<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ombudsman Minta HET Beras Dicabut, Begini Kata Kepala Bapanas      </title><description>Arief Prasetyo Adi mengakui sulit apabila ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras medium</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/10/05/320/2895810/ombudsman-minta-het-beras-dicabut-begini-kata-kepala-bapanas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/10/05/320/2895810/ombudsman-minta-het-beras-dicabut-begini-kata-kepala-bapanas"/><item><title>Ombudsman Minta HET Beras Dicabut, Begini Kata Kepala Bapanas      </title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/10/05/320/2895810/ombudsman-minta-het-beras-dicabut-begini-kata-kepala-bapanas</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/10/05/320/2895810/ombudsman-minta-het-beras-dicabut-begini-kata-kepala-bapanas</guid><pubDate>Kamis 05 Oktober 2023 20:33 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/05/320/2895810/ombudsman-minta-het-beras-dicabut-begini-kata-kepala-bapanas-EW7lKkzwvB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga Beras Masih Mahal. (Foto: Okezone.com/Rio)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/05/320/2895810/ombudsman-minta-het-beras-dicabut-begini-kata-kepala-bapanas-EW7lKkzwvB.jpg</image><title>Harga Beras Masih Mahal. (Foto: Okezone.com/Rio)</title></images><description>JAKARTA - Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengakui sulit apabila ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras medium, maupun jenis beras premium dicabut.
Menurutnya, HET merupakan salah satu instrumen untuk mengontrol fluktuasi harga beras di pasar modern maupun pasar tradisional. Sehingga ketika HET dicabut justru dikawatirkan bakal membuat persoalan baru saat harga beras melonjak tinggi dipasar dan tidak bisa terkontrol.

BACA JUGA:
Minimarket Batasi Beli Beras Hanya 10 Kg per Hari

&quot;Kita tahu HPP biaya-biaya sudah kita hitung sama-sama, bukan hanya badan pangan, ada harga HET Rp13.900 untuk premium, kita sudah tahu, kalau kita cabut kita tahu harganya tinggi atau rendah dari mana?&quot; kata Arief saat ditemui MNC Portal di kantornya, Kamis (5/10/2023).
Lebih lanjut, Arief mengatakan fluktuasi harga beras yang saat ini tengah terjadi di pasar disebabkan oleh faktor produksi dalam negeri yang tengah lesu. Sehingga penggilingan padi pun banyak yang kesusahan untuk mendapatkan gabah, sekalipun ada gabah punya harga yang lebih mahal.

BACA JUGA:
Asyik! Bansos Beras 10 Kg Diperpanjang hingga 2024

Hal itulah yang menurutnya mendasari dari adanya kenaikan harga beras yang saat ini tengah terjadi dipasar. Sehingga pencabutan HET menurutnya bukan solusi menurunkan harga beras ketika yang bermasalah dari sisi produktivitas petani dalam negeri.
&quot;Padahal kita sudah hitung sama-sama, jadi menurut saya yang harus dibenahi adalah meningkatkan produksi, kalau harga eceran dicabut atau dinaikan, kemudian akar permasalahan produk produksi tidak pas nanti,&quot; sambung Arief.Sebelumnya Anggota Ombudsman RI, Yeka Hendra Fatika mengatakan kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras terbukti tidak efektif mengendalikan harga beras di pasar.
Menurut Yeka Pemerintah semestinya mengontrol harga gabah kering yang masuk ke penggilingan. Sebab ketika harga gabah kering itu terjangkau, maka otomatis HPP pun bisa ditekan dan menghasilkan beras murah di pasar.
Pola kebijakan HET tidak pas menstabilkan harga, beras ini pada intinya masalah suply demand, kalau suply banyak harga bisa turun, kalau beras sedikit harga naik. Ini masalah persoalan produksi, buat apa pakai HET,&quot; kata Yeka dalam konferensi pers virtual, (18/9/2023).</description><content:encoded>JAKARTA - Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengakui sulit apabila ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras medium, maupun jenis beras premium dicabut.
Menurutnya, HET merupakan salah satu instrumen untuk mengontrol fluktuasi harga beras di pasar modern maupun pasar tradisional. Sehingga ketika HET dicabut justru dikawatirkan bakal membuat persoalan baru saat harga beras melonjak tinggi dipasar dan tidak bisa terkontrol.

BACA JUGA:
Minimarket Batasi Beli Beras Hanya 10 Kg per Hari

&quot;Kita tahu HPP biaya-biaya sudah kita hitung sama-sama, bukan hanya badan pangan, ada harga HET Rp13.900 untuk premium, kita sudah tahu, kalau kita cabut kita tahu harganya tinggi atau rendah dari mana?&quot; kata Arief saat ditemui MNC Portal di kantornya, Kamis (5/10/2023).
Lebih lanjut, Arief mengatakan fluktuasi harga beras yang saat ini tengah terjadi di pasar disebabkan oleh faktor produksi dalam negeri yang tengah lesu. Sehingga penggilingan padi pun banyak yang kesusahan untuk mendapatkan gabah, sekalipun ada gabah punya harga yang lebih mahal.

BACA JUGA:
Asyik! Bansos Beras 10 Kg Diperpanjang hingga 2024

Hal itulah yang menurutnya mendasari dari adanya kenaikan harga beras yang saat ini tengah terjadi dipasar. Sehingga pencabutan HET menurutnya bukan solusi menurunkan harga beras ketika yang bermasalah dari sisi produktivitas petani dalam negeri.
&quot;Padahal kita sudah hitung sama-sama, jadi menurut saya yang harus dibenahi adalah meningkatkan produksi, kalau harga eceran dicabut atau dinaikan, kemudian akar permasalahan produk produksi tidak pas nanti,&quot; sambung Arief.Sebelumnya Anggota Ombudsman RI, Yeka Hendra Fatika mengatakan kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras terbukti tidak efektif mengendalikan harga beras di pasar.
Menurut Yeka Pemerintah semestinya mengontrol harga gabah kering yang masuk ke penggilingan. Sebab ketika harga gabah kering itu terjangkau, maka otomatis HPP pun bisa ditekan dan menghasilkan beras murah di pasar.
Pola kebijakan HET tidak pas menstabilkan harga, beras ini pada intinya masalah suply demand, kalau suply banyak harga bisa turun, kalau beras sedikit harga naik. Ini masalah persoalan produksi, buat apa pakai HET,&quot; kata Yeka dalam konferensi pers virtual, (18/9/2023).</content:encoded></item></channel></rss>
