<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>3 Tantangan Besar Industri Keuangan RI   </title><description>Kinerja industri keuangan di Indonesia tidak baik-baik saja. Ada tiga hal penting yang perlu dicermati.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/09/320/2917347/3-tantangan-besar-industri-keuangan-ri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/11/09/320/2917347/3-tantangan-besar-industri-keuangan-ri"/><item><title>3 Tantangan Besar Industri Keuangan RI   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/09/320/2917347/3-tantangan-besar-industri-keuangan-ri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/11/09/320/2917347/3-tantangan-besar-industri-keuangan-ri</guid><pubDate>Kamis 09 November 2023 14:23 WIB</pubDate><dc:creator>Rio Adryawan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/09/320/2917347/3-tantangan-besar-industri-keuangan-ri-AZOplloXDh.jfif" expression="full" type="image/jpeg">Tantangan Besar Industri Keuangan Indonesia. (Foto: Okezone.com/Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/09/320/2917347/3-tantangan-besar-industri-keuangan-ri-AZOplloXDh.jfif</image><title>Tantangan Besar Industri Keuangan Indonesia. (Foto: Okezone.com/Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Kinerja industri keuangan di Indonesia tidak baik-baik saja. Ada tiga hal penting yang perlu dicermati.
Pertama, meningkatnya risiko sistemik akibat ketidakstabilan ekonomi global, geopolitik, dan bencana alam.
&quot;Kedua, meningkatnya persaingan antara penyedia jasa keuangan, baik konvensional maupun digital. Ketiga, meningkatnya potensi fraud, cybercrime, dan money laundering dalam sektor jasa keuangan,&quot; ujar Presiden Direktur Centre for Banking Crisis (CBC), Achmad Deni Daruri , Jakarta, Kamis (9/11/2023).

BACA JUGA:
Jaga Industri Keuangan, Polisi Wajib Melek Industri Pasar Modal

Menurut Deni, ketiga hal penting tersebut mesti dicermati utamanya oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sebab, hal tersebut berdampak pada masalah-masalah nantinya.
Pertama, lanjutnya, masih terdapat tantangan dalam mengintegrasikan fungsi pengaturan dan pengawasan antara sektor-sektor jasa keuangan.
Kedua, masih terdapat potensi konflik kepentingan antara OJK dengan pihak-pihak yang diawasi.

BACA JUGA:
Lindungi Konsumen, OJK Perketat Tata Kelola Digital Industri Keuangan

&quot;Ketiga, masih ada keterbatasan dalam hal infrastruktur, teknologi, dan anggaran. Keempat, ada celah hukum dan regulasi yang perlu disempurnakan,&quot; kata Deni.
Selain itu, lanjut Deni, risiko likuiditas dan kenaikan biaya operasional juga memberatkan industri keuangan.
&quot;Di era suku bunga tinggi, perbankan akan menghadapi risiko likuiditas dan peningkatan biaya operasional. Rasio Sharpe Square Ratio (SSR) adalah metode untuk mengukur kinerja suatu portofolio,&quot; kata Deni.Asal tahu saja, rasio SSR berguna untuk mengukur seberapa besar proporsi dana pihak ketiga (DPK) yang harus disimpan oleh bank di Bank Indonesia (BI), sebagai cadangan.
Semakin tinggi rasio SSR, maka semakin rendah likuiditas bank yang bersangkutan. Artinya, semakin tinggi pula biaya operasional bank tersebut. Bank Indonesia (BI) menetapkanm besaran rasio SSR yang berbeda untuk setiap jenis simpanan. &quot;Jika tingkat suku bunga naik, maka DPK akan berpindah dari simpanan berjangka pendek ke jangka panjang yang bunganya lebih tinggi,&quot; terang Deni.
Hal ini, lanjutnya, meningkatkan rasio SSR bank, karena simpanan berjangka panjang memiliki rasio SSR lebih tinggi ketimbang simpanan berjangka pendek.
Untuk itu, kata dia, bank harus mengelola komposisi DPK-nya agar tidak terlalu terbebani kewajiban SSR. Kinerja sektor keuangan yang jauh dari moncer memperlihatkan tidak jelinya OJK akan permasalahan sektor keuangan di Indonesia.</description><content:encoded>JAKARTA - Kinerja industri keuangan di Indonesia tidak baik-baik saja. Ada tiga hal penting yang perlu dicermati.
Pertama, meningkatnya risiko sistemik akibat ketidakstabilan ekonomi global, geopolitik, dan bencana alam.
&quot;Kedua, meningkatnya persaingan antara penyedia jasa keuangan, baik konvensional maupun digital. Ketiga, meningkatnya potensi fraud, cybercrime, dan money laundering dalam sektor jasa keuangan,&quot; ujar Presiden Direktur Centre for Banking Crisis (CBC), Achmad Deni Daruri , Jakarta, Kamis (9/11/2023).

BACA JUGA:
Jaga Industri Keuangan, Polisi Wajib Melek Industri Pasar Modal

Menurut Deni, ketiga hal penting tersebut mesti dicermati utamanya oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sebab, hal tersebut berdampak pada masalah-masalah nantinya.
Pertama, lanjutnya, masih terdapat tantangan dalam mengintegrasikan fungsi pengaturan dan pengawasan antara sektor-sektor jasa keuangan.
Kedua, masih terdapat potensi konflik kepentingan antara OJK dengan pihak-pihak yang diawasi.

BACA JUGA:
Lindungi Konsumen, OJK Perketat Tata Kelola Digital Industri Keuangan

&quot;Ketiga, masih ada keterbatasan dalam hal infrastruktur, teknologi, dan anggaran. Keempat, ada celah hukum dan regulasi yang perlu disempurnakan,&quot; kata Deni.
Selain itu, lanjut Deni, risiko likuiditas dan kenaikan biaya operasional juga memberatkan industri keuangan.
&quot;Di era suku bunga tinggi, perbankan akan menghadapi risiko likuiditas dan peningkatan biaya operasional. Rasio Sharpe Square Ratio (SSR) adalah metode untuk mengukur kinerja suatu portofolio,&quot; kata Deni.Asal tahu saja, rasio SSR berguna untuk mengukur seberapa besar proporsi dana pihak ketiga (DPK) yang harus disimpan oleh bank di Bank Indonesia (BI), sebagai cadangan.
Semakin tinggi rasio SSR, maka semakin rendah likuiditas bank yang bersangkutan. Artinya, semakin tinggi pula biaya operasional bank tersebut. Bank Indonesia (BI) menetapkanm besaran rasio SSR yang berbeda untuk setiap jenis simpanan. &quot;Jika tingkat suku bunga naik, maka DPK akan berpindah dari simpanan berjangka pendek ke jangka panjang yang bunganya lebih tinggi,&quot; terang Deni.
Hal ini, lanjutnya, meningkatkan rasio SSR bank, karena simpanan berjangka panjang memiliki rasio SSR lebih tinggi ketimbang simpanan berjangka pendek.
Untuk itu, kata dia, bank harus mengelola komposisi DPK-nya agar tidak terlalu terbebani kewajiban SSR. Kinerja sektor keuangan yang jauh dari moncer memperlihatkan tidak jelinya OJK akan permasalahan sektor keuangan di Indonesia.</content:encoded></item></channel></rss>
