<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bank Sentral AS Tahan Suku Bunga Efek Data Ketenagakerjaan dan Inflasi Mereda</title><description>Bank sentral Amerika Serikat (The Fed) memutuskan menahan suku bunga acuan di level 5,25&amp;ndash;5,50%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/12/14/320/2938847/bank-sentral-as-tahan-suku-bunga-efek-data-ketenagakerjaan-dan-inflasi-mereda</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/12/14/320/2938847/bank-sentral-as-tahan-suku-bunga-efek-data-ketenagakerjaan-dan-inflasi-mereda"/><item><title>Bank Sentral AS Tahan Suku Bunga Efek Data Ketenagakerjaan dan Inflasi Mereda</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/12/14/320/2938847/bank-sentral-as-tahan-suku-bunga-efek-data-ketenagakerjaan-dan-inflasi-mereda</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/12/14/320/2938847/bank-sentral-as-tahan-suku-bunga-efek-data-ketenagakerjaan-dan-inflasi-mereda</guid><pubDate>Kamis 14 Desember 2023 15:50 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/12/14/320/2938847/bank-sentral-as-tahan-suku-bunga-efek-data-ketenagakerjaan-dan-inflasi-mereda-MFSCBF9wf2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">The Fed tahan suku bunga acuan (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/12/14/320/2938847/bank-sentral-as-tahan-suku-bunga-efek-data-ketenagakerjaan-dan-inflasi-mereda-MFSCBF9wf2.jpg</image><title>The Fed tahan suku bunga acuan (Foto: Reuters)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8xNi80LzE2MDg5Ny81L3g4ajZtNmo=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Bank sentral Amerika Serikat (The Fed) memutuskan menahan suku bunga acuan di level 5,25&amp;ndash;5,50% dan juga mengindikasikan pemangkasan suku bunga sebanyak tiga kali pada 2024. Langkah The Fed ini dinilai bertentangan dengan target sebelumnya yang akan selalu hawkish.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengungkapkan, target The Fed berkesinambungan dengan Data Ketenagakerjaan dan inflasi yang mereda.

BACA JUGA:
The Fed Tahan Suku Bunga, Ini Dampaknya ke Ekonomi Global


&quot;Data ketenagakerjaan kecenderungan melemah, sementara inflasi juga mulai mereda walaupun belum ke posisi target Fed di 2%,&quot; ungkap David kepada MNC Portal, Kamis (14/12/2023).
Menurut David, berubahnya kebijakan The Fed juga berdampak positif terhadap ekonomi global khususnya Indonesia. Hal itu terlihat dari mata uang emerging market yang bergerak menguat termasuk rupiah.

BACA JUGA:
The Fed Tahan Suku Bunga, Ini Keuntungan Bagi Negara Berkembang


Selain itu, David membeberkan bahwa pasar masih berekspektasi The Fed akan menurunkan suku bunga hingga 125 bps di 2024.
&quot;Pasar berekspektasi Fed akan menurunkan suku bunga minimal 50 bps dan sampai 75-125 bps di H2-2024,&quot; ujar David.
Sebagai catatan, The Fed mengerek suku bunga sebesar 525 bps sejak  Maret 2022 hingga Juli tahun ini sebelum menahannya pada September,  November, dan Desember 2023. Ketua The Fed Jerome Powell dalam  konferensi pers, Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia,  mengatakan jika inflasi sudah bergerak sesuai keinginan The Fed.
Namun, dia mengingatkan jika inflasi masih tinggi. Powell  mengingatkan jika upaya menurunkan inflasi ke target mereka yakni 2%  bisa berubah dan masih belum pasti.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wMS8xNi80LzE2MDg5Ny81L3g4ajZtNmo=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Bank sentral Amerika Serikat (The Fed) memutuskan menahan suku bunga acuan di level 5,25&amp;ndash;5,50% dan juga mengindikasikan pemangkasan suku bunga sebanyak tiga kali pada 2024. Langkah The Fed ini dinilai bertentangan dengan target sebelumnya yang akan selalu hawkish.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengungkapkan, target The Fed berkesinambungan dengan Data Ketenagakerjaan dan inflasi yang mereda.

BACA JUGA:
The Fed Tahan Suku Bunga, Ini Dampaknya ke Ekonomi Global


&quot;Data ketenagakerjaan kecenderungan melemah, sementara inflasi juga mulai mereda walaupun belum ke posisi target Fed di 2%,&quot; ungkap David kepada MNC Portal, Kamis (14/12/2023).
Menurut David, berubahnya kebijakan The Fed juga berdampak positif terhadap ekonomi global khususnya Indonesia. Hal itu terlihat dari mata uang emerging market yang bergerak menguat termasuk rupiah.

BACA JUGA:
The Fed Tahan Suku Bunga, Ini Keuntungan Bagi Negara Berkembang


Selain itu, David membeberkan bahwa pasar masih berekspektasi The Fed akan menurunkan suku bunga hingga 125 bps di 2024.
&quot;Pasar berekspektasi Fed akan menurunkan suku bunga minimal 50 bps dan sampai 75-125 bps di H2-2024,&quot; ujar David.
Sebagai catatan, The Fed mengerek suku bunga sebesar 525 bps sejak  Maret 2022 hingga Juli tahun ini sebelum menahannya pada September,  November, dan Desember 2023. Ketua The Fed Jerome Powell dalam  konferensi pers, Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia,  mengatakan jika inflasi sudah bergerak sesuai keinginan The Fed.
Namun, dia mengingatkan jika inflasi masih tinggi. Powell  mengingatkan jika upaya menurunkan inflasi ke target mereka yakni 2%  bisa berubah dan masih belum pasti.</content:encoded></item></channel></rss>
