<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>PUPR Gerak Cepat Benahi Sendimentasi Sungai Cegah Banjir</title><description>Kementerian PUPR melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Palu tengah melakukan penanganan di tiga sungai yakni Sungai Palu</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/12/14/320/2938549/pupr-gerak-cepat-benahi-sendimentasi-sungai-cegah-banjir</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/12/14/320/2938549/pupr-gerak-cepat-benahi-sendimentasi-sungai-cegah-banjir"/><item><title>PUPR Gerak Cepat Benahi Sendimentasi Sungai Cegah Banjir</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/12/14/320/2938549/pupr-gerak-cepat-benahi-sendimentasi-sungai-cegah-banjir</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/12/14/320/2938549/pupr-gerak-cepat-benahi-sendimentasi-sungai-cegah-banjir</guid><pubDate>Kamis 14 Desember 2023 08:32 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/12/14/320/2938549/pupr-gerak-cepat-benahi-sendimentasi-sungai-cegah-banjir-xwjucHNk0J.JPG" expression="full" type="image/jpeg">PUPR gerak cepat atasi banjir. (Foto: PUPR)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/12/14/320/2938549/pupr-gerak-cepat-benahi-sendimentasi-sungai-cegah-banjir-xwjucHNk0J.JPG</image><title>PUPR gerak cepat atasi banjir. (Foto: PUPR)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8yNy8xLzE3MjgyOS81L3g4cDR1dGY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Palu tengah melakukan penanganan di tiga sungai yakni Sungai Palu, Sungai Kawatuna dan Sungai Ngia guna mengantisipasi banjir di kota Palu, Sulawesi Tengah.

Gempa yang terjadi pada 28 September 2018 di Kota Palu mengakibatkan tanah longsor pada beberapa titik perbukitan Daerah Aliran Sungai Palu yang sebagian besar terjadi di Kabupaten Sigi, sehingga menyebabkan masuknya sedimen pada badan sungai.
Selain itu sedimen yang terjadi di badan sungai juga diakibatkan oleh erosi tebing sungai.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Ucapkan Selamat Hari Bakti PUPR ke-78, Presiden Apresiasi Kinerja dan Kerja Cepat Kementerian PUPR

Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Kementerian PUPR Dedi Yudha Lesmana  mengatakan, sedimen pada badan sungai tersebut mengakibatkan terjadinya bencana banjir bandang pada 2019 lalu. Kombinasi antara sedimentasi tinggi dan curah hujan tinggi  selama 2 s/d 8 jam per hari menyebabkan banjir besar di Kota Palu.

&quot;Untuk itu Kementerian PUPR melalui Balai Wilayah Sungai Sulawesi III Palu melakukan penanganan Jangka Panjang (Long Term) dan pengendalian sedimen di Kota Palu dengan pembangunan tanggul sungai, pengendali elevasi dasar sungai (Groundsill), dan konsolidasi dam yang merupakan salah satu jenis bangunan pengendali sedimen dan penyeimbang kemiringan dasar sungai,&quot; kata Dedi dalam keterangan tertulisnya, Kamis (14/12/2023).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Pak Bas Nangis Usai Umumkan Kenaikan Tukin PNS PUPR

Dikatakan Dedi, pembangunan pengendali banjir pada tiga sungai di Kota Palu tersebut telah dimulai sejak Agustus 2023 sumber pendanaan Loan JICA (Japan International Cooperation Agency).

Konstruksinya dilaksanakan oleh PT Selaras Mandiri Sejahtera dengan nilai kontrak Rp150 miliar.

&quot;Untuk penanganan di Sungai Palu ruang lingkup pekerjaannya mencakup pembangunan tanggul sungai 387 meter di sisi kiri dan 364 meter di sisi kanan. Selain itu juga dibangun tanggul pantai sepanjang 487 meter di sisi kiri dan 423 meter di sisi kanan, serta pengerukan sedimen sungai sepanjang 800 meter,&quot; sambung Dedi.



Sedangkan untuk penanganan di Sungai Kawatuna, diungkapkan Dedi tengah dikerjakan pembangunan konsolidasi dam 2 unit dengan panjang masing-masing 40,5 meter dan tinggi 6 meter. &quot;Di Sungai Kawatuna juga dibangun groundsill sebanyak 6 unit dengan panjang 17,7 meter dan pengaman erosi tebing sungai (revetment),&quot; ujarnya.



Terakhir di Sungai Ngia, tengah dibangun konsolidasi dam sebanyak tiga unit masing-masing sepanjang 25,5 m sebanyak 1 unit dan 21 meter sebanyak 2 unit.



&quot;Selain itu juga dibangun groundsill untuk memperkecil kemiringan arus sungai sehingga kecepatan air menjadi kecil dan kedalaman air bertambah,&quot; pungkas Dedi.



Sungai Palu merupakan sungai primer DAS Palu-Lariang. Bagian hilir Sungai Palu terdapat kerusakan parah akibat gempa bumi dan tsunami.



Sedangkan Sungai Kawatuna merupakan anak Sungai Palu yang melewati landasan pacu bandara, akibat gempa tahun 2018, banjir dengan sedimen sering terjadi yang mengendap di gorong-gorong bawah landasan pacu bandara.



Sementara Sungai Ngia yang tergabung dengan saluran irigasi ketika hujan lebat, membawa sedimen yang sangat tinggi, membahayakan infrastruktur bandara serta saluran irigasi.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8yNy8xLzE3MjgyOS81L3g4cDR1dGY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;

JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Palu tengah melakukan penanganan di tiga sungai yakni Sungai Palu, Sungai Kawatuna dan Sungai Ngia guna mengantisipasi banjir di kota Palu, Sulawesi Tengah.

Gempa yang terjadi pada 28 September 2018 di Kota Palu mengakibatkan tanah longsor pada beberapa titik perbukitan Daerah Aliran Sungai Palu yang sebagian besar terjadi di Kabupaten Sigi, sehingga menyebabkan masuknya sedimen pada badan sungai.
Selain itu sedimen yang terjadi di badan sungai juga diakibatkan oleh erosi tebing sungai.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Ucapkan Selamat Hari Bakti PUPR ke-78, Presiden Apresiasi Kinerja dan Kerja Cepat Kementerian PUPR

Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III Kementerian PUPR Dedi Yudha Lesmana  mengatakan, sedimen pada badan sungai tersebut mengakibatkan terjadinya bencana banjir bandang pada 2019 lalu. Kombinasi antara sedimentasi tinggi dan curah hujan tinggi  selama 2 s/d 8 jam per hari menyebabkan banjir besar di Kota Palu.

&quot;Untuk itu Kementerian PUPR melalui Balai Wilayah Sungai Sulawesi III Palu melakukan penanganan Jangka Panjang (Long Term) dan pengendalian sedimen di Kota Palu dengan pembangunan tanggul sungai, pengendali elevasi dasar sungai (Groundsill), dan konsolidasi dam yang merupakan salah satu jenis bangunan pengendali sedimen dan penyeimbang kemiringan dasar sungai,&quot; kata Dedi dalam keterangan tertulisnya, Kamis (14/12/2023).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Pak Bas Nangis Usai Umumkan Kenaikan Tukin PNS PUPR

Dikatakan Dedi, pembangunan pengendali banjir pada tiga sungai di Kota Palu tersebut telah dimulai sejak Agustus 2023 sumber pendanaan Loan JICA (Japan International Cooperation Agency).

Konstruksinya dilaksanakan oleh PT Selaras Mandiri Sejahtera dengan nilai kontrak Rp150 miliar.

&quot;Untuk penanganan di Sungai Palu ruang lingkup pekerjaannya mencakup pembangunan tanggul sungai 387 meter di sisi kiri dan 364 meter di sisi kanan. Selain itu juga dibangun tanggul pantai sepanjang 487 meter di sisi kiri dan 423 meter di sisi kanan, serta pengerukan sedimen sungai sepanjang 800 meter,&quot; sambung Dedi.



Sedangkan untuk penanganan di Sungai Kawatuna, diungkapkan Dedi tengah dikerjakan pembangunan konsolidasi dam 2 unit dengan panjang masing-masing 40,5 meter dan tinggi 6 meter. &quot;Di Sungai Kawatuna juga dibangun groundsill sebanyak 6 unit dengan panjang 17,7 meter dan pengaman erosi tebing sungai (revetment),&quot; ujarnya.



Terakhir di Sungai Ngia, tengah dibangun konsolidasi dam sebanyak tiga unit masing-masing sepanjang 25,5 m sebanyak 1 unit dan 21 meter sebanyak 2 unit.



&quot;Selain itu juga dibangun groundsill untuk memperkecil kemiringan arus sungai sehingga kecepatan air menjadi kecil dan kedalaman air bertambah,&quot; pungkas Dedi.



Sungai Palu merupakan sungai primer DAS Palu-Lariang. Bagian hilir Sungai Palu terdapat kerusakan parah akibat gempa bumi dan tsunami.



Sedangkan Sungai Kawatuna merupakan anak Sungai Palu yang melewati landasan pacu bandara, akibat gempa tahun 2018, banjir dengan sedimen sering terjadi yang mengendap di gorong-gorong bawah landasan pacu bandara.



Sementara Sungai Ngia yang tergabung dengan saluran irigasi ketika hujan lebat, membawa sedimen yang sangat tinggi, membahayakan infrastruktur bandara serta saluran irigasi.</content:encoded></item></channel></rss>
