<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BI Naikkan Insentif Likuiditas hingga Rp156 Triliun, Berlaku 1 Oktober 2023</title><description>BI mendorong pertumbuhan kredit dan pembiayaan Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/09/13/320/2882321/bi-naikkan-insentif-likuiditas-hingga-rp156-triliun-berlaku-1-oktober-2023</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/09/13/320/2882321/bi-naikkan-insentif-likuiditas-hingga-rp156-triliun-berlaku-1-oktober-2023"/><item><title>BI Naikkan Insentif Likuiditas hingga Rp156 Triliun, Berlaku 1 Oktober 2023</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/09/13/320/2882321/bi-naikkan-insentif-likuiditas-hingga-rp156-triliun-berlaku-1-oktober-2023</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/09/13/320/2882321/bi-naikkan-insentif-likuiditas-hingga-rp156-triliun-berlaku-1-oktober-2023</guid><pubDate>Rabu 13 September 2023 15:52 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/09/13/320/2882321/bi-naikkan-insentif-likuiditas-hingga-rp156-triliun-berlaku-1-oktober-2023-qyWAAisZJ9.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bank Indonesia Naikkan Insentif Likuiditas. (Foto: BI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/09/13/320/2882321/bi-naikkan-insentif-likuiditas-hingga-rp156-triliun-berlaku-1-oktober-2023-qyWAAisZJ9.jpg</image><title>Bank Indonesia Naikkan Insentif Likuiditas. (Foto: BI)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8xMC80LzE3MDQzMy81L3g4bnoyN2Y=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mendorong pertumbuhan kredit dan pembiayaan Indonesia.
Adapun upaya ini ditempuh dengan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM), di mana BI tahun ini akan menaikkan insentif tersebut menjadi 4% mulai 1 Oktober 2023 mendatang.

BACA JUGA:
Minta Restu DPR, Sri Mulyani Kucurkan PMN Rp28,1 Triliun ke 3 BUMN

&quot;Jadi, totalnya insentif KLM ini kira-kira mencapai Rp156 triliun untuk mendorong perekonomian Indonesia,&quot; ujar Deputi Gubernur BI Juda Agung dalam Seminar Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), Insentif untuk Kredit/Pembiayaan Sektor Hilirisasi di Jakarta, Rabu (13/9/2023).
Kebijakan insentif ini juga ditujukan untuk menguatkan stimulus kredit perbankan, sehingga keberadaan KLM ini diharapkan bisa memberikan daya ungkit terhadap pertumbuhan ekonomi RI sembari menjaga momentum pemulihan ekonomi.

BACA JUGA:
WTP 7 Kali, Sri Mulyani: Laporan Keuangan Negara Tetap Sehat

&quot;Penyaluran kredit ini diberikan terhadap sejumlah sektor prioritas, seperti hilirisasi minerba dan non minerba yang mencakup pertanian, perikanan, peternakan, perumahan, pariwisata, dan pembiayaan inklusif termasuk UMKM dan ultra mikro serta green financing,&quot; ungkap Juda.Juda menyebut, sektor-sektor ini diprioritaskan salah satunya demi menjaga dan membangun ketahanan pangan nasional. Selain itu, dari sektor-sektor tersebut, masih ada sejumlah sektor yang masih memerlukan bantuan untuk pulih dari dampak pandemi lalu.
&quot;Ini juga mendukung pembiayaan inklusif dan hijau, khususnya untuk UMKM, ultra mikro, dan sektor terkait lingkungan lainnya,&quot; tambah Juda.
BI berharap dengan adanya kenaikan insentif ini, sumber-sumber pertumbuhan ekonomi domestik bisa menjadi lebih kuat. &quot;Terlebih dalam menghadapi sejumlah tantangan global seperti pelemahan ekonomi dan tingginya inflasi global,&quot; tandasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8xMC80LzE3MDQzMy81L3g4bnoyN2Y=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mendorong pertumbuhan kredit dan pembiayaan Indonesia.
Adapun upaya ini ditempuh dengan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM), di mana BI tahun ini akan menaikkan insentif tersebut menjadi 4% mulai 1 Oktober 2023 mendatang.

BACA JUGA:
Minta Restu DPR, Sri Mulyani Kucurkan PMN Rp28,1 Triliun ke 3 BUMN

&quot;Jadi, totalnya insentif KLM ini kira-kira mencapai Rp156 triliun untuk mendorong perekonomian Indonesia,&quot; ujar Deputi Gubernur BI Juda Agung dalam Seminar Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), Insentif untuk Kredit/Pembiayaan Sektor Hilirisasi di Jakarta, Rabu (13/9/2023).
Kebijakan insentif ini juga ditujukan untuk menguatkan stimulus kredit perbankan, sehingga keberadaan KLM ini diharapkan bisa memberikan daya ungkit terhadap pertumbuhan ekonomi RI sembari menjaga momentum pemulihan ekonomi.

BACA JUGA:
WTP 7 Kali, Sri Mulyani: Laporan Keuangan Negara Tetap Sehat

&quot;Penyaluran kredit ini diberikan terhadap sejumlah sektor prioritas, seperti hilirisasi minerba dan non minerba yang mencakup pertanian, perikanan, peternakan, perumahan, pariwisata, dan pembiayaan inklusif termasuk UMKM dan ultra mikro serta green financing,&quot; ungkap Juda.Juda menyebut, sektor-sektor ini diprioritaskan salah satunya demi menjaga dan membangun ketahanan pangan nasional. Selain itu, dari sektor-sektor tersebut, masih ada sejumlah sektor yang masih memerlukan bantuan untuk pulih dari dampak pandemi lalu.
&quot;Ini juga mendukung pembiayaan inklusif dan hijau, khususnya untuk UMKM, ultra mikro, dan sektor terkait lingkungan lainnya,&quot; tambah Juda.
BI berharap dengan adanya kenaikan insentif ini, sumber-sumber pertumbuhan ekonomi domestik bisa menjadi lebih kuat. &quot;Terlebih dalam menghadapi sejumlah tantangan global seperti pelemahan ekonomi dan tingginya inflasi global,&quot; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
