<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sulap Limbah Sawit, RI-Malaysia Kembangkan Compressed Biomethane Gas</title><description>Indonesia dan Malaysia mengembangkan Compressed Biomethane Gas (CBG).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/09/14/455/2882643/sulap-limbah-sawit-ri-malaysia-kembangkan-compressed-biomethane-gas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/09/14/455/2882643/sulap-limbah-sawit-ri-malaysia-kembangkan-compressed-biomethane-gas"/><item><title>Sulap Limbah Sawit, RI-Malaysia Kembangkan Compressed Biomethane Gas</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/09/14/455/2882643/sulap-limbah-sawit-ri-malaysia-kembangkan-compressed-biomethane-gas</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/09/14/455/2882643/sulap-limbah-sawit-ri-malaysia-kembangkan-compressed-biomethane-gas</guid><pubDate>Kamis 14 September 2023 07:53 WIB</pubDate><dc:creator>Nasya Emmanuela Lilipaly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/09/14/455/2882643/sulap-limbah-sawit-ri-malaysia-kembangkan-compressed-biomethane-gas-9QkhNJTTYt.jpg" expression="full" type="image/jpeg">RI-Malaysia kerjasama olah limbah kelapa sawit (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/09/14/455/2882643/sulap-limbah-sawit-ri-malaysia-kembangkan-compressed-biomethane-gas-9QkhNJTTYt.jpg</image><title>RI-Malaysia kerjasama olah limbah kelapa sawit (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8wMy8xLzE2ODcwMS81L3g4bXo3MHA=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Indonesia dan Malaysia mengembangkan Compressed Biomethane Gas (CBG). Pengembangan ini melalui Holding Perkebunan Nusantara melalui melalui anak usahanya, yakni PTPN IV yang menjalin kemitraan bersama reNIKOLA SDN BHD, salah satu perusahaan energi terbarukan asal Malaysia.
Kerja sama ini dilakukan dalam rangka mengakselerasi implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG) di PTPN Group. Kemitraan ini tertuang dalam nota kesepahaman bersama atau Memorandum of  Understanding (MoU) yang ditandatangani oleh Direktur PTPN IV Sucipto Prayitno  dan Direktur reNIKOLA SDN BHD, Lim Beng Guan.

BACA JUGA:
PalmCo Jadi Peluang PTPN Revitalisasi dan Optimalisasi Lahan Sawit


Dalam kerja sama ini, pengembangan CBG dari limbah cair hasil pengolahan kelapa sawit (POME) yang akan dilakukan oleh PTPN IV dan reNIKOLA berfokus terhadap empat pabrik kelapa sawit (PKS) milik PTPN IV, yakni PKS Tinjowan, PKS Pulu Raja, PKS Dolok Sinumbah dan PKS Pabatu, yang berlokasi di Sumatera Utara.
Direktur PTPN IV Sucipto Prayitno menyampaikan, bahwa kerja sama tersebut merupakan inisiatif PTPN IV sebagai salah satu anak usaha PTPN III (Persero) yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit.

BACA JUGA:
PTPN VII Buka Lowongan Kerja Terbaru 2023, Ini Syarat hingga Cara Mendaftarnya


Menurutnya, kerja sama ini selaras dengan roadmap pengurangan Gas Rumah Kaca (GRK) yang dicanangkan PTPN Group untuk melakukan pengurangan emisi dalam Business As Usual (BAU) kegiatan perkebunan.
&amp;ldquo;Ini juga mendukung program pemerintah terhadap upaya menurunkan emisi GRK 29% dari (kemampuan sendiri) atau 41% (dengan bantuan internasional) pada 2030 sesuai NDC (Nationally Determined Contribution),&amp;rdquo; ujar Sucipto dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (14/9/2023).
Sementara itu, Direktur reNIKOLA SDN BHD Lim Beng Guan menyampaikan,  saat ini pihaknya tengah berkomitmen dalam penurunan emisi karbon dunia  (dekarbonisasi) dengan salah satu fokusnya adalah melakukan pengembangan  CBG melalui pemanfaatan limbah cair pengolahan kelapa sawit (POME)  menjadi sesuatu yang lebih bernilai dan dapat dimanfaatkan.
&quot;Kami menargetkan 50 proyek CBG di Indonesia dengan estimasi biaya  USD300 juta dan berharap dapat berkolaborasi dengan PTPN Group,&amp;rdquo; ungkap  Lim.
Sementara itu, Direktur Pemasaran Holding Perkebunan Nusantara PTPN  III  Dwi Sutoro, mengatakan, rencana kerja sama antara PTPN IV dan  reNIKOLA sejalan dengan rencana penurunan emisi karbon PTPN Group.
&amp;ldquo;Kehadiran reNIKOLA sebagai mitra kerja sama pengembangan CBG dengan  memanfaatkan limbah cair pengolahan kelapa sawit (POME) menjadi hal yang  bernilai ekonomis, khususnya di PTPN IV, adalah sesuatu yang baik. Ini  diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi PTPN Group maupun  reNIKOLA,&amp;rdquo; katanya.
Dwi berharap, agar ke depan pengembangan EBT di Indonesia mendapatkan  dukungan yang lebih dari pemerintah, sehingga dapat menarik minat calon  investor untuk mengembangkan EBT di Indonesia.
&quot;Tentunya untuk mewujudkan terpenuhinya kebutuhan energi nasional di masa kini dan nanti,&amp;rdquo; ucapnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8wMy8xLzE2ODcwMS81L3g4bXo3MHA=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Indonesia dan Malaysia mengembangkan Compressed Biomethane Gas (CBG). Pengembangan ini melalui Holding Perkebunan Nusantara melalui melalui anak usahanya, yakni PTPN IV yang menjalin kemitraan bersama reNIKOLA SDN BHD, salah satu perusahaan energi terbarukan asal Malaysia.
Kerja sama ini dilakukan dalam rangka mengakselerasi implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG) di PTPN Group. Kemitraan ini tertuang dalam nota kesepahaman bersama atau Memorandum of  Understanding (MoU) yang ditandatangani oleh Direktur PTPN IV Sucipto Prayitno  dan Direktur reNIKOLA SDN BHD, Lim Beng Guan.

BACA JUGA:
PalmCo Jadi Peluang PTPN Revitalisasi dan Optimalisasi Lahan Sawit


Dalam kerja sama ini, pengembangan CBG dari limbah cair hasil pengolahan kelapa sawit (POME) yang akan dilakukan oleh PTPN IV dan reNIKOLA berfokus terhadap empat pabrik kelapa sawit (PKS) milik PTPN IV, yakni PKS Tinjowan, PKS Pulu Raja, PKS Dolok Sinumbah dan PKS Pabatu, yang berlokasi di Sumatera Utara.
Direktur PTPN IV Sucipto Prayitno menyampaikan, bahwa kerja sama tersebut merupakan inisiatif PTPN IV sebagai salah satu anak usaha PTPN III (Persero) yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit.

BACA JUGA:
PTPN VII Buka Lowongan Kerja Terbaru 2023, Ini Syarat hingga Cara Mendaftarnya


Menurutnya, kerja sama ini selaras dengan roadmap pengurangan Gas Rumah Kaca (GRK) yang dicanangkan PTPN Group untuk melakukan pengurangan emisi dalam Business As Usual (BAU) kegiatan perkebunan.
&amp;ldquo;Ini juga mendukung program pemerintah terhadap upaya menurunkan emisi GRK 29% dari (kemampuan sendiri) atau 41% (dengan bantuan internasional) pada 2030 sesuai NDC (Nationally Determined Contribution),&amp;rdquo; ujar Sucipto dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (14/9/2023).
Sementara itu, Direktur reNIKOLA SDN BHD Lim Beng Guan menyampaikan,  saat ini pihaknya tengah berkomitmen dalam penurunan emisi karbon dunia  (dekarbonisasi) dengan salah satu fokusnya adalah melakukan pengembangan  CBG melalui pemanfaatan limbah cair pengolahan kelapa sawit (POME)  menjadi sesuatu yang lebih bernilai dan dapat dimanfaatkan.
&quot;Kami menargetkan 50 proyek CBG di Indonesia dengan estimasi biaya  USD300 juta dan berharap dapat berkolaborasi dengan PTPN Group,&amp;rdquo; ungkap  Lim.
Sementara itu, Direktur Pemasaran Holding Perkebunan Nusantara PTPN  III  Dwi Sutoro, mengatakan, rencana kerja sama antara PTPN IV dan  reNIKOLA sejalan dengan rencana penurunan emisi karbon PTPN Group.
&amp;ldquo;Kehadiran reNIKOLA sebagai mitra kerja sama pengembangan CBG dengan  memanfaatkan limbah cair pengolahan kelapa sawit (POME) menjadi hal yang  bernilai ekonomis, khususnya di PTPN IV, adalah sesuatu yang baik. Ini  diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi PTPN Group maupun  reNIKOLA,&amp;rdquo; katanya.
Dwi berharap, agar ke depan pengembangan EBT di Indonesia mendapatkan  dukungan yang lebih dari pemerintah, sehingga dapat menarik minat calon  investor untuk mengembangkan EBT di Indonesia.
&quot;Tentunya untuk mewujudkan terpenuhinya kebutuhan energi nasional di masa kini dan nanti,&amp;rdquo; ucapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
