<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kadin Sebut Badai PHK di Industri Manufaktur Masih Berlanjut</title><description>Pengusaha menyebut badai PHK di industri manufaktur masih berlanjut.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/10/320/2918100/kadin-sebut-badai-phk-di-industri-manufaktur-masih-berlanjut</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/11/10/320/2918100/kadin-sebut-badai-phk-di-industri-manufaktur-masih-berlanjut"/><item><title>Kadin Sebut Badai PHK di Industri Manufaktur Masih Berlanjut</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/10/320/2918100/kadin-sebut-badai-phk-di-industri-manufaktur-masih-berlanjut</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/11/10/320/2918100/kadin-sebut-badai-phk-di-industri-manufaktur-masih-berlanjut</guid><pubDate>Jum'at 10 November 2023 15:42 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/10/320/2918100/kadin-sebut-badai-phk-di-industri-manufaktur-masih-berlanjut-imGslBwmiH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">PHK di industri manufaktur (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/10/320/2918100/kadin-sebut-badai-phk-di-industri-manufaktur-masih-berlanjut-imGslBwmiH.jpg</image><title>PHK di industri manufaktur (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8xOC80LzE2MDk5OS81L3g4ajZsdzA=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Pengusaha menyebut badai PHK di industri manufaktur masih berlanjut. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Sarman Simanjorang mengatakan, kondisi industri manufaktur di Indonesia masih belum menunjukkan kondisi pemilihan.
Sarman menjelaskan, kondisi pasca pandemi saat ini tidak banyak membawa perubahan setelah adanya penurunan daya beli akibat pandemi. Sebab hingga saat ini kondisi geopolitik hingga konflik antar negara berdampak pada industri di tanah air yang sulit untuk pulih.

BACA JUGA:
42 Ribu Pekerja Sektor Tekstil Kena PHK


&quot;Kita lihat ada tiga penyebab dari indeks kepercayaan industri turun, pertama penurunan daya beli dan permintaan pasar, kita lihat pasar ekspor kita ke Eropa, China, USA, Timur tengah, ini melambat,&quot; ujar Sarman dalam Market Review IDXChannel, Jumat (10/11/2023).
Selain itu, lesunya industri di tanah air ini juga disebabkan oleh melemahnya nilai tukar rupiah. Hal itu berdampak pada penambahan biaya dalam belanja bahan baku impor, dan ujungnya harga jual produk di pasar juga ikut menyesuaikan.

BACA JUGA:
Cerita Sandiaga Uno Pernah Kena PHK, Kini Bangkit Pekerjakan 30 Ribu Karyawan


Faktor lain yang membuat kinerja industri manufaktur kurang ekspansif adalah maraknya barang impor dari luar yang hingga saat ini belum dapat ditegaskan oleh pemerintah. Kehadiran barang impor menjadi ancaman bagi industri karena praktis punya harga yang lebih murah karena barang hasil selundupan dan bebas dari pajak.
&quot;Banyaknya barang impor yang masuk ke Indonesia, dan saat ini penegak  hukum kita belum mampu membasminya, ini berdampak pada kinerja  Manufaktur kita yang sangat menurun,&quot; sambung Sarman.
Menurutnya kondisi melemahnya permintaan pasar akibat tiga faktor  tersebut menyeret dampak pada efisiensi yang harus dilakukan oleh  perusahaan, salah satunya pengurangan karyawan. Beberapa wilayah yang  paling banyak melakukan PHK seperti di provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah,  dan Banten.
&quot;Memang industri padat karya kita ini produktivitas sangat menurun, sektor ini plainh banyak melakukan PHK,&quot; kata Sarman.
&quot;Kalau kita lihat dari kementerian ketenagakerjaan, bahwa sampai  dengan bulan September, sudah terjadi PHK hampir 42 ribu karyawan, ini  semua sektor padat karya,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8xOC80LzE2MDk5OS81L3g4ajZsdzA=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Pengusaha menyebut badai PHK di industri manufaktur masih berlanjut. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Sarman Simanjorang mengatakan, kondisi industri manufaktur di Indonesia masih belum menunjukkan kondisi pemilihan.
Sarman menjelaskan, kondisi pasca pandemi saat ini tidak banyak membawa perubahan setelah adanya penurunan daya beli akibat pandemi. Sebab hingga saat ini kondisi geopolitik hingga konflik antar negara berdampak pada industri di tanah air yang sulit untuk pulih.

BACA JUGA:
42 Ribu Pekerja Sektor Tekstil Kena PHK


&quot;Kita lihat ada tiga penyebab dari indeks kepercayaan industri turun, pertama penurunan daya beli dan permintaan pasar, kita lihat pasar ekspor kita ke Eropa, China, USA, Timur tengah, ini melambat,&quot; ujar Sarman dalam Market Review IDXChannel, Jumat (10/11/2023).
Selain itu, lesunya industri di tanah air ini juga disebabkan oleh melemahnya nilai tukar rupiah. Hal itu berdampak pada penambahan biaya dalam belanja bahan baku impor, dan ujungnya harga jual produk di pasar juga ikut menyesuaikan.

BACA JUGA:
Cerita Sandiaga Uno Pernah Kena PHK, Kini Bangkit Pekerjakan 30 Ribu Karyawan


Faktor lain yang membuat kinerja industri manufaktur kurang ekspansif adalah maraknya barang impor dari luar yang hingga saat ini belum dapat ditegaskan oleh pemerintah. Kehadiran barang impor menjadi ancaman bagi industri karena praktis punya harga yang lebih murah karena barang hasil selundupan dan bebas dari pajak.
&quot;Banyaknya barang impor yang masuk ke Indonesia, dan saat ini penegak  hukum kita belum mampu membasminya, ini berdampak pada kinerja  Manufaktur kita yang sangat menurun,&quot; sambung Sarman.
Menurutnya kondisi melemahnya permintaan pasar akibat tiga faktor  tersebut menyeret dampak pada efisiensi yang harus dilakukan oleh  perusahaan, salah satunya pengurangan karyawan. Beberapa wilayah yang  paling banyak melakukan PHK seperti di provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah,  dan Banten.
&quot;Memang industri padat karya kita ini produktivitas sangat menurun, sektor ini plainh banyak melakukan PHK,&quot; kata Sarman.
&quot;Kalau kita lihat dari kementerian ketenagakerjaan, bahwa sampai  dengan bulan September, sudah terjadi PHK hampir 42 ribu karyawan, ini  semua sektor padat karya,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
