<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tak Seimbang, Ini Penyebab Permintaan Minyak Sawit Lebih Besar Dibandingkan Produksi</title><description>Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyampaikan bahwa permintaan minyak sawit lebih besar daripada produksinya.
&amp;nbsp;
&amp;nbsp;</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/03/320/2913789/tak-seimbang-ini-penyebab-permintaan-minyak-sawit-lebih-besar-dibandingkan-produksi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/11/03/320/2913789/tak-seimbang-ini-penyebab-permintaan-minyak-sawit-lebih-besar-dibandingkan-produksi"/><item><title>Tak Seimbang, Ini Penyebab Permintaan Minyak Sawit Lebih Besar Dibandingkan Produksi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/03/320/2913789/tak-seimbang-ini-penyebab-permintaan-minyak-sawit-lebih-besar-dibandingkan-produksi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/11/03/320/2913789/tak-seimbang-ini-penyebab-permintaan-minyak-sawit-lebih-besar-dibandingkan-produksi</guid><pubDate>Jum'at 03 November 2023 14:13 WIB</pubDate><dc:creator> Ikhsan Permana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/03/320/2913789/tak-seimbang-ini-penyebab-permintaan-minyak-sawit-lebih-besar-dibandingkan-produksi-D0sUCzOVKJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Permintaan minyak sawit tak seimbang dengan produksinya. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/03/320/2913789/tak-seimbang-ini-penyebab-permintaan-minyak-sawit-lebih-besar-dibandingkan-produksi-D0sUCzOVKJ.jpg</image><title>Permintaan minyak sawit tak seimbang dengan produksinya. (Foto: Reuters)</title></images><description>
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8yNC80LzE3MjY1NS81L3g4cDF5NnQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyampaikan bahwa permintaan minyak sawit dan minyak nabati lebih besar daripada produksinya.

sehingga hal tersebut mendorong harga untuk meningkat.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Ganti Pipa Bawah Air, Produksi Minyak Pertamina Naik?

Ketua Bidang Luar Negeri Gapki Fadhil Hasan mengatakan program replanting atau peremajaan tanaman sawit menjadi salah satu solusi menghadapi persoalan produktivitas.

&quot;Program replanting ini adalah salah satu cara atau bahkan cara kita untuk meningkatkan pasokan minyak sawit ke pasar internasional dan juga memenuhi peningkatan permintaan di pasar domestik,&quot; kata Fadhil dalam siaran Market Review di IDX Channel, Jumat (3/11/2023).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Waspada! Ini Dampak Minyak Rem Mobil Jarang Ganti

Fadhil khawatir jika produksi sawit terus mengalami penurunan, maka Indonesia akan menghadapi persoalan-persoalan ekonomi.
&quot;Menurunnya devisa yang kita peroleh, kemudian jika kita tidak bisa memenuhi program biofuel kita, kemudian dampak-dampak ekonomi lainnya,&quot; ujarnya.


&amp;nbsp;BACA JUGA:

Alasan Kocak Nikita Mirzani Menolak Masuk Geng Cendol

Oleh karena itu, dia tidak ingin program replanting yang disiapkan pemerintah dengan dana sebesar Rp5,7 triliun tidak hanya sekedar mengganti tanaman-tanaman yang sudah tua dengan tanaman baru, tetapi harus difokuskan pada peningkatan produksi.



&quot;Kita ingin program replanting ini dalam konteks lebih luas. Kita ini sekarang menghadapi persoalan produktivitas yang cenderung stagnan atau bahkan menurun,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8yNC80LzE3MjY1NS81L3g4cDF5NnQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyampaikan bahwa permintaan minyak sawit dan minyak nabati lebih besar daripada produksinya.

sehingga hal tersebut mendorong harga untuk meningkat.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Ganti Pipa Bawah Air, Produksi Minyak Pertamina Naik?

Ketua Bidang Luar Negeri Gapki Fadhil Hasan mengatakan program replanting atau peremajaan tanaman sawit menjadi salah satu solusi menghadapi persoalan produktivitas.

&quot;Program replanting ini adalah salah satu cara atau bahkan cara kita untuk meningkatkan pasokan minyak sawit ke pasar internasional dan juga memenuhi peningkatan permintaan di pasar domestik,&quot; kata Fadhil dalam siaran Market Review di IDX Channel, Jumat (3/11/2023).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Waspada! Ini Dampak Minyak Rem Mobil Jarang Ganti

Fadhil khawatir jika produksi sawit terus mengalami penurunan, maka Indonesia akan menghadapi persoalan-persoalan ekonomi.
&quot;Menurunnya devisa yang kita peroleh, kemudian jika kita tidak bisa memenuhi program biofuel kita, kemudian dampak-dampak ekonomi lainnya,&quot; ujarnya.


&amp;nbsp;BACA JUGA:

Alasan Kocak Nikita Mirzani Menolak Masuk Geng Cendol

Oleh karena itu, dia tidak ingin program replanting yang disiapkan pemerintah dengan dana sebesar Rp5,7 triliun tidak hanya sekedar mengganti tanaman-tanaman yang sudah tua dengan tanaman baru, tetapi harus difokuskan pada peningkatan produksi.



&quot;Kita ingin program replanting ini dalam konteks lebih luas. Kita ini sekarang menghadapi persoalan produktivitas yang cenderung stagnan atau bahkan menurun,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
