<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Transisi Energi Butuh Pendanaan yang Kuat dari Perbankan</title><description>Kementerian ESDM menekankan, proses transisi energi butuh dukungan pendanaan yang mumpuni.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/10/11/320/2899345/transisi-energi-butuh-pendanaan-yang-kuat-dari-perbankan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/10/11/320/2899345/transisi-energi-butuh-pendanaan-yang-kuat-dari-perbankan"/><item><title>Transisi Energi Butuh Pendanaan yang Kuat dari Perbankan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/10/11/320/2899345/transisi-energi-butuh-pendanaan-yang-kuat-dari-perbankan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/10/11/320/2899345/transisi-energi-butuh-pendanaan-yang-kuat-dari-perbankan</guid><pubDate>Rabu 11 Oktober 2023 17:20 WIB</pubDate><dc:creator>Atikah Umiyani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/11/320/2899345/transisi-energi-butuh-pendanaan-yang-kuat-dari-perbankan-HcUpfht7dM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Transisi energi butuh dana besar (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/11/320/2899345/transisi-energi-butuh-pendanaan-yang-kuat-dari-perbankan-HcUpfht7dM.jpg</image><title>Transisi energi butuh dana besar (Foto: Reuters)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNy8zMC8xLzE2ODUzMi81L3g4bXZxeTc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Kementerian ESDM menekankan, proses transisi energi butuh dukungan pendanaan yang mumpuni.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yudo Dwinanda Priaadi mengungkapkan, pendanaan merupakan hal yang krusial dalam proses transisi energi, utamanya pendanaan dari pihak perbankan.

BACA JUGA:
Era Transisi Energi, Ternyata Migas Jadi Industri Tertua di Indonesia


&quot;Kita perlu pendanaan umumnya dari perbankan ya. Biasanya, mereka melakukan bussines to bussines (B2B), tapi kita bicara juga sama OJK apabila diperlukan,&quot; jelas Yudo di Jakarta, Selasa (10/10/2023).

BACA JUGA:
Transisi Energi, Harga Gas Terlalu Mahal Butuh Investasi Besar


Kendati demikian, dirinya juga tidak menutup peluang adanya pendanaan transisi energi dari lembaga keuangan di luar perbankan, misalnya koperasi maupun BUMDes. Ia pun mencontohkan, pembangunan infrastruktur energi seperti pembangkit tenaga surya di daerah terpencil juga diserahkan kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk menyalurkan pembiayaan.
&quot;Ada juga bank-bank yang fokus pada koperasi, tanya saja pada Kementerian Koperasi dan UKM. Kalau dari kami hanya menangani sektor energinya saja,&quot; imbuhnya.
Asal tahu saja, dalam beberapa tahun ke belakang, porsi pembiayaan  bank untuk sektor energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia memang masih  sangat minim bila dibandingkan dengan energi fosil.
Hal ini tercatat dalam laporan riset hasil kolaborasi Prakarsa dan  ResponsiBank Indonesia yang bertajuk Melacak Kemajuan Sektor Perbankan  dalam Pembiayaan Transisi Energi Indonesia untuk Mempercepat Net Zero  Emission (2022).
Menurut laporan tersebut, sepanjang 2016 hingga 2022 alokasi  pembiayaan bank untuk energi fosil mencapai rata-rata 995%, sedangkan  untuk energi terbarukan hanya 5% (Fair Finance Asia &amp;amp; SEI 2022).
Bank di Indonesia seperti BCA dan Mandiri sebagai bank terbesar di  Indonesia masih memiliki portofolio pembiayaan energi terbarukan yang  sangat kecil.
Rata-rata alokasi pembiayaan energi fosil selama 2016-2022 oleh bank  BCA dan Mandiri mencapai 96%, sedangkan pembiayaan energi terbarukannya  hanya 4%.
Sementara itu, Bank BRI tercatat mengalokasikan pembiayaan fosil  sebesar 94%, sedangkan pembiayaan energi terbarukannya hanya 6% di  portofolio pembiayaannya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNy8zMC8xLzE2ODUzMi81L3g4bXZxeTc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Kementerian ESDM menekankan, proses transisi energi butuh dukungan pendanaan yang mumpuni.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yudo Dwinanda Priaadi mengungkapkan, pendanaan merupakan hal yang krusial dalam proses transisi energi, utamanya pendanaan dari pihak perbankan.

BACA JUGA:
Era Transisi Energi, Ternyata Migas Jadi Industri Tertua di Indonesia


&quot;Kita perlu pendanaan umumnya dari perbankan ya. Biasanya, mereka melakukan bussines to bussines (B2B), tapi kita bicara juga sama OJK apabila diperlukan,&quot; jelas Yudo di Jakarta, Selasa (10/10/2023).

BACA JUGA:
Transisi Energi, Harga Gas Terlalu Mahal Butuh Investasi Besar


Kendati demikian, dirinya juga tidak menutup peluang adanya pendanaan transisi energi dari lembaga keuangan di luar perbankan, misalnya koperasi maupun BUMDes. Ia pun mencontohkan, pembangunan infrastruktur energi seperti pembangkit tenaga surya di daerah terpencil juga diserahkan kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk menyalurkan pembiayaan.
&quot;Ada juga bank-bank yang fokus pada koperasi, tanya saja pada Kementerian Koperasi dan UKM. Kalau dari kami hanya menangani sektor energinya saja,&quot; imbuhnya.
Asal tahu saja, dalam beberapa tahun ke belakang, porsi pembiayaan  bank untuk sektor energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia memang masih  sangat minim bila dibandingkan dengan energi fosil.
Hal ini tercatat dalam laporan riset hasil kolaborasi Prakarsa dan  ResponsiBank Indonesia yang bertajuk Melacak Kemajuan Sektor Perbankan  dalam Pembiayaan Transisi Energi Indonesia untuk Mempercepat Net Zero  Emission (2022).
Menurut laporan tersebut, sepanjang 2016 hingga 2022 alokasi  pembiayaan bank untuk energi fosil mencapai rata-rata 995%, sedangkan  untuk energi terbarukan hanya 5% (Fair Finance Asia &amp;amp; SEI 2022).
Bank di Indonesia seperti BCA dan Mandiri sebagai bank terbesar di  Indonesia masih memiliki portofolio pembiayaan energi terbarukan yang  sangat kecil.
Rata-rata alokasi pembiayaan energi fosil selama 2016-2022 oleh bank  BCA dan Mandiri mencapai 96%, sedangkan pembiayaan energi terbarukannya  hanya 4%.
Sementara itu, Bank BRI tercatat mengalokasikan pembiayaan fosil  sebesar 94%, sedangkan pembiayaan energi terbarukannya hanya 6% di  portofolio pembiayaannya.</content:encoded></item></channel></rss>
