<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ini 3 Tantangan Industri Penerbangan di Indonesia</title><description>Indonesia National Air Carrier Association (INACA) menyatakan bahwa terdapat tiga tantangan yang dihadapi industri penerbangan di Indonesia</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/02/320/2913454/ini-3-tantangan-industri-penerbangan-di-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/11/02/320/2913454/ini-3-tantangan-industri-penerbangan-di-indonesia"/><item><title>Ini 3 Tantangan Industri Penerbangan di Indonesia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/02/320/2913454/ini-3-tantangan-industri-penerbangan-di-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/11/02/320/2913454/ini-3-tantangan-industri-penerbangan-di-indonesia</guid><pubDate>Kamis 02 November 2023 21:31 WIB</pubDate><dc:creator>Heri Purnomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/02/320/2913454/ini-3-tantangan-industri-penerbangan-di-indonesia-TZkvTI0AQP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Industri Penerbangan di Indonesia (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/02/320/2913454/ini-3-tantangan-industri-penerbangan-di-indonesia-TZkvTI0AQP.jpg</image><title>Industri Penerbangan di Indonesia (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8wMS8xLzE3MzA1MC81L3g4cDkyMTQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Indonesia National Air Carrier Association (INACA) menyatakan bahwa terdapat tiga tantangan yang dihadapi industri penerbangan di Indonesia.
Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja menyebut bahwa 3 tantangan tersebut perlu mendapatkan perhatian serius seluruh stakeholder penerbangan.

BACA JUGA:
Menhub Sebut Pergerakan Dolar AS hingga Avtur Jadi Hambatan Industri Penerbangan

Pasalnya, bisnis penerbangan nasional pada tahun 2023 ini telah mengalami pemulihan pasca krisis akibat pandemi Covid-19. Bahka diperkirakan lalu lintas penumpang domestik pada tahun 2023 mencapai 74,7 juta atau 94% dari tahun 2019 dan lalu lintas penumpang internasional berjumlah 28 juta atau 75% dari tahun 2019.
&quot;Namun setidaknya ada tiga tantangan yang saat ini dihadapi dan perlu mendapat perhatian serius oleh stakeholder bisnis penerbangan nasional, baik operator dan regulator. Pertama terkait sistem importasi suku cadang (spareparts) pesawat, kedua harga bahan bakar avtur yang cenderung naik, dan ketiga perbaikan tarif penerbangan,&amp;rdquo; katanya di Park Hyatt, Kamis (2/11/2023).

BACA JUGA:
Penumpang Penerbangan Domestik Turun pada September 2023, Ini Penyebabnya

INACA meyakini bahwa bisnis penerbangan Indonesia akan segera pulih. Cepat atau lambatnya pemulihan bisnis penerbangan nasional bergantung pada bagaimana stakeholder penerbangan nasional menyikapi tantangan-tantangan tersebut.Menurut Denon, jumlah permintaan jasa penerbangan saat ini cenderung naik, tetapi jumlah pesawat yang beroperasi justru turun.
Hal ini salah satunya karena proses importasi spareparts pesawat yang membutuhkan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit. Akibatnya banyak pesawat yang perlu waktu lama dirawat di MRO dan tidak bisa segera dioperasikan.
Selain itu, harga avtur yang cenderung naik karena kondisi sosial politik global seperti perang Rusia-Ukraina dan perang Israel-Palestina juga mempengaruhi biaya operasional penerbangan.
Biaya avtur mencapai 36% dari total biaya operasi penerbangan (total operating cost/ TOC) sehingga naik turunnya harga avtur berpengaruh pada total TOC.
Denon menjelaskan, terkait bahan bakar pesawat, selain memperbaiki harga avtur, juga perlu dipikirkan mengenai penggunaan bahan bakar berkelanjutan (sustainable aviation fuel/ SAF) di operasional pesawat.
&quot;Selama tahun 2023 INACA telah melakukan advokasi dan kegiatan lain untuk turut menyelesaikan tantangan tersebut dalam rangka mempercepat momentum pemulihan bisnis penerbangan nasional. Kami telah bekerjasama dengan stakeholder lain baik di dalam maupun luar negeri seperti Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi, Kementerian Perhubungan, dan kementerian lain, juga pabrikan pesawat Boeing, Airbus, Embraer, Asosiasi Maskapai Penerbangan Internasional (IATA) dan yang lainnya,&amp;rdquo; lanjut Denon.
INACA berharap pemulihan bisnis penerbangan nasional dapat dipercepat dengan meningkatkan kerjasama yang erat antar stakeholder untuk menyelesaikan tantangan-tantangan yang saat ini sedang dihadapi.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8wMS8xLzE3MzA1MC81L3g4cDkyMTQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Indonesia National Air Carrier Association (INACA) menyatakan bahwa terdapat tiga tantangan yang dihadapi industri penerbangan di Indonesia.
Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja menyebut bahwa 3 tantangan tersebut perlu mendapatkan perhatian serius seluruh stakeholder penerbangan.

BACA JUGA:
Menhub Sebut Pergerakan Dolar AS hingga Avtur Jadi Hambatan Industri Penerbangan

Pasalnya, bisnis penerbangan nasional pada tahun 2023 ini telah mengalami pemulihan pasca krisis akibat pandemi Covid-19. Bahka diperkirakan lalu lintas penumpang domestik pada tahun 2023 mencapai 74,7 juta atau 94% dari tahun 2019 dan lalu lintas penumpang internasional berjumlah 28 juta atau 75% dari tahun 2019.
&quot;Namun setidaknya ada tiga tantangan yang saat ini dihadapi dan perlu mendapat perhatian serius oleh stakeholder bisnis penerbangan nasional, baik operator dan regulator. Pertama terkait sistem importasi suku cadang (spareparts) pesawat, kedua harga bahan bakar avtur yang cenderung naik, dan ketiga perbaikan tarif penerbangan,&amp;rdquo; katanya di Park Hyatt, Kamis (2/11/2023).

BACA JUGA:
Penumpang Penerbangan Domestik Turun pada September 2023, Ini Penyebabnya

INACA meyakini bahwa bisnis penerbangan Indonesia akan segera pulih. Cepat atau lambatnya pemulihan bisnis penerbangan nasional bergantung pada bagaimana stakeholder penerbangan nasional menyikapi tantangan-tantangan tersebut.Menurut Denon, jumlah permintaan jasa penerbangan saat ini cenderung naik, tetapi jumlah pesawat yang beroperasi justru turun.
Hal ini salah satunya karena proses importasi spareparts pesawat yang membutuhkan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit. Akibatnya banyak pesawat yang perlu waktu lama dirawat di MRO dan tidak bisa segera dioperasikan.
Selain itu, harga avtur yang cenderung naik karena kondisi sosial politik global seperti perang Rusia-Ukraina dan perang Israel-Palestina juga mempengaruhi biaya operasional penerbangan.
Biaya avtur mencapai 36% dari total biaya operasi penerbangan (total operating cost/ TOC) sehingga naik turunnya harga avtur berpengaruh pada total TOC.
Denon menjelaskan, terkait bahan bakar pesawat, selain memperbaiki harga avtur, juga perlu dipikirkan mengenai penggunaan bahan bakar berkelanjutan (sustainable aviation fuel/ SAF) di operasional pesawat.
&quot;Selama tahun 2023 INACA telah melakukan advokasi dan kegiatan lain untuk turut menyelesaikan tantangan tersebut dalam rangka mempercepat momentum pemulihan bisnis penerbangan nasional. Kami telah bekerjasama dengan stakeholder lain baik di dalam maupun luar negeri seperti Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi, Kementerian Perhubungan, dan kementerian lain, juga pabrikan pesawat Boeing, Airbus, Embraer, Asosiasi Maskapai Penerbangan Internasional (IATA) dan yang lainnya,&amp;rdquo; lanjut Denon.
INACA berharap pemulihan bisnis penerbangan nasional dapat dipercepat dengan meningkatkan kerjasama yang erat antar stakeholder untuk menyelesaikan tantangan-tantangan yang saat ini sedang dihadapi.</content:encoded></item></channel></rss>
