<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ternyata 90% Bahan Baku Obat di RI Masih Impor</title><description>Industri farmasi di Indonesia masih memiliki ketergantungan dalam hal impor bahan baku obat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/29/320/2929586/ternyata-90-bahan-baku-obat-di-ri-masih-impor</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/11/29/320/2929586/ternyata-90-bahan-baku-obat-di-ri-masih-impor"/><item><title>Ternyata 90% Bahan Baku Obat di RI Masih Impor</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/11/29/320/2929586/ternyata-90-bahan-baku-obat-di-ri-masih-impor</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/11/29/320/2929586/ternyata-90-bahan-baku-obat-di-ri-masih-impor</guid><pubDate>Rabu 29 November 2023 17:51 WIB</pubDate><dc:creator>Arfiah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/11/29/320/2929586/ternyata-90-bahan-baku-obat-di-ri-masih-impor-DMAAMm23WR.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Ternyata 90% bahan baku obat Indonesia masih impor. (Foto: Okezone/Arfiah)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/11/29/320/2929586/ternyata-90-bahan-baku-obat-di-ri-masih-impor-DMAAMm23WR.JPG</image><title>Ternyata 90% bahan baku obat Indonesia masih impor. (Foto: Okezone/Arfiah)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNS8wOC8zNC8xNjU5MzEvNS94OGtyYTlw&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA &amp;ndash; Industri farmasi di Indonesia masih memiliki ketergantungan dalam hal impor bahan baku obat.

Direktur Utama PT Kimia Farma Apotek Agus Chandra mengungkapkan bahwa ketergantungan Indonesia mengenai impor bahan baku masih cukup tinggi, yakni sebesar 90%.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Arahan Erick Thohir soal Ekonomi Digital, Ini Langkah Holding BUMN Farmasi

Oleh karena itu, Agus menjelaskan, bahwa pihaknya mendukung program pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor.

Program ini berupa produksi bahan baku obat di Indonesia.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Menko Airlangga: Ekonomi Indonesia Kalahkan China hingga AS

&amp;ldquo;Kimia Farma bagian dari BUMN farmasi, mendukung program pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor melalui pendirian bahan baku obat di Indonesia,&amp;rdquo; kata Agus pada konferensi pers MarkPlus, Jakarta, Rabu (29/11/2023).

Dirinya mengatakan jika melihat dari skala usaha memang agak sulit melawan pemain bahan baku di dunia seperti China dan India.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Sri Mulyani Sebut Setoran Dividen BUMN Melonjak 150% dari Target


Namun, berbagai upaya dilakukan agar Indonesia bisa lebih mandiri dalam memproduksi bahan baku obat.



&amp;ldquo;Tapi, karena kita ingin lebih mandiri di bahan baku, makanya kita mendorong Kimia Farma untuk membangun industri bahan baku obat di Indonesia,&amp;rdquo; jelas Agus.



&amp;ldquo;Yang saya tahu ya, untuk mengurangi ketergantungan itu ada road mapnya, mulai dari 3%, 5%, kemudian sampai 20% dalam waktu lima tahun ke depan,&amp;rdquo; tuturnya.



Di samping itu, Agus kembali menuturkan, mengenai ekspor obat dirasa agak sulit dalam hal perizinan dan harus memiliki kerja sama dengan perusahaan di negara tersebut.



&amp;ldquo;Kalau untuk ekspor, kita memang industri farmasi ini kan selalu dilindungi oleh pemerintah seluruh dunia. Jadi, untuk masuk ke ekspor itu agak sulit untuk perizinan. Kalau mau masuk ke suatu negara harus ber-partner dengan local company di negara tersebut,&amp;rdquo; pungkasnya.



Menurutnya, kebijakan tersebut dilakukan di seluruh negara termasuk Indonesia.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNS8wOC8zNC8xNjU5MzEvNS94OGtyYTlw&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA &amp;ndash; Industri farmasi di Indonesia masih memiliki ketergantungan dalam hal impor bahan baku obat.

Direktur Utama PT Kimia Farma Apotek Agus Chandra mengungkapkan bahwa ketergantungan Indonesia mengenai impor bahan baku masih cukup tinggi, yakni sebesar 90%.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Arahan Erick Thohir soal Ekonomi Digital, Ini Langkah Holding BUMN Farmasi

Oleh karena itu, Agus menjelaskan, bahwa pihaknya mendukung program pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor.

Program ini berupa produksi bahan baku obat di Indonesia.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Menko Airlangga: Ekonomi Indonesia Kalahkan China hingga AS

&amp;ldquo;Kimia Farma bagian dari BUMN farmasi, mendukung program pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor melalui pendirian bahan baku obat di Indonesia,&amp;rdquo; kata Agus pada konferensi pers MarkPlus, Jakarta, Rabu (29/11/2023).

Dirinya mengatakan jika melihat dari skala usaha memang agak sulit melawan pemain bahan baku di dunia seperti China dan India.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Sri Mulyani Sebut Setoran Dividen BUMN Melonjak 150% dari Target


Namun, berbagai upaya dilakukan agar Indonesia bisa lebih mandiri dalam memproduksi bahan baku obat.



&amp;ldquo;Tapi, karena kita ingin lebih mandiri di bahan baku, makanya kita mendorong Kimia Farma untuk membangun industri bahan baku obat di Indonesia,&amp;rdquo; jelas Agus.



&amp;ldquo;Yang saya tahu ya, untuk mengurangi ketergantungan itu ada road mapnya, mulai dari 3%, 5%, kemudian sampai 20% dalam waktu lima tahun ke depan,&amp;rdquo; tuturnya.



Di samping itu, Agus kembali menuturkan, mengenai ekspor obat dirasa agak sulit dalam hal perizinan dan harus memiliki kerja sama dengan perusahaan di negara tersebut.



&amp;ldquo;Kalau untuk ekspor, kita memang industri farmasi ini kan selalu dilindungi oleh pemerintah seluruh dunia. Jadi, untuk masuk ke ekspor itu agak sulit untuk perizinan. Kalau mau masuk ke suatu negara harus ber-partner dengan local company di negara tersebut,&amp;rdquo; pungkasnya.



Menurutnya, kebijakan tersebut dilakukan di seluruh negara termasuk Indonesia.</content:encoded></item></channel></rss>
