<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>The Fed Tahan Suku Bunga, Ini Dampaknya ke Ekonomi Global</title><description>Keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunganya di 5,25-5,50%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/12/14/320/2938646/the-fed-tahan-suku-bunga-ini-dampaknya-ke-ekonomi-global</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/12/14/320/2938646/the-fed-tahan-suku-bunga-ini-dampaknya-ke-ekonomi-global"/><item><title>The Fed Tahan Suku Bunga, Ini Dampaknya ke Ekonomi Global</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/12/14/320/2938646/the-fed-tahan-suku-bunga-ini-dampaknya-ke-ekonomi-global</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/12/14/320/2938646/the-fed-tahan-suku-bunga-ini-dampaknya-ke-ekonomi-global</guid><pubDate>Kamis 14 Desember 2023 11:26 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/12/14/320/2938646/the-fed-tahan-suku-bunga-ini-dampaknya-ke-ekonomi-global-f4LK2KHh0P.JPG" expression="full" type="image/jpeg">The Fed resmi tahan suku bunga acuan. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/12/14/320/2938646/the-fed-tahan-suku-bunga-ini-dampaknya-ke-ekonomi-global-f4LK2KHh0P.JPG</image><title>The Fed resmi tahan suku bunga acuan. (Foto: Reuters)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8wMi80LzE2MzY3NC81L3g4ajVkNTg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;



JAKARTA - Keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunganya di 5,25-5,50% menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru menjadi angin segar bagi perekonomian global.

&quot;Ini adalah keputusan yang perlu disambut dengan kegembiraan, terutama bagi negara-negara berkembang, karena ini menunjukkan bahwa puncak dari kenaikan suku bunga The Fed sudah mulai melandai, sudah mulai reda,&quot; ujar ekonom sekaligus Direktur Celios Bhima Yudhistira kepada MNC Portal Indonesia di Jakarta, Kamis (14/12/2023).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Inflasi AS November 3,1%, The Fed Diramal Tahan Suku Bunga

Hal ini juga karena beberapa bulan sebelumnya ketika masih ada dorongan untuk hawkish dari The Fed sudah menimbulkan tekanan yang cukup besar, baik di pasar modal maupun pasar surat utang pemerintah Indonesia.

&quot;Jadi outflownya sangat besar, nah ini kalau terjadi pembalikan arah, the Fed akan mulai melandai, bahkan ada indikasi menurunkan suku bunga misalnya, maka diharapkan bisa membuat Rupiah lebih stabil, minat investor untuk membeli surat utang pemerintah Indonesia atau SBN juga semakin bagus, dan semakin banyak yang terserap di pasar,&quot; tambah Bhima.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Gubernur BI: Kita Masih Alami Fenomena Suku Bunga Fed Lebih Tinggi

Dia menyebut bahwa aksi ini bisa menstabilkan nilai tukar Rupiah dan membuat investor yang tadinya khawatir terhadap risiko moneter dan suku bunga mulai merealisasikan baik investasi portofolio maupun investasi langsung atau FDI ke Indonesia.

Sekarang, lanjut Bhima, yang perlu diantisipasi adalah momentum Pemilu di Amerika Serikat (AS) yang akan berlangsung di bulan November 2024.

Itu menjadi salah satu risiko juga karena biasanya menjelang pemilu AS, kebijakan-kebijakan fiskal di AS cukup riskan.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Wall Street Menguat, Investor Yakin The Fed Akan Naikkan Suku Bunga


&quot;Cukup bisa berpengaruh terhadap kebijakan geopolitik, kebijakan stabilitas makroekonomi global. Jadi tetap harus ada kewaspadaan meski tren suku bunganya sudah ditahan secara global,&quot; tandas Bhima.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMy8wMi80LzE2MzY3NC81L3g4ajVkNTg=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;



JAKARTA - Keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunganya di 5,25-5,50% menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru menjadi angin segar bagi perekonomian global.

&quot;Ini adalah keputusan yang perlu disambut dengan kegembiraan, terutama bagi negara-negara berkembang, karena ini menunjukkan bahwa puncak dari kenaikan suku bunga The Fed sudah mulai melandai, sudah mulai reda,&quot; ujar ekonom sekaligus Direktur Celios Bhima Yudhistira kepada MNC Portal Indonesia di Jakarta, Kamis (14/12/2023).
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Inflasi AS November 3,1%, The Fed Diramal Tahan Suku Bunga

Hal ini juga karena beberapa bulan sebelumnya ketika masih ada dorongan untuk hawkish dari The Fed sudah menimbulkan tekanan yang cukup besar, baik di pasar modal maupun pasar surat utang pemerintah Indonesia.

&quot;Jadi outflownya sangat besar, nah ini kalau terjadi pembalikan arah, the Fed akan mulai melandai, bahkan ada indikasi menurunkan suku bunga misalnya, maka diharapkan bisa membuat Rupiah lebih stabil, minat investor untuk membeli surat utang pemerintah Indonesia atau SBN juga semakin bagus, dan semakin banyak yang terserap di pasar,&quot; tambah Bhima.
&amp;nbsp;BACA JUGA:

Gubernur BI: Kita Masih Alami Fenomena Suku Bunga Fed Lebih Tinggi

Dia menyebut bahwa aksi ini bisa menstabilkan nilai tukar Rupiah dan membuat investor yang tadinya khawatir terhadap risiko moneter dan suku bunga mulai merealisasikan baik investasi portofolio maupun investasi langsung atau FDI ke Indonesia.

Sekarang, lanjut Bhima, yang perlu diantisipasi adalah momentum Pemilu di Amerika Serikat (AS) yang akan berlangsung di bulan November 2024.

Itu menjadi salah satu risiko juga karena biasanya menjelang pemilu AS, kebijakan-kebijakan fiskal di AS cukup riskan.

&amp;nbsp;BACA JUGA:

Wall Street Menguat, Investor Yakin The Fed Akan Naikkan Suku Bunga


&quot;Cukup bisa berpengaruh terhadap kebijakan geopolitik, kebijakan stabilitas makroekonomi global. Jadi tetap harus ada kewaspadaan meski tren suku bunganya sudah ditahan secara global,&quot; tandas Bhima.</content:encoded></item></channel></rss>
