<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Harga Beras RI Lebih Mahal dari Negara Tetangga, Kok Bisa?</title><description>Harga beras di Indonesia mengalami kenaikan. Harga rata-rata beras medium saat ini mencapai Rp12.850 per kilogram (kg).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/09/20/320/2886761/harga-beras-ri-lebih-mahal-dari-negara-tetangga-kok-bisa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/09/20/320/2886761/harga-beras-ri-lebih-mahal-dari-negara-tetangga-kok-bisa"/><item><title>Harga Beras RI Lebih Mahal dari Negara Tetangga, Kok Bisa?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/09/20/320/2886761/harga-beras-ri-lebih-mahal-dari-negara-tetangga-kok-bisa</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/09/20/320/2886761/harga-beras-ri-lebih-mahal-dari-negara-tetangga-kok-bisa</guid><pubDate>Rabu 20 September 2023 21:22 WIB</pubDate><dc:creator>Nasya Emmanuela Lilipaly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/09/20/320/2886761/harga-beras-ri-lebih-mahal-dari-negara-tetangga-kok-bisa-HNR27L6YJG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga beras makin mahal (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/09/20/320/2886761/harga-beras-ri-lebih-mahal-dari-negara-tetangga-kok-bisa-HNR27L6YJG.jpg</image><title>Harga beras makin mahal (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8xNS80LzE3MDY0NS81L3g4bzMzbzc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Harga beras di Indonesia mengalami kenaikan. Harga rata-rata beras medium saat ini mencapai Rp12.850 per kilogram (kg). Sedangkan harga rata-rata beras premium berada di level Rp14.380 per kg.
Perubahan iklim dan el nino disebut-sebut menjadi penyebab kenaikan harga beras. Pengamat Kebijakan Publik Bambang Haryo Soekartono meminta pemerintah segera mengendalikan harga beras. Mengingat Indonesia sebagai negara agraris seharusnya hasil berasnya melimpah.

BACA JUGA:
Harga Beras Mahal, Kepala Bappenas: Dunia Hadapi Triple Planetary Crisis


Dia menilai, Lembaga Pangan di Indonesia seperti Bulog, Badan Pangan Nasional dan Satgas Pangan seharusnya segera mengambil peran untuk bertanggung jawab dalam menciptakan kedaulatan pangan, ketahanan pangan dan kemandirian pangan bagi negara.
&amp;ldquo;Indonesia merupakan negara yang mempunyai luasan tanah produktif terbesar di Asia ada sekitar 70 juta hektar yang hanya dimanfaatkan atau diolah seluas 45 juta hektar. Di mana hanya sekitar 7 juta hektar saja sebagai lahan produktif pertanian beras,&amp;rdquo; kata dia, Rabu (20/9/2023).

BACA JUGA:
Harga Beras Tak Kunjung Turun, Apa Solusinya?


Harusnya, lanjut dia, saat ini Indonesia sudah menjadi negara penghasil pangan terbesar di dunia dan sebagai lumbung pangan untuk kebutuhan domestik dan internasional dan sudah seharusnya harga beras di Indonesia tidak setinggi saat ini.
&quot;Saya baru berkunjung ke Malaysia, cek harga beras di wilayah Penang sebesar 2,6 ringgit atau sekitar Rp9.100 rupiah per kg untuk beras lokal produk Malaysia. Harga beras ini merupakan beras kualitas premium dan harga tersebut relatif sama di seluruh wilayah negara Malaysia,&amp;rdquo; ucapnya.
Menurutnya, harga beras di Malaysia cukup murah padahal hanya  mempunyai lahan produktif untuk pertanian padi sebesar 648 ribu hektar  atau hanya sekitar 0,9% dari lahan produktif di Indonesia yang seluas  sekitar 70 juta hektar .
&quot;Sedangkan, saat saya hadir di Vietnam yang merupakan penghasil beras  terbesar urutan ke-5 di dunia sebesar 27,1 juta ton setelah Indonesia  sebesar 34,4 juta ton, kenapa harga beras di Vietnam jauh lebih murah  dari Indonesia yaitu sebesar 11.250 dong atau sekitar Rp7.000 rupiah per  kg, padahal lahan pertanian di Vietnam dari 33 juta hektar lahan  produktif hanya 3,8 juta hektar yang dipergunakan secara hukum untuk  pertanian beras saja,&quot; bebernya.
Sementara di Thailand, ucapnya, sebagai pengekspor beras terbesar  ke-2 dunia tetap melakukan kebijakan ekspor beras dan bahkan malah  meningkatkan dari 7,71 juta ton tahun lalu menjadi 8,5 juta ton tahun  ini sampai dengan bulan Agustus 2023, sedangkan lahan pertanian yang di  khususkan untuk padi di Thailand hanya sebesar 50% dari total 9,2 juta  hektar lahan produktif di mana lahan tersebut jauh lebih kecil dari  luasan lahan pertanian yang ada di Indonesia.
&quot;Pemerintah harus segera melakukan kajian sekaligus menata ulang tata  kelola pangan di Indonesia agar hasil pertanian khususnya beras bisa  diperoleh masyarakat dengan mudah, harga murah dan kualitas yang baik,&amp;rdquo;  imbuhnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8xNS80LzE3MDY0NS81L3g4bzMzbzc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Harga beras di Indonesia mengalami kenaikan. Harga rata-rata beras medium saat ini mencapai Rp12.850 per kilogram (kg). Sedangkan harga rata-rata beras premium berada di level Rp14.380 per kg.
Perubahan iklim dan el nino disebut-sebut menjadi penyebab kenaikan harga beras. Pengamat Kebijakan Publik Bambang Haryo Soekartono meminta pemerintah segera mengendalikan harga beras. Mengingat Indonesia sebagai negara agraris seharusnya hasil berasnya melimpah.

BACA JUGA:
Harga Beras Mahal, Kepala Bappenas: Dunia Hadapi Triple Planetary Crisis


Dia menilai, Lembaga Pangan di Indonesia seperti Bulog, Badan Pangan Nasional dan Satgas Pangan seharusnya segera mengambil peran untuk bertanggung jawab dalam menciptakan kedaulatan pangan, ketahanan pangan dan kemandirian pangan bagi negara.
&amp;ldquo;Indonesia merupakan negara yang mempunyai luasan tanah produktif terbesar di Asia ada sekitar 70 juta hektar yang hanya dimanfaatkan atau diolah seluas 45 juta hektar. Di mana hanya sekitar 7 juta hektar saja sebagai lahan produktif pertanian beras,&amp;rdquo; kata dia, Rabu (20/9/2023).

BACA JUGA:
Harga Beras Tak Kunjung Turun, Apa Solusinya?


Harusnya, lanjut dia, saat ini Indonesia sudah menjadi negara penghasil pangan terbesar di dunia dan sebagai lumbung pangan untuk kebutuhan domestik dan internasional dan sudah seharusnya harga beras di Indonesia tidak setinggi saat ini.
&quot;Saya baru berkunjung ke Malaysia, cek harga beras di wilayah Penang sebesar 2,6 ringgit atau sekitar Rp9.100 rupiah per kg untuk beras lokal produk Malaysia. Harga beras ini merupakan beras kualitas premium dan harga tersebut relatif sama di seluruh wilayah negara Malaysia,&amp;rdquo; ucapnya.
Menurutnya, harga beras di Malaysia cukup murah padahal hanya  mempunyai lahan produktif untuk pertanian padi sebesar 648 ribu hektar  atau hanya sekitar 0,9% dari lahan produktif di Indonesia yang seluas  sekitar 70 juta hektar .
&quot;Sedangkan, saat saya hadir di Vietnam yang merupakan penghasil beras  terbesar urutan ke-5 di dunia sebesar 27,1 juta ton setelah Indonesia  sebesar 34,4 juta ton, kenapa harga beras di Vietnam jauh lebih murah  dari Indonesia yaitu sebesar 11.250 dong atau sekitar Rp7.000 rupiah per  kg, padahal lahan pertanian di Vietnam dari 33 juta hektar lahan  produktif hanya 3,8 juta hektar yang dipergunakan secara hukum untuk  pertanian beras saja,&quot; bebernya.
Sementara di Thailand, ucapnya, sebagai pengekspor beras terbesar  ke-2 dunia tetap melakukan kebijakan ekspor beras dan bahkan malah  meningkatkan dari 7,71 juta ton tahun lalu menjadi 8,5 juta ton tahun  ini sampai dengan bulan Agustus 2023, sedangkan lahan pertanian yang di  khususkan untuk padi di Thailand hanya sebesar 50% dari total 9,2 juta  hektar lahan produktif di mana lahan tersebut jauh lebih kecil dari  luasan lahan pertanian yang ada di Indonesia.
&quot;Pemerintah harus segera melakukan kajian sekaligus menata ulang tata  kelola pangan di Indonesia agar hasil pertanian khususnya beras bisa  diperoleh masyarakat dengan mudah, harga murah dan kualitas yang baik,&amp;rdquo;  imbuhnya.</content:encoded></item></channel></rss>
