<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>IMF Ramalkan Ekonomi Dunia Memburuk Imbas Konflik Israel-Hamas</title><description>Ekonomi dunia telah kehilangan momentum pertumbuhan akibat dampak suku bunga yang tinggi, invasi ke Ukraina.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/10/11/320/2898894/imf-ramalkan-ekonomi-dunia-memburuk-imbas-konflik-israel-hamas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/10/11/320/2898894/imf-ramalkan-ekonomi-dunia-memburuk-imbas-konflik-israel-hamas"/><item><title>IMF Ramalkan Ekonomi Dunia Memburuk Imbas Konflik Israel-Hamas</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/10/11/320/2898894/imf-ramalkan-ekonomi-dunia-memburuk-imbas-konflik-israel-hamas</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/10/11/320/2898894/imf-ramalkan-ekonomi-dunia-memburuk-imbas-konflik-israel-hamas</guid><pubDate>Rabu 11 Oktober 2023 08:25 WIB</pubDate><dc:creator>Arfiah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/11/320/2898894/imf-ramalkan-ekonomi-dunia-memburuk-imbas-konflik-israel-hamas-FDCX2HgfMu.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ekonomi Dunia Berpotensi memburuk (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/11/320/2898894/imf-ramalkan-ekonomi-dunia-memburuk-imbas-konflik-israel-hamas-FDCX2HgfMu.jpg</image><title>Ekonomi Dunia Berpotensi memburuk (Foto: Freepik)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8yNi8xLzE3MTIxNi81L3g4b2JwZ3g=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Ekonomi dunia telah kehilangan momentum pertumbuhan akibat dampak suku bunga yang tinggi, invasi ke Ukraina dan perpecahan geo politik yang semakin besar.
Apalagi sekarang ada ketidakpastian baru akibat perang antara Israel dan militan Hamas. Demikian peringatan Dana Moneter Internasional (IMF) dikutip VOA Indonesia, Rabu (11/10/2023).

BACA JUGA:
Heboh! Magang di Kemenkeu Tak Dibayar, Begini Penjelasan Stafsus Sri Mulyani

IMF mengatakan pihaknya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan melamban menjadi 2,9% pada 2024 dari 3% sebelumnya. Untuk tahun depan, pertumbuhan ekonomi juga akan turun dari 3% yang diramalkannya pada Juli lalu.
Perlambanan ini datang pada momen ketika dunia belum sepenuhnya pulih dari resesi akibat pandemi Covid-19 pada 2020 dan sekarang akan menyaksikan akibat negatif dari konflik Timur Tengah, khususnya harga minyak mentah.

BACA JUGA:
Sumber Kekayaan Ayunsri Harahap, Istri Syahrul Yasin Limpo yang Juga Dicegah KPK ke Luar Negeri

Rangkaian guncangan sebelumnya, termasuk pandemi dan perang Rusia di Ukraina, telah mengurangi output ekonomi di seluruh dunia sampai sekitar $3,7 triliun dalam tiga tahun terakhir dari masa pra-Covid-19.&amp;ldquo;Ekonomi dunia sedang tertatih-tatih, dan tidak beroperasi sepenuhnya,&amp;rdquo; kata ekonom utama IMF, Pierre Olivier Gourinchas pada konferensi pers ketika berlangsung pertemuan tahunan IMF di Marakesh, Maroko.
Masih terlalu dini untuk menilai dampak perang antara Israel dan kelompok militan Palestina, Hamas, di Gaza terhadap pertumbuhan ekonomi global, kata Gourinchas.
Ia menambahkan bahwa IMF memantau situasi di sana secara cermat dan mencatat bahwa harga minyak mentah sudah naik sekitar 4% dalam beberapa hari terakhir.
Kalau krisis Timur Tengah ini berlangsung lama maka kenaikan harga minyak mentah sebanyak 10% akan mengurangi pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 0,15% dan meningkatkan inflasi global 0,4%, ujar Gourinchas</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8yNi8xLzE3MTIxNi81L3g4b2JwZ3g=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Ekonomi dunia telah kehilangan momentum pertumbuhan akibat dampak suku bunga yang tinggi, invasi ke Ukraina dan perpecahan geo politik yang semakin besar.
Apalagi sekarang ada ketidakpastian baru akibat perang antara Israel dan militan Hamas. Demikian peringatan Dana Moneter Internasional (IMF) dikutip VOA Indonesia, Rabu (11/10/2023).

BACA JUGA:
Heboh! Magang di Kemenkeu Tak Dibayar, Begini Penjelasan Stafsus Sri Mulyani

IMF mengatakan pihaknya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan melamban menjadi 2,9% pada 2024 dari 3% sebelumnya. Untuk tahun depan, pertumbuhan ekonomi juga akan turun dari 3% yang diramalkannya pada Juli lalu.
Perlambanan ini datang pada momen ketika dunia belum sepenuhnya pulih dari resesi akibat pandemi Covid-19 pada 2020 dan sekarang akan menyaksikan akibat negatif dari konflik Timur Tengah, khususnya harga minyak mentah.

BACA JUGA:
Sumber Kekayaan Ayunsri Harahap, Istri Syahrul Yasin Limpo yang Juga Dicegah KPK ke Luar Negeri

Rangkaian guncangan sebelumnya, termasuk pandemi dan perang Rusia di Ukraina, telah mengurangi output ekonomi di seluruh dunia sampai sekitar $3,7 triliun dalam tiga tahun terakhir dari masa pra-Covid-19.&amp;ldquo;Ekonomi dunia sedang tertatih-tatih, dan tidak beroperasi sepenuhnya,&amp;rdquo; kata ekonom utama IMF, Pierre Olivier Gourinchas pada konferensi pers ketika berlangsung pertemuan tahunan IMF di Marakesh, Maroko.
Masih terlalu dini untuk menilai dampak perang antara Israel dan kelompok militan Palestina, Hamas, di Gaza terhadap pertumbuhan ekonomi global, kata Gourinchas.
Ia menambahkan bahwa IMF memantau situasi di sana secara cermat dan mencatat bahwa harga minyak mentah sudah naik sekitar 4% dalam beberapa hari terakhir.
Kalau krisis Timur Tengah ini berlangsung lama maka kenaikan harga minyak mentah sebanyak 10% akan mengurangi pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 0,15% dan meningkatkan inflasi global 0,4%, ujar Gourinchas</content:encoded></item></channel></rss>
