<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rupiah Nyaris Rp16.000 per USD, Ternyata Ini Biang Keroknya</title><description>Nilai tukar Rupiah hari ini nyaris menyentuh level Rp16.000 per USD.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/10/23/320/2906548/rupiah-nyaris-rp16-000-per-usd-ternyata-ini-biang-keroknya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/10/23/320/2906548/rupiah-nyaris-rp16-000-per-usd-ternyata-ini-biang-keroknya"/><item><title>Rupiah Nyaris Rp16.000 per USD, Ternyata Ini Biang Keroknya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/10/23/320/2906548/rupiah-nyaris-rp16-000-per-usd-ternyata-ini-biang-keroknya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/10/23/320/2906548/rupiah-nyaris-rp16-000-per-usd-ternyata-ini-biang-keroknya</guid><pubDate>Senin 23 Oktober 2023 14:09 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/23/320/2906548/rupiah-nyaris-rp16-000-per-usd-ternyata-ini-biang-keroknya-Ks23hRbUJh.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Penyebab nilai tukar rupiah melemah (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/23/320/2906548/rupiah-nyaris-rp16-000-per-usd-ternyata-ini-biang-keroknya-Ks23hRbUJh.jpeg</image><title>Penyebab nilai tukar rupiah melemah (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8xOC80LzE1NTEyNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Nilai tukar Rupiah hari ini nyaris menyentuh level Rp16.000 per USD. Pada perdagangan Senin (23/10/2023) pukul 13.00 WIB, Rupiah 0,46% atau 74,5 poin ke Rp15.947 per dolar AS.
Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede mengatakan, dari kondisi nilai tukar rupiah yang mengalami pelemahan, dari sisi stabilitas rupiah sebenarnya cenderung masih mengalami tren yang menurun.

BACA JUGA:
Rupiah Dekati Rp16.000/USD, Siap-Siap Harga Baja Bakal Naik!


&quot;Kalau kita lihat bandingkan kondisi di 2020 dan kita bandingan kondisi pada saat 2022, volatilitas rupiah mengalami tren yang menurun sampai dengan saat ini,&quot; ujar Josua, Senin (23/10/2023).
Meski hingga akhir Oktober 2023 rupiah diprediksi masih akan berada dalam tekanan, ada beberapa cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang ini. Salah satunya adalah mengurangi impor bahan baku dan impor pangan.

BACA JUGA:
Rupiah Kian Melemah Dekati Rp16.000/USD Pagi Ini


&quot;Tentunya, kita berharap bagaimana peningkatan produktivitas nasional terlebih dahulu,&quot; kata Josua.
&quot;Sehingga ini bagaimana kita menggerakkan kembali lagi meningkatkan dari tadi produktivitas dari sektor-sektor ekonomi kita,&quot; imbuhnya.
Josua juga mengapresiasi langkah Bank Indonesia terkait dengan local currency transaction (LCT), bagaimana transaksi ekspor-impor dengan menggunakan mata uang lokal dan juga transaksi investasi juga dengan mata uang lokal. Ditambah lagi, antar QR crossborder ini pun membuka payment di antara kawasan Asia.
&quot;Jadi tentunya ini dapat bisa mengurangi ketergantungan dan terutama  lagi misalkan rupiah ya bagaimana kita bisa lebih resilien lagi,&quot; ungkap  Josua.
Ekonom PermataBank ini melihat resiliensi rupiah nilainya sejauh ini  cukup baik, tentunya bagaimana tadi keseimbangan eksternalnya diperkuat  dengan penguatan current account balance kita.
&quot;Kalau kita perhatikan bisa meningkatkan value chain nya artinya  mendorong hilirisasi agar misalkan produksi baterai mobil listrik  alumunium bisa dilakukan di dalam negeri sehingga meningkatkan current  account balance nya,&quot; jelas Josua.
Adapun pelemahan rupiah masih tergantung pada faktor eksternal yaitu  kondisi global saat ini. Konflik Israel-Hamas yang semakin memanas juga  meningkatkan tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Kondisi ini menyebabkan risiko higher-for-longer atau suku bunga  tinggi lebih lama akan meningkat. Ruang kenaikan suku bunga kebijakan  bank sentral AS Federal Reserve masih akan terbuka di sisa tahun ini.
Menurut Josua, rupiah lebih banyak faktor sentimen fundamental yang harusnya bisa membuat mata uang ini menguat lagi.
&quot;Tapi dengan faktor sentimen tadi, dua dari tensi geopolitik dan juga  ketidakpastian dari arah suku bunga AS, sehingga sentimennya akhirnya  berpengaruh pada pelemahan rupiah,&quot; pungkas Josua.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMC8xOC80LzE1NTEyNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Nilai tukar Rupiah hari ini nyaris menyentuh level Rp16.000 per USD. Pada perdagangan Senin (23/10/2023) pukul 13.00 WIB, Rupiah 0,46% atau 74,5 poin ke Rp15.947 per dolar AS.
Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede mengatakan, dari kondisi nilai tukar rupiah yang mengalami pelemahan, dari sisi stabilitas rupiah sebenarnya cenderung masih mengalami tren yang menurun.

BACA JUGA:
Rupiah Dekati Rp16.000/USD, Siap-Siap Harga Baja Bakal Naik!


&quot;Kalau kita lihat bandingkan kondisi di 2020 dan kita bandingan kondisi pada saat 2022, volatilitas rupiah mengalami tren yang menurun sampai dengan saat ini,&quot; ujar Josua, Senin (23/10/2023).
Meski hingga akhir Oktober 2023 rupiah diprediksi masih akan berada dalam tekanan, ada beberapa cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang ini. Salah satunya adalah mengurangi impor bahan baku dan impor pangan.

BACA JUGA:
Rupiah Kian Melemah Dekati Rp16.000/USD Pagi Ini


&quot;Tentunya, kita berharap bagaimana peningkatan produktivitas nasional terlebih dahulu,&quot; kata Josua.
&quot;Sehingga ini bagaimana kita menggerakkan kembali lagi meningkatkan dari tadi produktivitas dari sektor-sektor ekonomi kita,&quot; imbuhnya.
Josua juga mengapresiasi langkah Bank Indonesia terkait dengan local currency transaction (LCT), bagaimana transaksi ekspor-impor dengan menggunakan mata uang lokal dan juga transaksi investasi juga dengan mata uang lokal. Ditambah lagi, antar QR crossborder ini pun membuka payment di antara kawasan Asia.
&quot;Jadi tentunya ini dapat bisa mengurangi ketergantungan dan terutama  lagi misalkan rupiah ya bagaimana kita bisa lebih resilien lagi,&quot; ungkap  Josua.
Ekonom PermataBank ini melihat resiliensi rupiah nilainya sejauh ini  cukup baik, tentunya bagaimana tadi keseimbangan eksternalnya diperkuat  dengan penguatan current account balance kita.
&quot;Kalau kita perhatikan bisa meningkatkan value chain nya artinya  mendorong hilirisasi agar misalkan produksi baterai mobil listrik  alumunium bisa dilakukan di dalam negeri sehingga meningkatkan current  account balance nya,&quot; jelas Josua.
Adapun pelemahan rupiah masih tergantung pada faktor eksternal yaitu  kondisi global saat ini. Konflik Israel-Hamas yang semakin memanas juga  meningkatkan tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Kondisi ini menyebabkan risiko higher-for-longer atau suku bunga  tinggi lebih lama akan meningkat. Ruang kenaikan suku bunga kebijakan  bank sentral AS Federal Reserve masih akan terbuka di sisa tahun ini.
Menurut Josua, rupiah lebih banyak faktor sentimen fundamental yang harusnya bisa membuat mata uang ini menguat lagi.
&quot;Tapi dengan faktor sentimen tadi, dua dari tensi geopolitik dan juga  ketidakpastian dari arah suku bunga AS, sehingga sentimennya akhirnya  berpengaruh pada pelemahan rupiah,&quot; pungkas Josua.</content:encoded></item></channel></rss>
