<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Suku Bunga Acuan BI Naik, Penjualan Rumah Bisa Terkoreksi</title><description>Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) akan berdampak pada penjualan rumah.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/10/23/470/2906707/suku-bunga-acuan-bi-naik-penjualan-rumah-bisa-terkoreksi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/10/23/470/2906707/suku-bunga-acuan-bi-naik-penjualan-rumah-bisa-terkoreksi"/><item><title>Suku Bunga Acuan BI Naik, Penjualan Rumah Bisa Terkoreksi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/10/23/470/2906707/suku-bunga-acuan-bi-naik-penjualan-rumah-bisa-terkoreksi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/10/23/470/2906707/suku-bunga-acuan-bi-naik-penjualan-rumah-bisa-terkoreksi</guid><pubDate>Senin 23 Oktober 2023 17:08 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/10/23/470/2906707/suku-bunga-acuan-bi-naik-penjualan-rumah-bisa-terkoreksi-E8JrHf6hox.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Penjualan rumah diprediksi turun (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/10/23/470/2906707/suku-bunga-acuan-bi-naik-penjualan-rumah-bisa-terkoreksi-E8JrHf6hox.jpeg</image><title>Penjualan rumah diprediksi turun (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8wNy80LzE1NjM5OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) akan berdampak pada penjualan rumah. Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI), Joko Suranto mengatakan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia di angka 6% bakal memberikan dampak terhadap industri properti di tanah air.
Mengingat saat ini mayoritas masyarakat di Indonesia membeli rumah melalui skema kredit dari perbankan di tanah air. Sehingga kenaikan suku bunga acuan apabila direspons dengan kenaikan suku bunga kredit dalam hal ini KPR (Kredir Pemilikan Rumah) bakal mengoreksi target-target penjualan rumah pada tahun ini.

BACA JUGA:
Suku Bunga Acuan BI Naik, Siap-Siap KPR Melambung Tinggi


Namun demikian, Joko menjelaskan penurunan itu menurut tidak akan berdampak jauh pada industri properti. Menurut proyeksinya, dengan kenaikan suku bunga acuan BI yang saat ini 6% maka kemungkinan ada koreksi terhadap target penjualan paling besar 3%.
&quot;Saya yakin industri properti tidak terlalu terpengaruh, taruhlah ada koreksi itu juga relatif kecil lah. Kemungkinan maksimal (terkoreksi) 3% lah,&quot; ujar Joko saat dihubungi MNC Portal, Senin (23/10/2023).
Joko menilai industri properti tidak terlalu berpengaruh dengan kenaikan suku bunga acuan BI. Asalkan perbankan milik negara tidak memberikan respons yang berlebih untuk turut mengerek suku bunga acuan terlalu tinggi.

BACA JUGA:
Berapa Lama Tenor KPR Rumah


&quot;Suku bunga BI sebagai acuan itu kan in Lane terhadap kenaikan suku bunga kredit, otomatis kalau seperti itu pastinya target-target, realisasi, itu pasti kalau dari sisi pengusaha akan mencermati dahulu, dan akan membuat gimick tertentu,&quot; kata Joko.
Karena menurut Joko ketika perbankan menaikkan suku bunga kreditnya, maka baik konsumen ataupun pengembang bakal terkena dampaknya. Para pengembang bakal berpikir lebih jauh untuk melakukan ekspansi atau meluncurkan hunian baru, atau konsumen yang menunda pembelian rumah karena bunganya masih tinggi.
&quot;Padahal properti ini menjadi salah satu faktor untuk pertumbuhan ekonomi, backbone manufaktur, ini juga adalah sektor yang merupakan padat karya, ini yang harus dihitung oleh kita semua,&quot; lanjutnya.
Menurutnya kenaikan suku bunga kredit itu akan berdampak pada  penjualan rumah non subsidi atau untuk masyarakat berpenghasilan  menengah atas. Di satu sisi industri properti saat ini juga masih belum  kembali ke titik normalnya penjualan.
Dijelaskan Joko semisal penjualan properti anggota REI sebelum  pandemi 100% mencapai target, maka pasca pandemi hingga saat ini  industri properti diperkirakan baru pulih sekitar 75%. Namun kinerja  tersebut terancam kembali turun hingga 3% jika imbas adanya kenaikan  suku bunga BI.
&quot;Kalau saat ini baru sekitar 75% properti ini kembali, jika  dibandingkan dengan sebelum pandemi atau tahun 2019. Tapi sektor ini  terbukti secara fundamental bisa mengatasi gejolak ekonomi,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8wNy80LzE1NjM5OS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) akan berdampak pada penjualan rumah. Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI), Joko Suranto mengatakan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia di angka 6% bakal memberikan dampak terhadap industri properti di tanah air.
Mengingat saat ini mayoritas masyarakat di Indonesia membeli rumah melalui skema kredit dari perbankan di tanah air. Sehingga kenaikan suku bunga acuan apabila direspons dengan kenaikan suku bunga kredit dalam hal ini KPR (Kredir Pemilikan Rumah) bakal mengoreksi target-target penjualan rumah pada tahun ini.

BACA JUGA:
Suku Bunga Acuan BI Naik, Siap-Siap KPR Melambung Tinggi


Namun demikian, Joko menjelaskan penurunan itu menurut tidak akan berdampak jauh pada industri properti. Menurut proyeksinya, dengan kenaikan suku bunga acuan BI yang saat ini 6% maka kemungkinan ada koreksi terhadap target penjualan paling besar 3%.
&quot;Saya yakin industri properti tidak terlalu terpengaruh, taruhlah ada koreksi itu juga relatif kecil lah. Kemungkinan maksimal (terkoreksi) 3% lah,&quot; ujar Joko saat dihubungi MNC Portal, Senin (23/10/2023).
Joko menilai industri properti tidak terlalu berpengaruh dengan kenaikan suku bunga acuan BI. Asalkan perbankan milik negara tidak memberikan respons yang berlebih untuk turut mengerek suku bunga acuan terlalu tinggi.

BACA JUGA:
Berapa Lama Tenor KPR Rumah


&quot;Suku bunga BI sebagai acuan itu kan in Lane terhadap kenaikan suku bunga kredit, otomatis kalau seperti itu pastinya target-target, realisasi, itu pasti kalau dari sisi pengusaha akan mencermati dahulu, dan akan membuat gimick tertentu,&quot; kata Joko.
Karena menurut Joko ketika perbankan menaikkan suku bunga kreditnya, maka baik konsumen ataupun pengembang bakal terkena dampaknya. Para pengembang bakal berpikir lebih jauh untuk melakukan ekspansi atau meluncurkan hunian baru, atau konsumen yang menunda pembelian rumah karena bunganya masih tinggi.
&quot;Padahal properti ini menjadi salah satu faktor untuk pertumbuhan ekonomi, backbone manufaktur, ini juga adalah sektor yang merupakan padat karya, ini yang harus dihitung oleh kita semua,&quot; lanjutnya.
Menurutnya kenaikan suku bunga kredit itu akan berdampak pada  penjualan rumah non subsidi atau untuk masyarakat berpenghasilan  menengah atas. Di satu sisi industri properti saat ini juga masih belum  kembali ke titik normalnya penjualan.
Dijelaskan Joko semisal penjualan properti anggota REI sebelum  pandemi 100% mencapai target, maka pasca pandemi hingga saat ini  industri properti diperkirakan baru pulih sekitar 75%. Namun kinerja  tersebut terancam kembali turun hingga 3% jika imbas adanya kenaikan  suku bunga BI.
&quot;Kalau saat ini baru sekitar 75% properti ini kembali, jika  dibandingkan dengan sebelum pandemi atau tahun 2019. Tapi sektor ini  terbukti secara fundamental bisa mengatasi gejolak ekonomi,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
