<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ganjar: Desa Jangan Dijadikan Kota, Harus Perhatikan Budaya Lokal</title><description>Pemerataan pertumbuhan ekonomi di daerah bisa dilakukan tanpa mengesampingkan budaya lokal yang sudah ada.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/08/320/2916681/ganjar-desa-jangan-dijadikan-kota-harus-perhatikan-budaya-lokal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/11/08/320/2916681/ganjar-desa-jangan-dijadikan-kota-harus-perhatikan-budaya-lokal"/><item><title>Ganjar: Desa Jangan Dijadikan Kota, Harus Perhatikan Budaya Lokal</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/08/320/2916681/ganjar-desa-jangan-dijadikan-kota-harus-perhatikan-budaya-lokal</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/11/08/320/2916681/ganjar-desa-jangan-dijadikan-kota-harus-perhatikan-budaya-lokal</guid><pubDate>Rabu 08 November 2023 15:14 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/08/320/2916681/ganjar-desa-jangan-dijadikan-kota-harus-perhatikan-budaya-lokal-1XfdIGXCkX.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pemerataan ekonomi daerah tak perlu mengesampingkan budaya lokal (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/08/320/2916681/ganjar-desa-jangan-dijadikan-kota-harus-perhatikan-budaya-lokal-1XfdIGXCkX.jpg</image><title>Pemerataan ekonomi daerah tak perlu mengesampingkan budaya lokal (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8wNy8xLzE3MzMyMS81L3g4cGV2ZHg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Pemerataan pertumbuhan ekonomi daerah bisa dilakukan tanpa mengesampingkan budaya lokal yang sudah ada. Pemerataan pembangunan bisa berjalan beriringan dengan melestarikan nilai nilai budaya di desa.
Calon Presiden Ganjar Pramono menilai pedesaan juga menyimpan potensi ekonomi saat ini belum banyak terjarah dan didorong pertumbuhannya.

BACA JUGA:
Mardiono dan Yenny Wahid Tiba di Markas TPN Ganjar-Mahfud


&quot;Desa jangan dijadikan kota, biarkan lokalitas muncul, biarkan kearifannya muncul, biarkan cara berkembang tidak harus ditata, sehingga dalam konteks government harus memperhatikan gaya desa,&quot; kata Ganjar dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia, Rabu (8/11/2023).
Ganjar menjelaskan salah satu strategi untuk pengembangan potensi ekonomi perdesaan dengan mengirimkan anak-anak miskin di desa untuk disekolahkan ke kota, dan ditarik kembali ke desa sehingga diharapkan bisa mengembangkan potensi ekonomi di desa tersebut.

BACA JUGA:
 Hary Tanoe Pamerkan Stiker Raksasa Ganjar-Mahfud di Gedung TPN 


Menurutnya hal tersebut memang bukanlah hal yang mudah dikerjakan oleh Pemerintah, tapi untuk mendorong hal tersebut diperlukan semacam insentif 'sebagai pemanis', agar masyarakat yang kuliah di kota tertarik untuk kembali ke desa.
&quot;Satu contoh, ketika ada dari keluarga miskin kita jadikan sarjana, dia selolah dari desa ke kota, kita harapkan dia kembali di desa dan kemudian dia akan membangun desanya, insentif yang diberikan yang diharapkan ini bisa membuat mereka tumbuh bersama dan bisa memberikan nilai tambah,&quot; lanjutnya.
Menurutnya, ketersediaan infrastruktur di desa memang jadi pendorong  untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi wilayah, namun ketersediaan  infrastruktur saja tidak akan lebih optimal jika tidak ada dukungan dari  sumber daya manusia yang kuat di desa.
&quot;Kalau kita melihat infrastruktur, saya kira 10 tahun pak Jokowi  sudah melaksanakan itu, pertanyaan ada yang protes kenapa bandara sepi,  pelabuhan sepi, jalan tol belum menghasilkan,&quot; lanjutnya.
Sebab menurut Ganjar pengoptimalan sekaligus menjaga kearifan lokal  di suatu desa bisa menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih kokoh  karena tumbuh secara organik. Pengembang ekonomi desa sekaligus menjaga  kearifan lokal juga diharapkan mampu menghasilkan nilai tambah yang  lebih luas bagi masyarakat desa itu sendiri.
&quot;Maka utilisasi kita lakukan, hari ini bukan hanya urusan  pemerintahan pusat, bagaimana mengorkestrasi pemangku kepentingan di  daerah, kemudian konsep yang kita lakukan bagaimana infrastruktur bisa  kita dorong,&quot; pungkasnya.

</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8wNy8xLzE3MzMyMS81L3g4cGV2ZHg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Pemerataan pertumbuhan ekonomi daerah bisa dilakukan tanpa mengesampingkan budaya lokal yang sudah ada. Pemerataan pembangunan bisa berjalan beriringan dengan melestarikan nilai nilai budaya di desa.
Calon Presiden Ganjar Pramono menilai pedesaan juga menyimpan potensi ekonomi saat ini belum banyak terjarah dan didorong pertumbuhannya.

BACA JUGA:
Mardiono dan Yenny Wahid Tiba di Markas TPN Ganjar-Mahfud


&quot;Desa jangan dijadikan kota, biarkan lokalitas muncul, biarkan kearifannya muncul, biarkan cara berkembang tidak harus ditata, sehingga dalam konteks government harus memperhatikan gaya desa,&quot; kata Ganjar dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia, Rabu (8/11/2023).
Ganjar menjelaskan salah satu strategi untuk pengembangan potensi ekonomi perdesaan dengan mengirimkan anak-anak miskin di desa untuk disekolahkan ke kota, dan ditarik kembali ke desa sehingga diharapkan bisa mengembangkan potensi ekonomi di desa tersebut.

BACA JUGA:
 Hary Tanoe Pamerkan Stiker Raksasa Ganjar-Mahfud di Gedung TPN 


Menurutnya hal tersebut memang bukanlah hal yang mudah dikerjakan oleh Pemerintah, tapi untuk mendorong hal tersebut diperlukan semacam insentif 'sebagai pemanis', agar masyarakat yang kuliah di kota tertarik untuk kembali ke desa.
&quot;Satu contoh, ketika ada dari keluarga miskin kita jadikan sarjana, dia selolah dari desa ke kota, kita harapkan dia kembali di desa dan kemudian dia akan membangun desanya, insentif yang diberikan yang diharapkan ini bisa membuat mereka tumbuh bersama dan bisa memberikan nilai tambah,&quot; lanjutnya.
Menurutnya, ketersediaan infrastruktur di desa memang jadi pendorong  untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi wilayah, namun ketersediaan  infrastruktur saja tidak akan lebih optimal jika tidak ada dukungan dari  sumber daya manusia yang kuat di desa.
&quot;Kalau kita melihat infrastruktur, saya kira 10 tahun pak Jokowi  sudah melaksanakan itu, pertanyaan ada yang protes kenapa bandara sepi,  pelabuhan sepi, jalan tol belum menghasilkan,&quot; lanjutnya.
Sebab menurut Ganjar pengoptimalan sekaligus menjaga kearifan lokal  di suatu desa bisa menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih kokoh  karena tumbuh secara organik. Pengembang ekonomi desa sekaligus menjaga  kearifan lokal juga diharapkan mampu menghasilkan nilai tambah yang  lebih luas bagi masyarakat desa itu sendiri.
&quot;Maka utilisasi kita lakukan, hari ini bukan hanya urusan  pemerintahan pusat, bagaimana mengorkestrasi pemangku kepentingan di  daerah, kemudian konsep yang kita lakukan bagaimana infrastruktur bisa  kita dorong,&quot; pungkasnya.

</content:encoded></item></channel></rss>
