<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kredit Konsumer BRI Tumbuh 11,5%, Tanda Ekonomi Bangkit</title><description>Kredit konsumer BRI tumbuh 11,5% menjadi tanda bahwa ekonomi Indonesia bangkit.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/10/12/320/2899747/kredit-konsumer-bri-tumbuh-11-5-tanda-ekonomi-bangkit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/10/12/320/2899747/kredit-konsumer-bri-tumbuh-11-5-tanda-ekonomi-bangkit"/><item><title>Kredit Konsumer BRI Tumbuh 11,5%, Tanda Ekonomi Bangkit</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/10/12/320/2899747/kredit-konsumer-bri-tumbuh-11-5-tanda-ekonomi-bangkit</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/10/12/320/2899747/kredit-konsumer-bri-tumbuh-11-5-tanda-ekonomi-bangkit</guid><pubDate>Kamis 12 Oktober 2023 11:15 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/12/320/2899747/kredit-konsumer-bri-tumbuh-11-5-tanda-ekonomi-bangkit-CaQJPiNBU5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kredit konsumer BRI alami pertumbuhan (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/12/320/2899747/kredit-konsumer-bri-tumbuh-11-5-tanda-ekonomi-bangkit-CaQJPiNBU5.jpg</image><title>Kredit konsumer BRI alami pertumbuhan (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMi8wOC80LzE2MjI4NC81L3g4ajZna3k=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Kredit konsumer BRI tumbuh 11,5% menjadi tanda bahwa ekonomi Indonesia bangkit. Daya beli masyarakat mulai berangsur pulih pasca pandemi Covid-19.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI pun berupaya mengoptimalkan daya beli masyarakat sehingga memacu pertumbuhan kredit konsumer, salah satunya ditopang Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Tanpa Agunan (KTA).

BACA JUGA:
Cara BRI Dorong Pertumbuhan Bisnis Perbankan Lewat Digital


Emiten bersandi BBRI ini mencatat pertumbuhan kredit konsumer bank only sebesar 11,5% secara tahunan/year on year (yoy) menjadi Rp171,5 triliun sepanjang semester I 2023. Capaian tersebut melanjutkan pertumbuhan dua digit yang juga dicapai pada kuartal I 2023.
Direktur Bisnis Konsumer BRI Handayani mengatakan perseroan secara berkelanjutan terus memperkuat kapabilitas retail banking pada tahun ini. Pihaknya menekankan bahwa salah satu strateginya adalah konsisten melakukan perbaikan business process reengineering, salah satunya seperti implementasi Consumer Loan Factory (CLF).

BACA JUGA:
BRI Berikan Bantuan ke Warga Terdampak Banjir Binjai


&amp;ldquo;Kita bersama bisa melihat bahwa daya beli masyarakat cenderung pulih setelah pandemi. Juga tren inflasi yang menurun. Sehingga kami bisa mengoptimalkan kinerja di segmen konsumer melalui strategi yang kami terapkan,&amp;rdquo; ujar Handayani dalam keterangan resminya, Rabu (11/10/2023).
Perlu diketahui, Bank Indonesia (BI) mencatat, memasuki tahun 2023 yaitu pada Januari inflasi mencapai 5,28%, sedangkan pada Agustus mencapai 3,27%. Pada rentang delapan bulan tersebut, inflasi tertinggi tercatat pada Februari yaitu 5,47% dan terendah pada Juli sebesar 3,08%. BI pun memproyeksikan sepanjang tahun ini inflasi berada di kisaran 3+1%.Oleh karena itu, Handayani memproyeksikan kredit konsumer tahun ini  terbilang baik karena inflasi yang cenderung menurun. Adapun secara  persentase, per Juni 2023, Kredit Tanpa Agunan (KTA) merupakan kredit  konsumer yang tumbuh paling tinggi, yakni 16,5% yoy dan diikuti KPR 8,7%  yoy.
Namun, sebagian besar kredit konsumer atau 67,8% merupakan sumbangsih  KPR. Geliat kredit konsumer tersebut juga diikuti dengan kualitas asset  yang sehat. Per Juni 2023, rasio kredit bermasalah (Non Performing  Loan/NPL) segmen konsumer hanya sebesar 2,0%. Adapun secara total, BRI  menyalurkan kredit sebesar Rp1.202,1 triliun, atau naik 8,8% yoy. Dengan  demikian segmen konsumer berkontribusi sebesar 14,3%.
&amp;ldquo;Untuk mengoptimalkan kinerja, kami juga akan memberikan pelayanan  kepada nasabah melalui berbagai kanal dan membuka kerja sama API  connection dengan berbagai pihak. Agar penyaluran kredit dapat terpacu  sesuai target dan nasabah lebih nyaman bertransaksi,&amp;rdquo; lanjutnya.
Terdorong Pertumbuhan Positif Pasar Domestik
Sementara itu, mengutip data Bank Indonesia, industri perbankan  menyalurkan kredit konsumer senilai Rp1.923 triliun hingga Agustus 2023.  Angka tersebut naik 9,1% secara tahunan (yoy), atau di atas pertumbuhan  total pembiayaan yang disalurkan bank.
Pada periode tersebut, penyaluran kredit bank kepada pihak ketiga  mencapai senilai Rp 6.709,5 triliun atau naik 8,9% yoy. Dengan demikian,  sebanyak 28,7% di antaranya merupakan kredit konsumer.
Terpisah, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal  mengatakan wajar pada paruh pertama tahun ini kredit konsumer menjadi  satu pendorong pertumbuhan total pembiayaan yang disalurkan perbankan.  Pasalnya korporasi masih menahan diri untuk mencari sumber pembiayaan  eksternal.
Dia menggarisbawahi bahwa kondisi ekonomi global memengaruhi  permintaan pembiayaan korporasi kepada perbankan. Di pasar domestik,  meskipun juga mengalami tekanan, tetapi masih tumbuh positif.   &amp;ldquo;Permintaan domestik memang masih tumbuh positif, walaupun jauh lebih  lambat,&amp;rdquo; katanya, baru-baru ini.
Adapun saat ini konsumsi rumah tangga berkontribusi sekitar 55%  terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Ke depan mendorong konsumsi rumah  tangga akan menjadi satu tantangan, seiring dengan melambatnya inflasi  pada tahun ini.
Kendati demikian, kredit konsumer diperkirakan masih akan menjadi  satu stimulus bagi bank di Tanah Air dalam menjaga pertumbuhan  pembiayaan. Hal ini khususnya terkait dengan KPR dan juga KTA. Faisal  pun menambahkan bahwa menjelang akhir tahun kredit konsumer akan  terdorong dengan dimulainya periode kampanye untuk pemilihan umum tahun  depan.
Menurut catatan BPS, konsumsi rumah tangga menjadi pendongkrak  pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2023 dan berkontribusi sebesar  53,31% terhadap produk domestik bruto (PDB).
</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMi8wOC80LzE2MjI4NC81L3g4ajZna3k=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Kredit konsumer BRI tumbuh 11,5% menjadi tanda bahwa ekonomi Indonesia bangkit. Daya beli masyarakat mulai berangsur pulih pasca pandemi Covid-19.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI pun berupaya mengoptimalkan daya beli masyarakat sehingga memacu pertumbuhan kredit konsumer, salah satunya ditopang Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Tanpa Agunan (KTA).

BACA JUGA:
Cara BRI Dorong Pertumbuhan Bisnis Perbankan Lewat Digital


Emiten bersandi BBRI ini mencatat pertumbuhan kredit konsumer bank only sebesar 11,5% secara tahunan/year on year (yoy) menjadi Rp171,5 triliun sepanjang semester I 2023. Capaian tersebut melanjutkan pertumbuhan dua digit yang juga dicapai pada kuartal I 2023.
Direktur Bisnis Konsumer BRI Handayani mengatakan perseroan secara berkelanjutan terus memperkuat kapabilitas retail banking pada tahun ini. Pihaknya menekankan bahwa salah satu strateginya adalah konsisten melakukan perbaikan business process reengineering, salah satunya seperti implementasi Consumer Loan Factory (CLF).

BACA JUGA:
BRI Berikan Bantuan ke Warga Terdampak Banjir Binjai


&amp;ldquo;Kita bersama bisa melihat bahwa daya beli masyarakat cenderung pulih setelah pandemi. Juga tren inflasi yang menurun. Sehingga kami bisa mengoptimalkan kinerja di segmen konsumer melalui strategi yang kami terapkan,&amp;rdquo; ujar Handayani dalam keterangan resminya, Rabu (11/10/2023).
Perlu diketahui, Bank Indonesia (BI) mencatat, memasuki tahun 2023 yaitu pada Januari inflasi mencapai 5,28%, sedangkan pada Agustus mencapai 3,27%. Pada rentang delapan bulan tersebut, inflasi tertinggi tercatat pada Februari yaitu 5,47% dan terendah pada Juli sebesar 3,08%. BI pun memproyeksikan sepanjang tahun ini inflasi berada di kisaran 3+1%.Oleh karena itu, Handayani memproyeksikan kredit konsumer tahun ini  terbilang baik karena inflasi yang cenderung menurun. Adapun secara  persentase, per Juni 2023, Kredit Tanpa Agunan (KTA) merupakan kredit  konsumer yang tumbuh paling tinggi, yakni 16,5% yoy dan diikuti KPR 8,7%  yoy.
Namun, sebagian besar kredit konsumer atau 67,8% merupakan sumbangsih  KPR. Geliat kredit konsumer tersebut juga diikuti dengan kualitas asset  yang sehat. Per Juni 2023, rasio kredit bermasalah (Non Performing  Loan/NPL) segmen konsumer hanya sebesar 2,0%. Adapun secara total, BRI  menyalurkan kredit sebesar Rp1.202,1 triliun, atau naik 8,8% yoy. Dengan  demikian segmen konsumer berkontribusi sebesar 14,3%.
&amp;ldquo;Untuk mengoptimalkan kinerja, kami juga akan memberikan pelayanan  kepada nasabah melalui berbagai kanal dan membuka kerja sama API  connection dengan berbagai pihak. Agar penyaluran kredit dapat terpacu  sesuai target dan nasabah lebih nyaman bertransaksi,&amp;rdquo; lanjutnya.
Terdorong Pertumbuhan Positif Pasar Domestik
Sementara itu, mengutip data Bank Indonesia, industri perbankan  menyalurkan kredit konsumer senilai Rp1.923 triliun hingga Agustus 2023.  Angka tersebut naik 9,1% secara tahunan (yoy), atau di atas pertumbuhan  total pembiayaan yang disalurkan bank.
Pada periode tersebut, penyaluran kredit bank kepada pihak ketiga  mencapai senilai Rp 6.709,5 triliun atau naik 8,9% yoy. Dengan demikian,  sebanyak 28,7% di antaranya merupakan kredit konsumer.
Terpisah, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal  mengatakan wajar pada paruh pertama tahun ini kredit konsumer menjadi  satu pendorong pertumbuhan total pembiayaan yang disalurkan perbankan.  Pasalnya korporasi masih menahan diri untuk mencari sumber pembiayaan  eksternal.
Dia menggarisbawahi bahwa kondisi ekonomi global memengaruhi  permintaan pembiayaan korporasi kepada perbankan. Di pasar domestik,  meskipun juga mengalami tekanan, tetapi masih tumbuh positif.   &amp;ldquo;Permintaan domestik memang masih tumbuh positif, walaupun jauh lebih  lambat,&amp;rdquo; katanya, baru-baru ini.
Adapun saat ini konsumsi rumah tangga berkontribusi sekitar 55%  terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Ke depan mendorong konsumsi rumah  tangga akan menjadi satu tantangan, seiring dengan melambatnya inflasi  pada tahun ini.
Kendati demikian, kredit konsumer diperkirakan masih akan menjadi  satu stimulus bagi bank di Tanah Air dalam menjaga pertumbuhan  pembiayaan. Hal ini khususnya terkait dengan KPR dan juga KTA. Faisal  pun menambahkan bahwa menjelang akhir tahun kredit konsumer akan  terdorong dengan dimulainya periode kampanye untuk pemilihan umum tahun  depan.
Menurut catatan BPS, konsumsi rumah tangga menjadi pendongkrak  pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2023 dan berkontribusi sebesar  53,31% terhadap produk domestik bruto (PDB).
</content:encoded></item></channel></rss>
