<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gelap, OECD Pangkas Proyeksi Ekonomi Global Jadi 2,7% di 2024</title><description>OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 3% di 2023 dari 3,3% pada tahun 2022.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/09/21/320/2887031/gelap-oecd-pangkas-proyeksi-ekonomi-global-jadi-2-7-di-2024</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/09/21/320/2887031/gelap-oecd-pangkas-proyeksi-ekonomi-global-jadi-2-7-di-2024"/><item><title>Gelap, OECD Pangkas Proyeksi Ekonomi Global Jadi 2,7% di 2024</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/09/21/320/2887031/gelap-oecd-pangkas-proyeksi-ekonomi-global-jadi-2-7-di-2024</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/09/21/320/2887031/gelap-oecd-pangkas-proyeksi-ekonomi-global-jadi-2-7-di-2024</guid><pubDate>Kamis 21 September 2023 11:47 WIB</pubDate><dc:creator>Nasya Emmanuela Lilipaly</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/09/21/320/2887031/gelap-oecd-pangkas-proyeksi-ekonomi-global-jadi-2-7-di-2024-X3z4Jzd2hW.jpg" expression="full" type="image/jpeg">OECD Proyeksi Ekonomi Global 2024 (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/09/21/320/2887031/gelap-oecd-pangkas-proyeksi-ekonomi-global-jadi-2-7-di-2024-X3z4Jzd2hW.jpg</image><title>OECD Proyeksi Ekonomi Global 2024 (Foto: Freepik)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8xNy80LzE3MDczNS81L3g4bzRpMnQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 3% di 2023 dari 3,3% pada tahun 2022. Hal ini lebih tinggi dari outlook sebelumnya sebesar 2,7%.
Namun, OECD memangkas proyeksi pertumbuhan menjadi 2,7% pada 2024 dari 2,9% sebelumnya. Pada 2020 ketika Covid-19 melanda, outlook ini akan menjadi yang terlemah sejak krisis keuangan global.

BACA JUGA:
Bantuan Pengembangan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Cair Rp120 Juta ke 18 Desa Wisata&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&quot;Saat inflasi tinggi terus berlanjut, ekonomi dunia masih berada di tempat yang sulit. Jadi kita menghadapi tantangan ganda yaitu inflasi dan pertumbuhan yang rendah,&amp;rdquo; kata Kepala Ekonom OECD Clare Lombardell dikutip Bloomberg pada Kamis (21/9/2023)
OECD menyebut risiko-risiko dalam proyeksinya condong ke sisi negatif karena kenaikan suku bunga di masa lalu dapat berdampak lebih kuat daripada yang diprediksi dan inflasi mungkin akan bertahan, sehingga membutuhkan pengetatan moneter lebih lanjut.

BACA JUGA:
Indonesia Mulai Kena Dampak Lesunya Ekonomi Global, Sri Mulyani Bisa Apa?

OECD menyatakan pelemahan ekonomi China sebagai risiko utama untuk output di seluruh dunia. &quot;Setelah awal yang lebih kuat dari perkiraan di tahun 2023, dibantu oleh harga energi yang lebih rendah dan pembukaan kembali China, pertumbuhan global diperkirakan akan melambat,&quot; kata  OECD.Di mana dampak dari pengetatan kebijakan moneter menjadi semakin terlihat, kepercayaan bisnis dan konsumen telah menurun dan rebound ekonomi China telah kehilangan momentumnya.
Prospek yang suram ini akan menguji para gubernur bank sentral di seluruh dunia karena efek dari perjuangan melawan inflasi mereka hingga saat ini terus berlanjut ke perekonomian dan para politisi khawatir bahwa aktivitas sedang tersendat.
Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga acuan untuk bulan ke-10 berturut-turut pekan lalu, meski mengisyaratkan puncaknya mungkin telah tercapai. Federal Reserve diproyeksikan mempertahankan suku bunga pada hari Rabu.
OECD meminta bank sentral tidak melakukan pelonggaran, dengan inflasi inti yang masih bertahan di banyak negara bahkan ketika angka inflasi utama turun.
&amp;rdquo;Ada ruang lingkup terbatas untuk penurunan suku bunga hingga ke 2024. Kebijakan moneter harus tetap ketat sampai ada tanda-tanda yang jelas bahwa tekanan inflasi yang mendasari telah mereda,&quot; kata OECD.
Lombardelli menambahkan kenaikan harga minyak sebesar 25% sejak Mei juga telah menyebabkan inflasi meningkat di beberapa negara, tergantung pada eksposur mereka dan apakah mereka importir atau eksportir bahan bakar fosil.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8xNy80LzE3MDczNS81L3g4bzRpMnQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 3% di 2023 dari 3,3% pada tahun 2022. Hal ini lebih tinggi dari outlook sebelumnya sebesar 2,7%.
Namun, OECD memangkas proyeksi pertumbuhan menjadi 2,7% pada 2024 dari 2,9% sebelumnya. Pada 2020 ketika Covid-19 melanda, outlook ini akan menjadi yang terlemah sejak krisis keuangan global.

BACA JUGA:
Bantuan Pengembangan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Cair Rp120 Juta ke 18 Desa Wisata&amp;nbsp; &amp;nbsp;

&quot;Saat inflasi tinggi terus berlanjut, ekonomi dunia masih berada di tempat yang sulit. Jadi kita menghadapi tantangan ganda yaitu inflasi dan pertumbuhan yang rendah,&amp;rdquo; kata Kepala Ekonom OECD Clare Lombardell dikutip Bloomberg pada Kamis (21/9/2023)
OECD menyebut risiko-risiko dalam proyeksinya condong ke sisi negatif karena kenaikan suku bunga di masa lalu dapat berdampak lebih kuat daripada yang diprediksi dan inflasi mungkin akan bertahan, sehingga membutuhkan pengetatan moneter lebih lanjut.

BACA JUGA:
Indonesia Mulai Kena Dampak Lesunya Ekonomi Global, Sri Mulyani Bisa Apa?

OECD menyatakan pelemahan ekonomi China sebagai risiko utama untuk output di seluruh dunia. &quot;Setelah awal yang lebih kuat dari perkiraan di tahun 2023, dibantu oleh harga energi yang lebih rendah dan pembukaan kembali China, pertumbuhan global diperkirakan akan melambat,&quot; kata  OECD.Di mana dampak dari pengetatan kebijakan moneter menjadi semakin terlihat, kepercayaan bisnis dan konsumen telah menurun dan rebound ekonomi China telah kehilangan momentumnya.
Prospek yang suram ini akan menguji para gubernur bank sentral di seluruh dunia karena efek dari perjuangan melawan inflasi mereka hingga saat ini terus berlanjut ke perekonomian dan para politisi khawatir bahwa aktivitas sedang tersendat.
Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga acuan untuk bulan ke-10 berturut-turut pekan lalu, meski mengisyaratkan puncaknya mungkin telah tercapai. Federal Reserve diproyeksikan mempertahankan suku bunga pada hari Rabu.
OECD meminta bank sentral tidak melakukan pelonggaran, dengan inflasi inti yang masih bertahan di banyak negara bahkan ketika angka inflasi utama turun.
&amp;rdquo;Ada ruang lingkup terbatas untuk penurunan suku bunga hingga ke 2024. Kebijakan moneter harus tetap ketat sampai ada tanda-tanda yang jelas bahwa tekanan inflasi yang mendasari telah mereda,&quot; kata OECD.
Lombardelli menambahkan kenaikan harga minyak sebesar 25% sejak Mei juga telah menyebabkan inflasi meningkat di beberapa negara, tergantung pada eksposur mereka dan apakah mereka importir atau eksportir bahan bakar fosil.</content:encoded></item></channel></rss>
