<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sri Mulyani Optimistis Defisit APBN Berada di Bawah 2,3% pada Akhir 2023</title><description>Kemenkeu optimistis defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan berada di bawah 2,3%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/25/320/2927051/sri-mulyani-optimistis-defisit-apbn-berada-di-bawah-2-3-pada-akhir-2023</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/11/25/320/2927051/sri-mulyani-optimistis-defisit-apbn-berada-di-bawah-2-3-pada-akhir-2023"/><item><title>Sri Mulyani Optimistis Defisit APBN Berada di Bawah 2,3% pada Akhir 2023</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/25/320/2927051/sri-mulyani-optimistis-defisit-apbn-berada-di-bawah-2-3-pada-akhir-2023</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/11/25/320/2927051/sri-mulyani-optimistis-defisit-apbn-berada-di-bawah-2-3-pada-akhir-2023</guid><pubDate>Sabtu 25 November 2023 13:53 WIB</pubDate><dc:creator>Nurfathiya Efsya</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/25/320/2927051/sri-mulyani-optimistis-defisit-apbn-berada-di-bawah-2-3-pada-akhir-2023-9t8ZbIeWlH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Keuangan Sri Mulyani soal Defisit APBN (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/25/320/2927051/sri-mulyani-optimistis-defisit-apbn-berada-di-bawah-2-3-pada-akhir-2023-9t8ZbIeWlH.jpg</image><title>Menteri Keuangan Sri Mulyani soal Defisit APBN (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8yNC80LzE3NDE2My81L3g4cHdxd3I=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) optimistis defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan berada di bawah 2,3% dari produk domestik bruto (PDB) pada akhir 2023.
Adapun per Oktober 2023, defisit APBN baru mencapai 0,003 persen dari PDB atau setara dengan Rp700 miliar, dengan realisasi belanja negara sebesar Rp2.240,8 triliun dan pendapatan negara mencapai Rp2.240,1 triliun.

BACA JUGA:
Sri Mulyani: LDKPI Salurkan Rp140,4 Miliar Bantuan Kemanusiaan, Terbaru ke Palestina

&quot;Ketika menerbitkan laporan semester I-2023, proyeksi defisit APBN tahun ini sebesar 2,3 persen PDB. Dengan dinamika sekarang, peluang defisit lebih rendah dari 2,3 persen PDB memang terlihat semakin nyata,&quot; kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu dalam konferensi pers virtual APBN KITA Edisi November 2023 dikutip Antara, Sabtu (25/11/2023).
Dengan demikian, kata dia, defisit yang rendah ini akan menjadi modal bagi APBN kita untuk tetap bisa berfungsi sebagai peredam kejut (shock absorber) maupun penopang pertumbuhan ekonomi dan konsumsi masyarakat.

BACA JUGA:
Sri Mulyani Happy PNBP Capai Target Tembus Rp494,2 Triliun di Akhir Oktober 2023

Menurut Febrio, ekonomi global memang masih terus bergerak sangat dinamis, baik itu geopolitik, pelemahan ekonomi di China, gejolak ekonomi di Amerika Serikat atau Eropa, hingga beberapa tensi yang lain.Ketidakpastian tersebut tercermin pula dari harga komoditas maupun tingkat suku bunga kebijakan yang sangat mempengaruhi kondisi makro global, sehingga kondisi ekonomi Indonesia sedikit banyak dipengaruhi oleh gejolak tersebut.
Maka dari itu, beberapa faktor tersebut berdampak bagi penerimaan APBN. Namun, kas negara telah disusun antisipatif sehingga perkembangan dari sisi penerimaan cenderung lebih baik dibandingkan target APBN yang sudah pemerintah siapkan.
Sementara dari sisi belanja, lanjut dia, tetap kuat menopang pemulihan ekonomi dan mendukung konsumsi masyarakat, baik itu secara natural terjadi dari pertumbuhan ekonomi maupun pemerintah yang melihat kebutuhan adanya peningkatan bantuan sosial untuk mengatasi fenomena El Nino dan harga komoditas.
&quot;Semua ini merupakan dinamika yang tercermin dalam APBN,&quot; ujarnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8yNC80LzE3NDE2My81L3g4cHdxd3I=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) optimistis defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan berada di bawah 2,3% dari produk domestik bruto (PDB) pada akhir 2023.
Adapun per Oktober 2023, defisit APBN baru mencapai 0,003 persen dari PDB atau setara dengan Rp700 miliar, dengan realisasi belanja negara sebesar Rp2.240,8 triliun dan pendapatan negara mencapai Rp2.240,1 triliun.

BACA JUGA:
Sri Mulyani: LDKPI Salurkan Rp140,4 Miliar Bantuan Kemanusiaan, Terbaru ke Palestina

&quot;Ketika menerbitkan laporan semester I-2023, proyeksi defisit APBN tahun ini sebesar 2,3 persen PDB. Dengan dinamika sekarang, peluang defisit lebih rendah dari 2,3 persen PDB memang terlihat semakin nyata,&quot; kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu dalam konferensi pers virtual APBN KITA Edisi November 2023 dikutip Antara, Sabtu (25/11/2023).
Dengan demikian, kata dia, defisit yang rendah ini akan menjadi modal bagi APBN kita untuk tetap bisa berfungsi sebagai peredam kejut (shock absorber) maupun penopang pertumbuhan ekonomi dan konsumsi masyarakat.

BACA JUGA:
Sri Mulyani Happy PNBP Capai Target Tembus Rp494,2 Triliun di Akhir Oktober 2023

Menurut Febrio, ekonomi global memang masih terus bergerak sangat dinamis, baik itu geopolitik, pelemahan ekonomi di China, gejolak ekonomi di Amerika Serikat atau Eropa, hingga beberapa tensi yang lain.Ketidakpastian tersebut tercermin pula dari harga komoditas maupun tingkat suku bunga kebijakan yang sangat mempengaruhi kondisi makro global, sehingga kondisi ekonomi Indonesia sedikit banyak dipengaruhi oleh gejolak tersebut.
Maka dari itu, beberapa faktor tersebut berdampak bagi penerimaan APBN. Namun, kas negara telah disusun antisipatif sehingga perkembangan dari sisi penerimaan cenderung lebih baik dibandingkan target APBN yang sudah pemerintah siapkan.
Sementara dari sisi belanja, lanjut dia, tetap kuat menopang pemulihan ekonomi dan mendukung konsumsi masyarakat, baik itu secara natural terjadi dari pertumbuhan ekonomi maupun pemerintah yang melihat kebutuhan adanya peningkatan bantuan sosial untuk mengatasi fenomena El Nino dan harga komoditas.
&quot;Semua ini merupakan dinamika yang tercermin dalam APBN,&quot; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
