengan baik mulai dari pembibitan sampai penjualan. Sebab, potensi sektor pertanian di sana harus dimaksimalkan dengan hal tersebut.
Kisah ini bermula pada 2013, Endi berinisiatif mendirikan Kelompok/klaster Bonsay. Sebab, dengan adanya kelompok pun lebih memudahkan jika mendapatkan berbagai pembinaan dan bantuan dari pemerintah.

BACA JUGA:
BRI Bekali Proteksi Keamanan bagi Para Agen BRILink 


&quot;Ini inisiatif saya. Awalnya hanya beberapa pemuda, masyarakat dan tokoh agama yang tergabung dalam kelompok tani bonsay. Kelompok itu sebagai wadah para petani di Kampung Bubulak,&quot; ucap Endi kepada Okezone.com.
Endi yang juga menjabat sebagai ketua rukun warga (RT) ini pun juga merupakan petani. Jadi, dengan adanya kelompok tani itu akan saling melengkapi karena berbeda-beda hasil pertaniannya.
Dengan kegigihannya, geliat perekonomian di sana pun turut terbangun dengan adanya kelompok tani itu. Itu ditandai sektor pertanian di sana makin besar peminatnya yang merupakan dampak nyata kehadiran kelompok tani bonsay.
Sayur-sayuran yang dihasilkan di sana di antaranya, kangkung,  kemangi, singkong, bayem. Dalam setiap harinya klaster bonsay bisa  mengirim 15 ton sayuran ke berbagai pasar di Jabodetabek untuk memenuhi  permintaan.
&quot;Setiap hari panen dan langsung dikirim-kirim ke pasar di Jabodetabek,&quot; katanya.
Melihat geliat-geliat usaha itu memang cukup menggiurkan karena  setiap harinya ada transaksi dan sudah punya pelanggan tepat. Sayangnya  bisnis ini terkadang dihadapkan oleh persoalan hama yang kerap membuat  gagal panen.
&quot;Gagal panen menjadi tantangan buat para petani. Namun, kami harus bangkit lagi agar geliat pertanian berjalan,&quot; ujarnya.
Di sisi lain, terkadang modal pun menjadi kendala buat para petani  mengembangkan usaha agar lebih besar lagi. Oleh karena itu, anggotanya  sudah ada yang memanfaatkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI untuk  keperluan usaha.
&quot;Ada anggota yang sudah manfaat KUR atas nama pribadi. Namun, saya  harapkan KUR bisa menggunakan nama klaster agar lebih maksimal  penyaluran bantuan kepada anggota agar merata,&quot; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
