<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Surplus Neraca Perdagangan RI Dinilai Tak Sehat, Kok Bisa?</title><description>Surplus neraca perdagangan Indonesia dinilai tidak sehat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/10/17/320/2902831/surplus-neraca-perdagangan-ri-dinilai-tak-sehat-kok-bisa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/10/17/320/2902831/surplus-neraca-perdagangan-ri-dinilai-tak-sehat-kok-bisa"/><item><title>Surplus Neraca Perdagangan RI Dinilai Tak Sehat, Kok Bisa?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/10/17/320/2902831/surplus-neraca-perdagangan-ri-dinilai-tak-sehat-kok-bisa</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/10/17/320/2902831/surplus-neraca-perdagangan-ri-dinilai-tak-sehat-kok-bisa</guid><pubDate>Selasa 17 Oktober 2023 14:16 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/17/320/2902831/surplus-neraca-perdagangan-ri-dinilai-tak-sehat-kok-bisa-9b8I3XIvs2.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Neraca Perdagangan disebut tak sehat (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/17/320/2902831/surplus-neraca-perdagangan-ri-dinilai-tak-sehat-kok-bisa-9b8I3XIvs2.jpeg</image><title>Neraca Perdagangan disebut tak sehat (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMi8xNS80LzE2Mjc0MC81L3g4ajVnMnM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Surplus neraca perdagangan Indonesia dinilai tidak sehat. Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal menilai bahwa surplus neraca dagang RI sebesar USD3,4 miliar pada dasarnya bukan surplus yang sehat.
&quot;Surplus ini bisa sehat dan kurang sehat tergantung apa sebabnya. Pasalnya, surplus di bulan September lalu bukan disebabkan ekspor kita mengalami peningkatan,&quot; ujar Faisal dalam IDX Channel Live Market Review di Jakarta, Selasa (17/10/2023).

BACA JUGA:
IHSG Ditutup Melemah ke 6.896 meski Neraca Dagang Surplus


Ekspor RI, sebut dia, justru mengalami penurunan secara bulanan maupun secara tahunan dibandingkan bulan yang sama tahun lalu. Ini artinya, performa ekspor pun kurang sehat. Apalagi jika dilihat dari sisi impor.
&quot;Surplus melebar dibandingkan bulan lalu juga karena impor yang menurun lebih tajam. Sehingga, ekspor turun, impornya juga menurun lebih tajam,&quot; sambung Faisal.

BACA JUGA:
Neraca Dagang Indonesia Surplus USD3,12 Miliar, 40 Bulan Berturut-turut!


Dia mengatakan, impor yang menurun tajam hingga 8,15% bukan indikasi yang baik sebetulnya karena penurunan impor terjadi pada seluruh golongan barang, termasuk barang-barang konsumtif, bahan baku dan penolong juga secara bulanan turun hampir 5%, dan barang modal menurun.
&quot;Ini tidak sehat, dilihat dari pergerakan ekspor maupun impor. Khusus  untuk impor, ini terus terang berada di luar prediksi kami. Kami  memprediksikan penurunan tapi tidak setajam ini,&quot; tambah Faisal.
Dia menilai, penurunan impor yang tajam ini sebenarnya adalah  indikasi bahwa permasalahan perlambatan ekonomi sudah semakin terasa di  ekonomi domestik RI.
&quot;Sebenarnya ekonomi RI lebih resilien terhadap masalah di eksternal,  tapi dengan adanya penurunan impor ini, mau tidak mau kita sudah mulai  lebih merasakan dampak perlambatan ekonomi global terhadap permintaan di  dalam negeri yang bisa berdampak terhadap di hulu, yaitu industri  manufaktur, sehingga mengurangi pembelian terhadap bahan baku, penolong,  dan barang modal,&quot; pungkas Faisal.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMi8xNS80LzE2Mjc0MC81L3g4ajVnMnM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Surplus neraca perdagangan Indonesia dinilai tidak sehat. Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal menilai bahwa surplus neraca dagang RI sebesar USD3,4 miliar pada dasarnya bukan surplus yang sehat.
&quot;Surplus ini bisa sehat dan kurang sehat tergantung apa sebabnya. Pasalnya, surplus di bulan September lalu bukan disebabkan ekspor kita mengalami peningkatan,&quot; ujar Faisal dalam IDX Channel Live Market Review di Jakarta, Selasa (17/10/2023).

BACA JUGA:
IHSG Ditutup Melemah ke 6.896 meski Neraca Dagang Surplus


Ekspor RI, sebut dia, justru mengalami penurunan secara bulanan maupun secara tahunan dibandingkan bulan yang sama tahun lalu. Ini artinya, performa ekspor pun kurang sehat. Apalagi jika dilihat dari sisi impor.
&quot;Surplus melebar dibandingkan bulan lalu juga karena impor yang menurun lebih tajam. Sehingga, ekspor turun, impornya juga menurun lebih tajam,&quot; sambung Faisal.

BACA JUGA:
Neraca Dagang Indonesia Surplus USD3,12 Miliar, 40 Bulan Berturut-turut!


Dia mengatakan, impor yang menurun tajam hingga 8,15% bukan indikasi yang baik sebetulnya karena penurunan impor terjadi pada seluruh golongan barang, termasuk barang-barang konsumtif, bahan baku dan penolong juga secara bulanan turun hampir 5%, dan barang modal menurun.
&quot;Ini tidak sehat, dilihat dari pergerakan ekspor maupun impor. Khusus  untuk impor, ini terus terang berada di luar prediksi kami. Kami  memprediksikan penurunan tapi tidak setajam ini,&quot; tambah Faisal.
Dia menilai, penurunan impor yang tajam ini sebenarnya adalah  indikasi bahwa permasalahan perlambatan ekonomi sudah semakin terasa di  ekonomi domestik RI.
&quot;Sebenarnya ekonomi RI lebih resilien terhadap masalah di eksternal,  tapi dengan adanya penurunan impor ini, mau tidak mau kita sudah mulai  lebih merasakan dampak perlambatan ekonomi global terhadap permintaan di  dalam negeri yang bisa berdampak terhadap di hulu, yaitu industri  manufaktur, sehingga mengurangi pembelian terhadap bahan baku, penolong,  dan barang modal,&quot; pungkas Faisal.</content:encoded></item></channel></rss>
