<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kapasitas Bongkar Pelabuhan Jadi Hambatan Distribusi Impor Pangan ke Pasar</title><description>Kapasitas bongkar pelabuhan menjadi hambatan distribusi impor pangan ke pasar.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/08/320/2916938/kapasitas-bongkar-pelabuhan-jadi-hambatan-distribusi-impor-pangan-ke-pasar</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/11/08/320/2916938/kapasitas-bongkar-pelabuhan-jadi-hambatan-distribusi-impor-pangan-ke-pasar"/><item><title>Kapasitas Bongkar Pelabuhan Jadi Hambatan Distribusi Impor Pangan ke Pasar</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/08/320/2916938/kapasitas-bongkar-pelabuhan-jadi-hambatan-distribusi-impor-pangan-ke-pasar</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/11/08/320/2916938/kapasitas-bongkar-pelabuhan-jadi-hambatan-distribusi-impor-pangan-ke-pasar</guid><pubDate>Rabu 08 November 2023 21:04 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/08/320/2916938/kapasitas-bongkar-pelabuhan-jadi-hambatan-distribusi-impor-pangan-ke-pasar-0Esc76BIkJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Keterbatasan kapasitas pelabuhan jadi hambatan distribusi impor (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/08/320/2916938/kapasitas-bongkar-pelabuhan-jadi-hambatan-distribusi-impor-pangan-ke-pasar-0Esc76BIkJ.jpg</image><title>Keterbatasan kapasitas pelabuhan jadi hambatan distribusi impor (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8xOC80LzE3MjM1My81L3g4b3d1cGM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Kapasitas bongkar pelabuhan menjadi hambatan distribusi impor pangan ke pasar. Perum Bulog menilai realisasi impor pangan terkendala masalah kapasitas pelabuhan di Indonesia.
Sebab jumlah pelabuhan saat ini tidak memadai untuk bongkar komoditas impor, sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama dan kurang efisien.

BACA JUGA:
RI Impor 1,5 Juta Ton Beras, Produksi Petani Bagaimana?


&quot;Sekarang kita mendatangkan satu komoditi pangan, apapun namanya, itu kan berkaitan dengan kedatangan dan pembongkarannya. Pelabuhan kita kan juga ada kapasitas keterbatasannya, kalau kita mau (impor), terus gak bisa bongkar gimana,&quot; ujar Direktur Utama Bulog Budi Waseso di Gedung DPR, Rabu (8/11/2023).
Buwas menilai, saat ini kemampuan bongkar di pelabuhan Indonesia belum cukup baik, ketersediaan pelabuhan yang terbatas membuat waktu bongkar kapal memakan waktu yang lebih lama.

BACA JUGA:
KCI Impor 3 KRL Baru, Biaya Fantastis Sumber dari Utang hingga PMN


Bahkan menurutnya untuk bongkar 20 ribu ton beras saja membutuhkan waktu sekitar 6 hari. Apalagi untuk waktu bongkar untuk ratusan ribu ton, tentunya membutuhkan waktu yang lebih panjang. Hal itu yang membuat impor komoditas pangan ke Indonesia kurang berjalan lancar.
&quot;Karena daya kemampuan bongkar kita gak mampu. Kan pelabuhan ini terbatas. Sekarang aja kalau bongkar kan teman-teman lihat sendiri tuh, 20 ribu ton kita bongkar bisa 6 hari. Nah sekarang banyak di pelabuhan kan 6 hari, kalau itu sekian banyak kira-kira berapa lama,&quot; lanjutnya.
Sehingga, realisasi impor ini tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan  beberapa negara yang membatasi importasi. Namun juga dipengaruhi oleh  faktor internal sendiri yang masih punya keterbatasan.
Buwas memberikan contoh misalnya pada penugasan tambahan impor 1,5  juta ton beras oleh Presiden Joko Widodo pada akhir tahun ini. Hingga  saat ini sudah terkontrak sebanyak 1 juta ton. Terbagi dalam dua kali  pengiriman, hingga akhir tahun 600 ribu ton, dan awal tahun 400 ribu  ton.
Sedangkan untuk 500 ribu ton tidak termasuk dalam kontrak, menurut  Buwas hal itu mempertimbangkan kapasitas bongkar pelabuhan di Indonesia  yang saat ini masih cukup terbatas.
&quot;Yang 1,5 juta ton itu kan baru hanya bisa terealisasi tahun ini 600  ribu ton, yang datangnya tahun depan sisa dari 1 juta yang sudah kita  kontrak hanya 400 ribu ton, yang 500 ribu ton kan sudah hangus dong.  Karena itu kan hanya tahun ini, ya terkontrak tahun ini, gak bisa carry  over dong,&quot; kata Buwas.
&quot;Karena gini, kita kan memperhitungkan kontrak itu berkaitan dengan  kemampuan bongkar muat ya. Karena daya kemampuan bongkar kita gak  mampu,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8xOC80LzE3MjM1My81L3g4b3d1cGM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Kapasitas bongkar pelabuhan menjadi hambatan distribusi impor pangan ke pasar. Perum Bulog menilai realisasi impor pangan terkendala masalah kapasitas pelabuhan di Indonesia.
Sebab jumlah pelabuhan saat ini tidak memadai untuk bongkar komoditas impor, sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama dan kurang efisien.

BACA JUGA:
RI Impor 1,5 Juta Ton Beras, Produksi Petani Bagaimana?


&quot;Sekarang kita mendatangkan satu komoditi pangan, apapun namanya, itu kan berkaitan dengan kedatangan dan pembongkarannya. Pelabuhan kita kan juga ada kapasitas keterbatasannya, kalau kita mau (impor), terus gak bisa bongkar gimana,&quot; ujar Direktur Utama Bulog Budi Waseso di Gedung DPR, Rabu (8/11/2023).
Buwas menilai, saat ini kemampuan bongkar di pelabuhan Indonesia belum cukup baik, ketersediaan pelabuhan yang terbatas membuat waktu bongkar kapal memakan waktu yang lebih lama.

BACA JUGA:
KCI Impor 3 KRL Baru, Biaya Fantastis Sumber dari Utang hingga PMN


Bahkan menurutnya untuk bongkar 20 ribu ton beras saja membutuhkan waktu sekitar 6 hari. Apalagi untuk waktu bongkar untuk ratusan ribu ton, tentunya membutuhkan waktu yang lebih panjang. Hal itu yang membuat impor komoditas pangan ke Indonesia kurang berjalan lancar.
&quot;Karena daya kemampuan bongkar kita gak mampu. Kan pelabuhan ini terbatas. Sekarang aja kalau bongkar kan teman-teman lihat sendiri tuh, 20 ribu ton kita bongkar bisa 6 hari. Nah sekarang banyak di pelabuhan kan 6 hari, kalau itu sekian banyak kira-kira berapa lama,&quot; lanjutnya.
Sehingga, realisasi impor ini tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan  beberapa negara yang membatasi importasi. Namun juga dipengaruhi oleh  faktor internal sendiri yang masih punya keterbatasan.
Buwas memberikan contoh misalnya pada penugasan tambahan impor 1,5  juta ton beras oleh Presiden Joko Widodo pada akhir tahun ini. Hingga  saat ini sudah terkontrak sebanyak 1 juta ton. Terbagi dalam dua kali  pengiriman, hingga akhir tahun 600 ribu ton, dan awal tahun 400 ribu  ton.
Sedangkan untuk 500 ribu ton tidak termasuk dalam kontrak, menurut  Buwas hal itu mempertimbangkan kapasitas bongkar pelabuhan di Indonesia  yang saat ini masih cukup terbatas.
&quot;Yang 1,5 juta ton itu kan baru hanya bisa terealisasi tahun ini 600  ribu ton, yang datangnya tahun depan sisa dari 1 juta yang sudah kita  kontrak hanya 400 ribu ton, yang 500 ribu ton kan sudah hangus dong.  Karena itu kan hanya tahun ini, ya terkontrak tahun ini, gak bisa carry  over dong,&quot; kata Buwas.
&quot;Karena gini, kita kan memperhitungkan kontrak itu berkaitan dengan  kemampuan bongkar muat ya. Karena daya kemampuan bongkar kita gak  mampu,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
