<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menkeu Era SBY: Siapapun Presiden 2024 Harus Tingkatkan Pajak!</title><description>iapapun Presiden yang terpilih pada 2024 harus mampu menaikkan rasio pajak terhadap Gross Domestic Product (GDP)</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/22/320/2925301/menkeu-era-sby-siapapun-presiden-2024-harus-tingkatkan-pajak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/11/22/320/2925301/menkeu-era-sby-siapapun-presiden-2024-harus-tingkatkan-pajak"/><item><title>Menkeu Era SBY: Siapapun Presiden 2024 Harus Tingkatkan Pajak!</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/22/320/2925301/menkeu-era-sby-siapapun-presiden-2024-harus-tingkatkan-pajak</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/11/22/320/2925301/menkeu-era-sby-siapapun-presiden-2024-harus-tingkatkan-pajak</guid><pubDate>Rabu 22 November 2023 18:13 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/22/320/2925301/menkeu-era-sby-siapapun-presiden-2024-harus-tingkatkan-pajak-5zR3Un96fy.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden 2024 Harus Tingkatkan Pajak (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/22/320/2925301/menkeu-era-sby-siapapun-presiden-2024-harus-tingkatkan-pajak-5zR3Un96fy.jpg</image><title>Presiden 2024 Harus Tingkatkan Pajak (Foto: Freepik)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8yMC8xLzE3Mzk0MC81L3g4cHMydXE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Siapapun Presiden yang terpilih pada 2024 harus mampu menaikkan rasio pajak terhadap Gross Domestic Product (GDP).
Hal ini ditegaskan Menteri Keuangan periode 2013-2014 era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Chatib Basri.

BACA JUGA:
Skema Proyek Tol Mengwi Bali Diubah Jadi Prakarsa Pemerintah, Kenapa?

Menurut Chatib Basri, presiden terpilih tersebut harus mengurangi gap dengan menaikkan tabungan domestik.
&quot;Maka saya ingin mengatakan siapapun yang terpilih sebagai presiden pada 2024-2029 dan ke depan harus meningkatkan penerimaan pajak agar rasio tax GDP mengalami peningkatan,&quot; kata Chatib dalam Economic Outlook 2024, Rabu (22/11/2023).

BACA JUGA:
Sri Mulyani Peringatkan Aset Negara Jangan Sampai Tidur!

Chatib juga mengatakan ekonomi harus dipercepat. Ada juga pertanyaan bahwa bisakah ekonomi tumbuh lebih dari 6%?Chatib lantas menerangkan konsep konsep teori ekonomi yakni ICOR atau incremental capital-output ratio.
Jika Indonesia ingin mendorong pertumbuhan ekonomi, maka Indonesia butuh tambahan investasi. Tambahan itu bisa diperoleh dari lewat tabungan domestik maupun luar negeri untuk menggenjot PDB.
&quot;Masalahnya, investasi terhadap PDB ini butuh uang, tidak bisa invest kalau enggak ada uang. Sumber pembiayaannya bisa dari domestik atau luar,&quot; katanya.
Di dalam negeri, Chatib menjelaskan hingga saat ini jumlah tabungan domestik hanya 36%. Sedangkan kebutuhan kebutuhan investasi Indonesia lebih tinggi atau sekitar 47% terhadap PDB. Alhasil, dia menjelaskan investasi dari luar juga perlu dicari.
&quot;Ada gap atau kebutuhan yang uangnya gada dari domestik dan itu harus luar. Itu besarnya 11% dari GDP atau sekitar Rp1.800 triliun tambahan kekurangan. Masalahnya, investasi terhadap PDB ini butuh uang, tidak bisa invest kalau tidak ada uang,&quot; ujarnya.
Chatib melanjutkan, opsi yang kedua adalah karena ada gap tabungan domestik, maka mungkin harus dibiayai melalui penanaman modal asing.
&quot;Enggak bisa portofolio karena kalau uangnya masuk bisa keluar lagi, kalau PMA di sektor ekspor oriented revenuenya juga dollar itu naturally hatch,&quot; katanya.
Selain itu, siapapun yang menjalani pemerintahan 2024-2029, Chatib menegaskan harus dibuat investasi asing masuk.
&quot;Dia harus friendly sama investor. Artinya regulasi harus streamline, debirokratisasi, investment climate dibaiki dsb. Itu opsi ketiga. Opsi keempat kalau hutangnya ga cukup ya hutang,&quot; katanya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8yMC8xLzE3Mzk0MC81L3g4cHMydXE=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Siapapun Presiden yang terpilih pada 2024 harus mampu menaikkan rasio pajak terhadap Gross Domestic Product (GDP).
Hal ini ditegaskan Menteri Keuangan periode 2013-2014 era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Chatib Basri.

BACA JUGA:
Skema Proyek Tol Mengwi Bali Diubah Jadi Prakarsa Pemerintah, Kenapa?

Menurut Chatib Basri, presiden terpilih tersebut harus mengurangi gap dengan menaikkan tabungan domestik.
&quot;Maka saya ingin mengatakan siapapun yang terpilih sebagai presiden pada 2024-2029 dan ke depan harus meningkatkan penerimaan pajak agar rasio tax GDP mengalami peningkatan,&quot; kata Chatib dalam Economic Outlook 2024, Rabu (22/11/2023).

BACA JUGA:
Sri Mulyani Peringatkan Aset Negara Jangan Sampai Tidur!

Chatib juga mengatakan ekonomi harus dipercepat. Ada juga pertanyaan bahwa bisakah ekonomi tumbuh lebih dari 6%?Chatib lantas menerangkan konsep konsep teori ekonomi yakni ICOR atau incremental capital-output ratio.
Jika Indonesia ingin mendorong pertumbuhan ekonomi, maka Indonesia butuh tambahan investasi. Tambahan itu bisa diperoleh dari lewat tabungan domestik maupun luar negeri untuk menggenjot PDB.
&quot;Masalahnya, investasi terhadap PDB ini butuh uang, tidak bisa invest kalau enggak ada uang. Sumber pembiayaannya bisa dari domestik atau luar,&quot; katanya.
Di dalam negeri, Chatib menjelaskan hingga saat ini jumlah tabungan domestik hanya 36%. Sedangkan kebutuhan kebutuhan investasi Indonesia lebih tinggi atau sekitar 47% terhadap PDB. Alhasil, dia menjelaskan investasi dari luar juga perlu dicari.
&quot;Ada gap atau kebutuhan yang uangnya gada dari domestik dan itu harus luar. Itu besarnya 11% dari GDP atau sekitar Rp1.800 triliun tambahan kekurangan. Masalahnya, investasi terhadap PDB ini butuh uang, tidak bisa invest kalau tidak ada uang,&quot; ujarnya.
Chatib melanjutkan, opsi yang kedua adalah karena ada gap tabungan domestik, maka mungkin harus dibiayai melalui penanaman modal asing.
&quot;Enggak bisa portofolio karena kalau uangnya masuk bisa keluar lagi, kalau PMA di sektor ekspor oriented revenuenya juga dollar itu naturally hatch,&quot; katanya.
Selain itu, siapapun yang menjalani pemerintahan 2024-2029, Chatib menegaskan harus dibuat investasi asing masuk.
&quot;Dia harus friendly sama investor. Artinya regulasi harus streamline, debirokratisasi, investment climate dibaiki dsb. Itu opsi ketiga. Opsi keempat kalau hutangnya ga cukup ya hutang,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
