<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Wall Street Pekan Ini Menanti Data Inflasi, Simak Proyeksi Analis</title><description>Wall Street pekan ini menanti data inflasi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/10/09/278/2897454/wall-street-pekan-ini-menanti-data-inflasi-simak-proyeksi-analis</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/10/09/278/2897454/wall-street-pekan-ini-menanti-data-inflasi-simak-proyeksi-analis"/><item><title>Wall Street Pekan Ini Menanti Data Inflasi, Simak Proyeksi Analis</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/10/09/278/2897454/wall-street-pekan-ini-menanti-data-inflasi-simak-proyeksi-analis</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/10/09/278/2897454/wall-street-pekan-ini-menanti-data-inflasi-simak-proyeksi-analis</guid><pubDate>Senin 09 Oktober 2023 08:02 WIB</pubDate><dc:creator>Dinar Fitra Maghiszha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/09/278/2897454/wall-street-pekan-ini-menanti-data-inflasi-simak-proyeksi-analis-tqDr6YmMPK.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Wall Street pekan ini (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/09/278/2897454/wall-street-pekan-ini-menanti-data-inflasi-simak-proyeksi-analis-tqDr6YmMPK.jpg</image><title>Wall Street pekan ini (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8xNi80LzE2MDg5Ny81L3g4ajZtNmo=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Wall Street pekan ini menanti data inflasi. Investor pasar modal Amerika Serikat atau Wall Street siap menyambut laporan indeks harga konsumen (CPI) untuk mengetahui tingkat inflasi periode September.
Angka inflasi menjadi perhatian pelaku pasar untuk menilai apakah bank sentral AS (Federal Reserve) akan tetap mempertahankan suku bunganya saat ini dalam jangka waktu yang lama, atau justru menyudahinya.

BACA JUGA:
Wall Street Menguat Ditopang Saham Sektor Teknologi


Indikator FedWatch dari CME Group memproyeksikan peluang 18,5% The Fed akan mengerek suku bunga sekali lagi pada bulan November 2023. Namun, peluang mempertahankan suku bunga masih dominan.

BACA JUGA:
Wall Street Melemah Imbas Investor Menunggu Data Tenaga Kerja 


Sepanjang minggu ini juga, pasar bersiap menerima laporan keuangan kuartal ketiga sejumlah perusahaan tercatat AS. Bank-bank berkapitalisasi besar akan mengawali penyampaian kinerja mereka selama sembilan bulan berjalan.
Musim laporan keuangan setidaknya dapat mempengaruhi ketiga indeks utama Wall Street dalam jangka pendek yang pada akhir pekan ini berakhir di zona hijau. Pada penutupan Jumat (6/10),  Dow Jones Industrial Average (DJIA) menguat 0,87% di 33.407,58, S&amp;amp;P 500 (SPX) tumbuh 1,18% di 4.308,50, sedangkan Nasdaq Composite (IXIC) menanjak 1,60% menjadi 13.431,34.
&quot;Musim laporan keuangan dapat mempengaruhi bursa saham dalam jangka  pendek. S&amp;amp;P 500 masih mencatatkan kenaikan 10% sepanjang 2023,  setelah mengalami tekanan jual,&quot; tulis Reuters, dalam laporannya,  dikutip Senin (9/10/2023).
Kenaikan imbal hasil (yield) surat utang negara (Treasury) AS dalam  beberapa pekan terakhir sempat menggerus kinerja bursa saham Paman Sam.  Ini dikhawatirkan dapat menumpulkan daya tarik saham, sebagai instrumen  investasi yang berisiko lebih tinggi dari surat utang.
Secara makro peningkatan harga minyak mentah dunia dikhawatirkan akan  kembali memacu inflasi AS, yang ditakutkan akan menjadi bahan bagi The  Fed untuk kembali memperketat kebijakannya.
Pada pekan ini, The Fed akan merilis hasil rapat dewan kebijakan  mereka dalam  Federal Open Market Committee (FOMC). Setiap pernyataan  petinggi The Fed dapat menjadi petunjuk pasar untuk menilai kebijakan  moneter yang bakal diambil.
Selain inflasi, angka klaim pengangguran rata-rata AS, dan hasil  pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) juga bakal menjadi fokus  investor.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8xNi80LzE2MDg5Ny81L3g4ajZtNmo=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Wall Street pekan ini menanti data inflasi. Investor pasar modal Amerika Serikat atau Wall Street siap menyambut laporan indeks harga konsumen (CPI) untuk mengetahui tingkat inflasi periode September.
Angka inflasi menjadi perhatian pelaku pasar untuk menilai apakah bank sentral AS (Federal Reserve) akan tetap mempertahankan suku bunganya saat ini dalam jangka waktu yang lama, atau justru menyudahinya.

BACA JUGA:
Wall Street Menguat Ditopang Saham Sektor Teknologi


Indikator FedWatch dari CME Group memproyeksikan peluang 18,5% The Fed akan mengerek suku bunga sekali lagi pada bulan November 2023. Namun, peluang mempertahankan suku bunga masih dominan.

BACA JUGA:
Wall Street Melemah Imbas Investor Menunggu Data Tenaga Kerja 


Sepanjang minggu ini juga, pasar bersiap menerima laporan keuangan kuartal ketiga sejumlah perusahaan tercatat AS. Bank-bank berkapitalisasi besar akan mengawali penyampaian kinerja mereka selama sembilan bulan berjalan.
Musim laporan keuangan setidaknya dapat mempengaruhi ketiga indeks utama Wall Street dalam jangka pendek yang pada akhir pekan ini berakhir di zona hijau. Pada penutupan Jumat (6/10),  Dow Jones Industrial Average (DJIA) menguat 0,87% di 33.407,58, S&amp;amp;P 500 (SPX) tumbuh 1,18% di 4.308,50, sedangkan Nasdaq Composite (IXIC) menanjak 1,60% menjadi 13.431,34.
&quot;Musim laporan keuangan dapat mempengaruhi bursa saham dalam jangka  pendek. S&amp;amp;P 500 masih mencatatkan kenaikan 10% sepanjang 2023,  setelah mengalami tekanan jual,&quot; tulis Reuters, dalam laporannya,  dikutip Senin (9/10/2023).
Kenaikan imbal hasil (yield) surat utang negara (Treasury) AS dalam  beberapa pekan terakhir sempat menggerus kinerja bursa saham Paman Sam.  Ini dikhawatirkan dapat menumpulkan daya tarik saham, sebagai instrumen  investasi yang berisiko lebih tinggi dari surat utang.
Secara makro peningkatan harga minyak mentah dunia dikhawatirkan akan  kembali memacu inflasi AS, yang ditakutkan akan menjadi bahan bagi The  Fed untuk kembali memperketat kebijakannya.
Pada pekan ini, The Fed akan merilis hasil rapat dewan kebijakan  mereka dalam  Federal Open Market Committee (FOMC). Setiap pernyataan  petinggi The Fed dapat menjadi petunjuk pasar untuk menilai kebijakan  moneter yang bakal diambil.
Selain inflasi, angka klaim pengangguran rata-rata AS, dan hasil  pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) juga bakal menjadi fokus  investor.</content:encoded></item></channel></rss>
