<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Peringatan OJK: Ekonomi Dunia Tahun Depan Masih Terguncang!</title><description>Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kondisi ekonomi dunia di tahun 2024 mendatang masih akan mengalami guncangan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/20/320/2923967/peringatan-ojk-ekonomi-dunia-tahun-depan-masih-terguncang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/11/20/320/2923967/peringatan-ojk-ekonomi-dunia-tahun-depan-masih-terguncang"/><item><title>Peringatan OJK: Ekonomi Dunia Tahun Depan Masih Terguncang!</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/20/320/2923967/peringatan-ojk-ekonomi-dunia-tahun-depan-masih-terguncang</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/11/20/320/2923967/peringatan-ojk-ekonomi-dunia-tahun-depan-masih-terguncang</guid><pubDate>Senin 20 November 2023 18:50 WIB</pubDate><dc:creator>Cahya Puteri Abdi Rabbi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/20/320/2923967/peringatan-ojk-ekonomi-dunia-tahun-depan-masih-terguncang-IdEFEdLWMP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">OJK peringatkan ekonomi tahun depan masih terguncang (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/20/320/2923967/peringatan-ojk-ekonomi-dunia-tahun-depan-masih-terguncang-IdEFEdLWMP.jpg</image><title>OJK peringatkan ekonomi tahun depan masih terguncang (Foto: Freepik)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8yNi8xLzE3MTIxNi81L3g4b2JwZ3g=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kondisi ekonomi dunia di tahun 2024 mendatang masih akan mengalami guncangan. Hal ini sejalan dengan statmen sejumlah organisasi bahwa tahun depan pertumbuhan ekonomi dunia akan melambat dan lebih rendah dari yang diperkirakan.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, kondisi ekonomi di tahun 2023 membuat tekanan di pasar keuangan global meningkat beberapa waktu belakangan ini.

BACA JUGA:
OJK Sudah Habiskan Anggaran Rp5,28 Triliun per September 2023


&amp;ldquo;Terutama ditandai dengan tekanan jual di pasar obligasi Amerika Serikat, akibat ekspektasi bahwa tingkat suku bunga AS akan berada di tingkat yang tinggi untuk waktu yang lebih lama,&amp;rdquo; kata Mahendra dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi XI DPR di Jakarta pada Senin (20/11/2023).
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri itu menjelaskan sejumlah ancaman yang masih menghantui kondisi perekonomian dunia tahun depan antara lain, kondisi geopolitik yang masih meningkat, era suku bunga tinggi dan penyesuaian suku bunga yang begitu cepat. Hal itu disebut Mahendra bakal menimbulkan turbulensi hebat pada perekonomian dan sektor keuangan di berbagai negara maju dan berkembang.

BACA JUGA:
OJK Buka Suara soal OCBC Indonesia Akuisisi Bank Commonwealth


&amp;ldquo;Ke depan, kita harus terus mewaspadai munculnya turbulensi yang dapat membawa krisis seperti yang terjadi di 2023 ini,&amp;rdquo; imbuh Mahendra.
Meski demikian, Pemerintah Indonesia masih optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2024 dapat mencapai 5,2%, dengan inflasi dan nilai tukar Rupiah yang dapat dijaga di level 2,8% dan Rp15.000 per USD.
Di sisi lain, lanjut Mahendra, harga komoditas ekspor Indonesia  terpantau masih dalam tren yang menurun, sehingga menyebabkan penurunan  surplus neraca perdagangan serta neraca berjalan yang juga menjadi  defisit, yang menekan kinerja nilai tukar dan penurunan cadangan devisa.
&amp;ldquo;Di tengah tantangan global dan risiko dampaknya terhadap  perekonomian domestik, OJK berupaya menjaga stabilitas sistem keuangan  dan mendorong sektor jasa keuangan berkontribusi optimal dalam  perekonomian nasional,&amp;rdquo; ujar Mahendra.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOS8yNi8xLzE3MTIxNi81L3g4b2JwZ3g=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kondisi ekonomi dunia di tahun 2024 mendatang masih akan mengalami guncangan. Hal ini sejalan dengan statmen sejumlah organisasi bahwa tahun depan pertumbuhan ekonomi dunia akan melambat dan lebih rendah dari yang diperkirakan.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, kondisi ekonomi di tahun 2023 membuat tekanan di pasar keuangan global meningkat beberapa waktu belakangan ini.

BACA JUGA:
OJK Sudah Habiskan Anggaran Rp5,28 Triliun per September 2023


&amp;ldquo;Terutama ditandai dengan tekanan jual di pasar obligasi Amerika Serikat, akibat ekspektasi bahwa tingkat suku bunga AS akan berada di tingkat yang tinggi untuk waktu yang lebih lama,&amp;rdquo; kata Mahendra dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi XI DPR di Jakarta pada Senin (20/11/2023).
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri itu menjelaskan sejumlah ancaman yang masih menghantui kondisi perekonomian dunia tahun depan antara lain, kondisi geopolitik yang masih meningkat, era suku bunga tinggi dan penyesuaian suku bunga yang begitu cepat. Hal itu disebut Mahendra bakal menimbulkan turbulensi hebat pada perekonomian dan sektor keuangan di berbagai negara maju dan berkembang.

BACA JUGA:
OJK Buka Suara soal OCBC Indonesia Akuisisi Bank Commonwealth


&amp;ldquo;Ke depan, kita harus terus mewaspadai munculnya turbulensi yang dapat membawa krisis seperti yang terjadi di 2023 ini,&amp;rdquo; imbuh Mahendra.
Meski demikian, Pemerintah Indonesia masih optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2024 dapat mencapai 5,2%, dengan inflasi dan nilai tukar Rupiah yang dapat dijaga di level 2,8% dan Rp15.000 per USD.
Di sisi lain, lanjut Mahendra, harga komoditas ekspor Indonesia  terpantau masih dalam tren yang menurun, sehingga menyebabkan penurunan  surplus neraca perdagangan serta neraca berjalan yang juga menjadi  defisit, yang menekan kinerja nilai tukar dan penurunan cadangan devisa.
&amp;ldquo;Di tengah tantangan global dan risiko dampaknya terhadap  perekonomian domestik, OJK berupaya menjaga stabilitas sistem keuangan  dan mendorong sektor jasa keuangan berkontribusi optimal dalam  perekonomian nasional,&amp;rdquo; ujar Mahendra.</content:encoded></item></channel></rss>
