<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ganjar Pranowo Gali Potensi Hilirisasi dari 3 Sektor</title><description>Calon Presiden (Capres) Ganjar Pranowo menyiapkan rencana alternatif hilirisasi selain fokus pada nikel.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/15/320/2920646/ganjar-pranowo-gali-potensi-hilirisasi-dari-3-sektor</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/11/15/320/2920646/ganjar-pranowo-gali-potensi-hilirisasi-dari-3-sektor"/><item><title>Ganjar Pranowo Gali Potensi Hilirisasi dari 3 Sektor</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/15/320/2920646/ganjar-pranowo-gali-potensi-hilirisasi-dari-3-sektor</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/11/15/320/2920646/ganjar-pranowo-gali-potensi-hilirisasi-dari-3-sektor</guid><pubDate>Rabu 15 November 2023 10:03 WIB</pubDate><dc:creator> Royandi Hutasoit</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/15/320/2920646/ganjar-pranowo-gali-potensi-hilirisasi-dari-3-sektor-JF11jbNb8r.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ganjar soroti peluang hilirisasi tiga sektor (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/15/320/2920646/ganjar-pranowo-gali-potensi-hilirisasi-dari-3-sektor-JF11jbNb8r.jpg</image><title>Ganjar soroti peluang hilirisasi tiga sektor (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8xNS80LzE3MDY3Mi81L3g4bzNlYTc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Calon Presiden (Capres) Ganjar Pranowo menyiapkan rencana alternatif hilirisasi selain fokus pada nikel. Menurut Ganjar, potensi hilirisasi sebenarnya mencakup sejumlah sektor lain, termasuk kelautan, pertanian, dan perkebunan.
&quot;Kenapa tidak kita lakukan hilirisasi pada sektor kelautan? Mengapa tidak kita perluas hilirisasi pada sektor pertanian dan perkebunan yang kita unggulkan? Mengapa tidak ada yang membahas potensi kosmetik dari bahan-bahan tersebut? Mengapa tidak ada pembahasan mengenai sektor farmasi yang dapat dikembangkan dari sana?&quot; ucap Ganjar, dikutip Rabu (15/11/2023).

BACA JUGA:
Ganjar-Mahfud Dapat Nomor Urut 3, Perindo: Semangat Reformasi Lawan KKN


Ganjar juga menekankan pentingnya mempertimbangkan opsi hilirisasi alternatif dari sektor kelapa sawit. Menurutnya, ini menjadi hal krusial untuk memperluas cakupan pengolahan lebih lanjut dengan cara yang lebih efisien terhadap bahan baku pertanian.
&quot;Sebagai contoh, kita dapat mengoptimalkan produk dari kelapa sawit untuk keperluan kosmetik dan farmasi,&quot; ungkap Ganjar.

BACA JUGA:
TGB Tegaskan Modal Terbesar Ganjar-Mahfud adalah Rekam Rejak Mumpuni 


Selain itu, Ganjar mengkritik penggunaan pendekatan berbasis lahan dalam pembangunan Indonesia. Ia menyatakan bahwa kecenderungan ini lebih suka memudahkan pelaksanaan proyek, terutama dalam hal ekstraksi batu bara.
&quot;Mengapa kita saat ini lebih fokus pada pendekatan berbasis lahan? Karena itu terlihat menarik dan lebih sederhana. Maaf, dengan segala hormat, jika ada batu bara, tinggal diambil saja, bukan begitu?&quot; tegas Ganjar.
Sektor Potensial Hilirisasi Menurut Ganjar Pranowo
Ganjar juga mencatat ada 3 sektor potensial hilirisasi yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia, yaitu:
1.	Kelapa Sawit
Kelapa sawit merupakan salah satu sektor yang memiliki potensi untuk  mengalami proses hilirisasi di Indonesia. Meskipun telah menjadi  komoditas utama yang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian  nasional, sebagian besar produksi minyak kelapa sawit masih diekspor  dalam bentuk crude palm oil (CPO) sebanyak 48,24 juta ton dan palm  kernel oil (PKO) sebanyak 9,65 juta ton, sehingga nilai tambahnya masih  tergolong rendah.
Hilirisasi ini mencakup berbagai produk bernilai tambah seperti oleo  pangan, oleokimia, dan biofuel, yang memiliki potensi memberikan  kontribusi signifikan dalam meningkatkan devisa negara dan meningkatkan  daya saing industri kelapa sawit Indonesia.
2.	Perkebunan Kopi
Industri kopi Indonesia mencapai pencapaian yang sangat positif  selama periode tahun 2022/2023, dengan produksi mencapai 794,8 ribu ton.  Sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia, Indonesia memiliki  peluang besar untuk mengembangkan pengolahan lanjutan dalam sektor kopi.
Tujuan dari upaya ini adalah untuk memperluas jangkauan pasar kopi, mencakup tahap produksi dari hulu hingga hilir.
Fokus pada memberdayakan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) serta  mendorong inovasi dalam produk kopi berkualitas tinggi dianggap sebagai  langkah krusial untuk meningkatkan daya saing kopi Indonesia di pasar  global.
Dengan dorongan ini, diharapkan potensi kopi Indonesia dapat lebih  diakui dan diekspor ke berbagai negara, memberikan peluang baru bagi  pelaku UKM lokal.
Perlu dicatat bahwa keberlanjutan dalam praktik pertanian dan  distribusi yang konsisten adalah elemen utama yang harus dipertimbangkan  dalam mengembangkan potensi hilirisasi kopi Indonesia.
3.	Perikanan
Meskipun Indonesia memiliki potensi sumber daya perikanan yang sangat  melimpah, upaya untuk melakukan hilirisasi produk di sektor perikanan  masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan prestasi negara-negara  lain.
Riza Damanik, Ketua Umum Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO),  menekankan pentingnya pengolahan lanjutan sebagai sarana untuk  memperkuat peluang ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan memberikan contoh dari negara-negara seperti Amerika Serikat,  China, Vietnam, dan Thailand, Riza menyatakan bahwa hilirisasi di sektor  perikanan dapat memberikan lompatan signifikan bagi pertumbuhan  ekonomi, mencapai angka hingga 50 persen atau bahkan 500 persen dari  nilai komoditas perikanan.
Dalam konteks Indonesia, syarat mutlak yang harus dipenuhi untuk  mendorong pengolahan lanjutan adalah menciptakan lapangan kerja yang  lebih luas di sektor perikanan dan membangun ekosistem usaha yang kuat  yang menghubungkan berbagai pelaku usaha, dari skala mikro hingga besar.
Hilirisasi Butuh Regulasi
Ganjar menyampaikan pandangan bahwa untuk mewujudkan konsep  hilirisasi baru, terutama di sektor kemaritiman yang dianggap sebagai  potensi, diperlukan regulasi yang jelas dari hulu hingga hilir.
Dia juga menyoroti pentingnya pengembangan infrastruktur pendukung seperti cold storage dan ketersediaan bahan bakar.
Ganjar menekankan perlunya pembagian perhatian yang merata, dengan  memberikan perhatian dan afirmasi khusus untuk sektor mikro. Fasilitasi  harus diberikan agar sektor ini dapat berkembang. Menurut Ganjar, jika  sektor ini tumbuh, dampak positifnya akan sangat besar.
Ganjar meyakini bahwa dengan menerapkan strategi alternatif untuk  memperluas skema pengolahan lanjutan di Indonesia, hilirisasi memiliki  potensi untuk menggali peluang dari sektor kelautan, pertanian, dan  perkebunan.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8xNS80LzE3MDY3Mi81L3g4bzNlYTc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Calon Presiden (Capres) Ganjar Pranowo menyiapkan rencana alternatif hilirisasi selain fokus pada nikel. Menurut Ganjar, potensi hilirisasi sebenarnya mencakup sejumlah sektor lain, termasuk kelautan, pertanian, dan perkebunan.
&quot;Kenapa tidak kita lakukan hilirisasi pada sektor kelautan? Mengapa tidak kita perluas hilirisasi pada sektor pertanian dan perkebunan yang kita unggulkan? Mengapa tidak ada yang membahas potensi kosmetik dari bahan-bahan tersebut? Mengapa tidak ada pembahasan mengenai sektor farmasi yang dapat dikembangkan dari sana?&quot; ucap Ganjar, dikutip Rabu (15/11/2023).

BACA JUGA:
Ganjar-Mahfud Dapat Nomor Urut 3, Perindo: Semangat Reformasi Lawan KKN


Ganjar juga menekankan pentingnya mempertimbangkan opsi hilirisasi alternatif dari sektor kelapa sawit. Menurutnya, ini menjadi hal krusial untuk memperluas cakupan pengolahan lebih lanjut dengan cara yang lebih efisien terhadap bahan baku pertanian.
&quot;Sebagai contoh, kita dapat mengoptimalkan produk dari kelapa sawit untuk keperluan kosmetik dan farmasi,&quot; ungkap Ganjar.

BACA JUGA:
TGB Tegaskan Modal Terbesar Ganjar-Mahfud adalah Rekam Rejak Mumpuni 


Selain itu, Ganjar mengkritik penggunaan pendekatan berbasis lahan dalam pembangunan Indonesia. Ia menyatakan bahwa kecenderungan ini lebih suka memudahkan pelaksanaan proyek, terutama dalam hal ekstraksi batu bara.
&quot;Mengapa kita saat ini lebih fokus pada pendekatan berbasis lahan? Karena itu terlihat menarik dan lebih sederhana. Maaf, dengan segala hormat, jika ada batu bara, tinggal diambil saja, bukan begitu?&quot; tegas Ganjar.
Sektor Potensial Hilirisasi Menurut Ganjar Pranowo
Ganjar juga mencatat ada 3 sektor potensial hilirisasi yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia, yaitu:
1.	Kelapa Sawit
Kelapa sawit merupakan salah satu sektor yang memiliki potensi untuk  mengalami proses hilirisasi di Indonesia. Meskipun telah menjadi  komoditas utama yang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian  nasional, sebagian besar produksi minyak kelapa sawit masih diekspor  dalam bentuk crude palm oil (CPO) sebanyak 48,24 juta ton dan palm  kernel oil (PKO) sebanyak 9,65 juta ton, sehingga nilai tambahnya masih  tergolong rendah.
Hilirisasi ini mencakup berbagai produk bernilai tambah seperti oleo  pangan, oleokimia, dan biofuel, yang memiliki potensi memberikan  kontribusi signifikan dalam meningkatkan devisa negara dan meningkatkan  daya saing industri kelapa sawit Indonesia.
2.	Perkebunan Kopi
Industri kopi Indonesia mencapai pencapaian yang sangat positif  selama periode tahun 2022/2023, dengan produksi mencapai 794,8 ribu ton.  Sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia, Indonesia memiliki  peluang besar untuk mengembangkan pengolahan lanjutan dalam sektor kopi.
Tujuan dari upaya ini adalah untuk memperluas jangkauan pasar kopi, mencakup tahap produksi dari hulu hingga hilir.
Fokus pada memberdayakan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) serta  mendorong inovasi dalam produk kopi berkualitas tinggi dianggap sebagai  langkah krusial untuk meningkatkan daya saing kopi Indonesia di pasar  global.
Dengan dorongan ini, diharapkan potensi kopi Indonesia dapat lebih  diakui dan diekspor ke berbagai negara, memberikan peluang baru bagi  pelaku UKM lokal.
Perlu dicatat bahwa keberlanjutan dalam praktik pertanian dan  distribusi yang konsisten adalah elemen utama yang harus dipertimbangkan  dalam mengembangkan potensi hilirisasi kopi Indonesia.
3.	Perikanan
Meskipun Indonesia memiliki potensi sumber daya perikanan yang sangat  melimpah, upaya untuk melakukan hilirisasi produk di sektor perikanan  masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan prestasi negara-negara  lain.
Riza Damanik, Ketua Umum Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO),  menekankan pentingnya pengolahan lanjutan sebagai sarana untuk  memperkuat peluang ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan memberikan contoh dari negara-negara seperti Amerika Serikat,  China, Vietnam, dan Thailand, Riza menyatakan bahwa hilirisasi di sektor  perikanan dapat memberikan lompatan signifikan bagi pertumbuhan  ekonomi, mencapai angka hingga 50 persen atau bahkan 500 persen dari  nilai komoditas perikanan.
Dalam konteks Indonesia, syarat mutlak yang harus dipenuhi untuk  mendorong pengolahan lanjutan adalah menciptakan lapangan kerja yang  lebih luas di sektor perikanan dan membangun ekosistem usaha yang kuat  yang menghubungkan berbagai pelaku usaha, dari skala mikro hingga besar.
Hilirisasi Butuh Regulasi
Ganjar menyampaikan pandangan bahwa untuk mewujudkan konsep  hilirisasi baru, terutama di sektor kemaritiman yang dianggap sebagai  potensi, diperlukan regulasi yang jelas dari hulu hingga hilir.
Dia juga menyoroti pentingnya pengembangan infrastruktur pendukung seperti cold storage dan ketersediaan bahan bakar.
Ganjar menekankan perlunya pembagian perhatian yang merata, dengan  memberikan perhatian dan afirmasi khusus untuk sektor mikro. Fasilitasi  harus diberikan agar sektor ini dapat berkembang. Menurut Ganjar, jika  sektor ini tumbuh, dampak positifnya akan sangat besar.
Ganjar meyakini bahwa dengan menerapkan strategi alternatif untuk  memperluas skema pengolahan lanjutan di Indonesia, hilirisasi memiliki  potensi untuk menggali peluang dari sektor kelautan, pertanian, dan  perkebunan.</content:encoded></item></channel></rss>
