<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Utang RI Tahun 2020 Paling Spektakuler</title><description>Utang Indonesia diprediksi menembus Rp2.000 triliun tiap tahunnya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/12/14/320/2938833/utang-ri-tahun-2020-paling-spektakuler</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/12/14/320/2938833/utang-ri-tahun-2020-paling-spektakuler"/><item><title>Utang RI Tahun 2020 Paling Spektakuler</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/12/14/320/2938833/utang-ri-tahun-2020-paling-spektakuler</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/12/14/320/2938833/utang-ri-tahun-2020-paling-spektakuler</guid><pubDate>Kamis 14 Desember 2023 15:31 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/12/14/320/2938833/utang-ri-tahun-2020-paling-spektakuler-199H62lYoY.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Utang RI 2020 paling spektakuler (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/12/14/320/2938833/utang-ri-tahun-2020-paling-spektakuler-199H62lYoY.jpeg</image><title>Utang RI 2020 paling spektakuler (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8wNC82LzE3MTY1My81L3g4b2owbjY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Utang Indonesia diprediksi menembus Rp2.000 triliun tiap tahunnya. Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini pun mengkritisi pola pemerintah Indonesia dalam mengambil utang.
Ekonom senior ini mencontohkan bahwa pada zaman pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), obligasi yang dikeluarkan hanya sekitar Rp50-Rp75 triliun. Utang ini pun dipakai untuk menutup defisit, atau menambah anggaran.

BACA JUGA:
WeWork Bangkrut, Utang Perusahaan Capai Rp295 Triliun


&quot;Tetapi di Indonesia, utangnya naik hingga 3 kali lipat sejak 2014. Tahun 2020 paling spektakuler, jadi setahun APBN kita membuat utang atau obligasi Rp1.686 triliun tahun 2020 waktu COVID-19,&quot; ujar Didik dalam Seminar bertemakan &quot;Evaluasi Akhir Tahun Bidang Ekonomi, Politik, dan Hukum&quot; secara virtual di Jakarta, Kamis (14/12/2023).
Dia mengatakan bahwa penerbitan obligasi ini tidak semuanya untuk anggaran, sebagian diswap untuk utang, jadi yang dipakai hanya selisihnya saja.

BACA JUGA:
Surat Utang di BEI Tembus Rp117,8 Triliun


&quot;Sehingga sampai kiamat, itu akan selalu mengambil utang sebesar Rp1.000-2.000 triliun tiap tahun, atau bahkan lebih. Utang yang diambil untuk menambal defisit itu dulu Rp50 triliun, sekarang sudah Rp1.000-2.000 triliun, ya sampai kiamat kalau tidak ada perubahan radikal,&quot;
Meskipun pemerintah menyebut bahwa rasio utang masih dalam taraf aman di 40%, Didik mengatakan hal ini benar jika hanya dihitung dari utang ini saja. Pasalnya, menurut dia ini belum menghitung utang yang lain, misal utang BUMN, utang pemerintah daerah, dan yang lainnya, bisa mencapai 70%.
Di Jepang misalkan, meski rasio utang sampai 200% dari PDB, bunganya  hanya 0,2%. Indonesia, di sisi lain, bunganya mencapai 6,5%. Sehingga,  kalau seandainya Jepang berutang hingga Rp7.000 triliun seperti  Indonesia, maka yang dibayar setiap tahun hanya Rp14 triliun. Sementara  Indonesia, membayar utangnya bisa mencapai Rp350-Rp400 triliun per  tahunnya, meskipun itu hanya bunga.
&quot;Siapa yang menikmati? Ya orang-orang kaya itu, termasuk perbankan  karena mereka membeli obligasi. Mereka tak perlu bekerja karena mendapat  uang dari pajak. Nah kenapa? Ini yang ugal-ugalan,&quot; tambah Didik.
Dia juga menyinggung rencana penerbitan utang di 2024 sebesar Rp1.300 triliun.
&quot;Yang spektakuler waktu COVID-19, nah sekarang pembayaran bunga dan  pokok bisa mencapai Rp1.000 triliun, seperti di 2023 ini kira-kira.  Dalam pandangan saya, ini sudah menjadi penyakit dalam APBN kita,&quot;  tandas Didik.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8wNC82LzE3MTY1My81L3g4b2owbjY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Utang Indonesia diprediksi menembus Rp2.000 triliun tiap tahunnya. Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini pun mengkritisi pola pemerintah Indonesia dalam mengambil utang.
Ekonom senior ini mencontohkan bahwa pada zaman pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), obligasi yang dikeluarkan hanya sekitar Rp50-Rp75 triliun. Utang ini pun dipakai untuk menutup defisit, atau menambah anggaran.

BACA JUGA:
WeWork Bangkrut, Utang Perusahaan Capai Rp295 Triliun


&quot;Tetapi di Indonesia, utangnya naik hingga 3 kali lipat sejak 2014. Tahun 2020 paling spektakuler, jadi setahun APBN kita membuat utang atau obligasi Rp1.686 triliun tahun 2020 waktu COVID-19,&quot; ujar Didik dalam Seminar bertemakan &quot;Evaluasi Akhir Tahun Bidang Ekonomi, Politik, dan Hukum&quot; secara virtual di Jakarta, Kamis (14/12/2023).
Dia mengatakan bahwa penerbitan obligasi ini tidak semuanya untuk anggaran, sebagian diswap untuk utang, jadi yang dipakai hanya selisihnya saja.

BACA JUGA:
Surat Utang di BEI Tembus Rp117,8 Triliun


&quot;Sehingga sampai kiamat, itu akan selalu mengambil utang sebesar Rp1.000-2.000 triliun tiap tahun, atau bahkan lebih. Utang yang diambil untuk menambal defisit itu dulu Rp50 triliun, sekarang sudah Rp1.000-2.000 triliun, ya sampai kiamat kalau tidak ada perubahan radikal,&quot;
Meskipun pemerintah menyebut bahwa rasio utang masih dalam taraf aman di 40%, Didik mengatakan hal ini benar jika hanya dihitung dari utang ini saja. Pasalnya, menurut dia ini belum menghitung utang yang lain, misal utang BUMN, utang pemerintah daerah, dan yang lainnya, bisa mencapai 70%.
Di Jepang misalkan, meski rasio utang sampai 200% dari PDB, bunganya  hanya 0,2%. Indonesia, di sisi lain, bunganya mencapai 6,5%. Sehingga,  kalau seandainya Jepang berutang hingga Rp7.000 triliun seperti  Indonesia, maka yang dibayar setiap tahun hanya Rp14 triliun. Sementara  Indonesia, membayar utangnya bisa mencapai Rp350-Rp400 triliun per  tahunnya, meskipun itu hanya bunga.
&quot;Siapa yang menikmati? Ya orang-orang kaya itu, termasuk perbankan  karena mereka membeli obligasi. Mereka tak perlu bekerja karena mendapat  uang dari pajak. Nah kenapa? Ini yang ugal-ugalan,&quot; tambah Didik.
Dia juga menyinggung rencana penerbitan utang di 2024 sebesar Rp1.300 triliun.
&quot;Yang spektakuler waktu COVID-19, nah sekarang pembayaran bunga dan  pokok bisa mencapai Rp1.000 triliun, seperti di 2023 ini kira-kira.  Dalam pandangan saya, ini sudah menjadi penyakit dalam APBN kita,&quot;  tandas Didik.</content:encoded></item></channel></rss>
