<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi Indonesia Kuat Lawan Tekanan Ketidakpastian Global?</title><description>Ekonomi Indonesia masih dihadapi ketidakpastian global.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/27/320/2927985/ekonomi-indonesia-kuat-lawan-tekanan-ketidakpastian-global</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/11/27/320/2927985/ekonomi-indonesia-kuat-lawan-tekanan-ketidakpastian-global"/><item><title>Ekonomi Indonesia Kuat Lawan Tekanan Ketidakpastian Global?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/27/320/2927985/ekonomi-indonesia-kuat-lawan-tekanan-ketidakpastian-global</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/11/27/320/2927985/ekonomi-indonesia-kuat-lawan-tekanan-ketidakpastian-global</guid><pubDate>Senin 27 November 2023 14:37 WIB</pubDate><dc:creator> Ikhsan Permana</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/27/320/2927985/ekonomi-indonesia-kuat-lawan-tekanan-ketidakpastian-global-K26jPctD97.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ekonomi RI dibayangi ketidakpastian (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/27/320/2927985/ekonomi-indonesia-kuat-lawan-tekanan-ketidakpastian-global-K26jPctD97.jpg</image><title>Ekonomi RI dibayangi ketidakpastian (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8yNS8xLzE3NDIzNi81L3g4cHk2cm8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Ekonomi Indonesia masih dihadapi ketidakpastian global. Direktur Ekonomi Digital dan ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengungkapkan bahwa perekonomian Indonesia masih berada di tengah bayang-bayang global.
Pasalnya gejolak yang terjadi di Timur Tengah masih terus berlanjut dan diprediksi akan terus meluas.

BACA JUGA:
Sri Mulyani Prediksi Ekonomi RI Tertinggi Dibandingkan Negara ASEAN dan G20


&quot;Kita lihat bahwa ada potensi dari perang yang ada di Timur Tengah itu meluas,&quot; ungkap Huda dalam siaran Market Review di IDX Channel, Senin (27/11/2023).
Menurutnya, jika perang tersebut sampai melibatkan negara-negara Arab, satu hal yang bisa dipastikan adalah harga minyak akan meningkat tajam.

BACA JUGA:
Wamen BUMN: Pengembangan Kapasitas Nasional Beri Dampak Positif Ekonomi RI


&quot;Di mana kita sudah menjadi negara net importir, ini yang akan menyebabkan pasti beban subsidi yang cukup tinggi, kemudian juga akan menyebabkan kalaupun BBM itu dinaikkan harganya itu pasti akan menyebabkan inflasi yang akan bergejolak juga akan meningkat juga,&quot; ujarnya.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan terus menurun terutama di tahun 2023, hal tersebut sedikit banyak akan menyebabkan harga-harga komoditas merangkak naik.
&quot;Terutama untuk komoditas-komoditas yang kita impor seperti contohnya  gandum yang dari Ukraina, yang ini memang telah meningkat harganya  terus, kemudian ada beberapa komoditas yang memang negara-negara itu  melakukan proteksi ini yang menyebabkan imported inflation ini akan  cukup tinggi juga, makanya kebijakan untuk menahan suku bunga adalah  kebijakan jalan tengah yang menurut saya cukup baik dilakukan oleh Bank  Indonesia,&quot; tuturnya.
Namun menurut Huda, selain mengandalkan suku bunga acuan, pemerintah  juga harus menjaga harga komoditas dalam negeri terutama komoditas bahan  pokok.
&quot;Contohnya saja beras, kemudian cabai yang sekarang ini tengah naik,  kemudian ada beberapa barang komoditas pokok lainnya yang menurut saya  itu harus menjadi tanggung jawab pemerintah dalam hal ini pemerintah  eksekutif dalam hal kebijakan yang sifatnya adalah fiskal terutama kalau  kita lihat beras yang harganya tak kunjung turun dan memang ini yang  menyebabkan inflasi ini cukup bergejolak dalam beberapa pekan terakhir,&quot;  pungkasnya.
</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8yNS8xLzE3NDIzNi81L3g4cHk2cm8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Ekonomi Indonesia masih dihadapi ketidakpastian global. Direktur Ekonomi Digital dan ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengungkapkan bahwa perekonomian Indonesia masih berada di tengah bayang-bayang global.
Pasalnya gejolak yang terjadi di Timur Tengah masih terus berlanjut dan diprediksi akan terus meluas.

BACA JUGA:
Sri Mulyani Prediksi Ekonomi RI Tertinggi Dibandingkan Negara ASEAN dan G20


&quot;Kita lihat bahwa ada potensi dari perang yang ada di Timur Tengah itu meluas,&quot; ungkap Huda dalam siaran Market Review di IDX Channel, Senin (27/11/2023).
Menurutnya, jika perang tersebut sampai melibatkan negara-negara Arab, satu hal yang bisa dipastikan adalah harga minyak akan meningkat tajam.

BACA JUGA:
Wamen BUMN: Pengembangan Kapasitas Nasional Beri Dampak Positif Ekonomi RI


&quot;Di mana kita sudah menjadi negara net importir, ini yang akan menyebabkan pasti beban subsidi yang cukup tinggi, kemudian juga akan menyebabkan kalaupun BBM itu dinaikkan harganya itu pasti akan menyebabkan inflasi yang akan bergejolak juga akan meningkat juga,&quot; ujarnya.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan terus menurun terutama di tahun 2023, hal tersebut sedikit banyak akan menyebabkan harga-harga komoditas merangkak naik.
&quot;Terutama untuk komoditas-komoditas yang kita impor seperti contohnya  gandum yang dari Ukraina, yang ini memang telah meningkat harganya  terus, kemudian ada beberapa komoditas yang memang negara-negara itu  melakukan proteksi ini yang menyebabkan imported inflation ini akan  cukup tinggi juga, makanya kebijakan untuk menahan suku bunga adalah  kebijakan jalan tengah yang menurut saya cukup baik dilakukan oleh Bank  Indonesia,&quot; tuturnya.
Namun menurut Huda, selain mengandalkan suku bunga acuan, pemerintah  juga harus menjaga harga komoditas dalam negeri terutama komoditas bahan  pokok.
&quot;Contohnya saja beras, kemudian cabai yang sekarang ini tengah naik,  kemudian ada beberapa barang komoditas pokok lainnya yang menurut saya  itu harus menjadi tanggung jawab pemerintah dalam hal ini pemerintah  eksekutif dalam hal kebijakan yang sifatnya adalah fiskal terutama kalau  kita lihat beras yang harganya tak kunjung turun dan memang ini yang  menyebabkan inflasi ini cukup bergejolak dalam beberapa pekan terakhir,&quot;  pungkasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
