<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Resmi Dibentuk, Sub Holding PalmCo Percepat Hilirisasi Sawit</title><description>PTPN Group yang resmi mendirikan sub holding PalmCo, khusus mengelola bisnis kelapa sawit.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/12/15/320/2939463/resmi-dibentuk-sub-holding-palmco-percepat-hilirisasi-sawit</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/12/15/320/2939463/resmi-dibentuk-sub-holding-palmco-percepat-hilirisasi-sawit"/><item><title>Resmi Dibentuk, Sub Holding PalmCo Percepat Hilirisasi Sawit</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/12/15/320/2939463/resmi-dibentuk-sub-holding-palmco-percepat-hilirisasi-sawit</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/12/15/320/2939463/resmi-dibentuk-sub-holding-palmco-percepat-hilirisasi-sawit</guid><pubDate>Jum'at 15 Desember 2023 15:10 WIB</pubDate><dc:creator>Meliana Tesa</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/12/15/320/2939463/resmi-dibentuk-sub-holding-palmco-percepat-hilirisasi-sawit-MMMIG4qbMk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pembentukan PalmCo percepat program hilirisasi (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/12/15/320/2939463/resmi-dibentuk-sub-holding-palmco-percepat-hilirisasi-sawit-MMMIG4qbMk.jpg</image><title>Pembentukan PalmCo percepat program hilirisasi (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8wMy8xLzE2ODcwMS81L3g4bXo3MHA=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; PTPN Group yang resmi mendirikan sub holding PalmCo, khusus mengelola bisnis kelapa sawit. Sub holding PalmCo merupakan penggabungan unit bisnis sawit 13 PTPN.
PalmCo diharapkan menjadi perusahaan sawit terbesar di dunia dari sisi luas lahan, yaitu mencapai lebih dari 600 ribu hektare pada 2026 dan akan menjadi pemain utama industri sawit dunia.

BACA JUGA:
Palm Co Ditargetkan IPO di 2024


Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah meyakini jika dikelola dengan baik dan profesional, maka sub Holding PalmCo akan dapat mendukung hilirisasi komoditas sawit, ketahanan pangan nasional dan energi terbarukan, serta memastikan stok minyak goreng untuk industri dan rumah tangga.
&amp;ldquo;Saya memandang positif sekali apa yang dilakukan Pemerintah dengan mendirikan PalmCo sebagai perusahaan pengolahan kelapa sawit karena bisa mendorong membatu proses hilirisasi dan mengatasi masalah sawit lain,&amp;rdquo; ujarnya, menjawab wartawan di Jakarta, Selasa (12/12/2023).

BACA JUGA:
4 Anak Usaha PTPN III Digabung Jadi Sub Holding Palm Co


Di sisi lain, dia mengatakan PTPN IV PalmCo akan menghadapi tantangan untuk mencapai targetnya. Namun, menurutnya, terbentuknya BUMN khusus mengelola sawit sudah menjadi langkah awal yang baik untuk menyeimbangkan kebutuhan dalam negeri dalam industri sawit nasional yang saat ini didominasi oleh perusahaan swasta.
&amp;ldquo;Kalau membahas tantangan, ini sebenarnya yang paling utama itu ada dulu. Ada dulu (resmi mendirikan PalmCo-red). Jadi sebagai langkah awal, ini sudah sangat bagus. Dengan adanya BUMN fokus masuk ke dalam industri sawit, menurut saya, jauh lebih baik,&amp;rdquo; terangnya.
Alasannya, dia memaparkan peran BUMN dan Pemerintah selama ini dalam  industri sawit terlalu kecil karena dikuasai oleh perusahaan swasta.
Kondisi ini, ujarnya, menyebabkan Pemerintah sulit melakukan kendali  ketika terjadi gejolak harga, terbukti ketika terjadi masalah kelangkaan  minyak goreng di pasar.
&amp;ldquo;Pemerintah tidak bisa mengintervensi karena tidak punya produknya.  Pemerintah mau mengendalikan harga, misalnya Rp14 ribu per kg tidak bisa  karena yang punya barang bukan Pemerintah,&amp;rdquo; lanjut Piter Abdullah.
Jadi, lanjutnya, PalmCo diharapkan dapat menyeimbangkan kondisi itu  karena perusahaan ini dapat menjadi perpanjang tangan Pemeritah di  industri sawit. Dengan Pemerintah terjun langsung di industri sawit,  jelasnya, kemampuan Pemerintah mengendalikan harga, jika dibutuhkan,  akan lebih kuat.
PTPN dipercaya mampu berkontribusi meningkatkan produksi CPO nasional  dan minyak goreng dalam negeri. Dimana salah satu inisiatifnya adalah  melalui dukungan atas 60 ribu Hektar Peremajaan Sawit Rakyat di  Indonesia. PTPN sendiri memperkirakan, produksi minyak gorengnya akan  meningkat dari 460.000 ton/tahun di 2021 menjadi 1,8 juta ton/tahun (4  kali lipat) di 2026.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wOC8wMy8xLzE2ODcwMS81L3g4bXo3MHA=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; PTPN Group yang resmi mendirikan sub holding PalmCo, khusus mengelola bisnis kelapa sawit. Sub holding PalmCo merupakan penggabungan unit bisnis sawit 13 PTPN.
PalmCo diharapkan menjadi perusahaan sawit terbesar di dunia dari sisi luas lahan, yaitu mencapai lebih dari 600 ribu hektare pada 2026 dan akan menjadi pemain utama industri sawit dunia.

BACA JUGA:
Palm Co Ditargetkan IPO di 2024


Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah meyakini jika dikelola dengan baik dan profesional, maka sub Holding PalmCo akan dapat mendukung hilirisasi komoditas sawit, ketahanan pangan nasional dan energi terbarukan, serta memastikan stok minyak goreng untuk industri dan rumah tangga.
&amp;ldquo;Saya memandang positif sekali apa yang dilakukan Pemerintah dengan mendirikan PalmCo sebagai perusahaan pengolahan kelapa sawit karena bisa mendorong membatu proses hilirisasi dan mengatasi masalah sawit lain,&amp;rdquo; ujarnya, menjawab wartawan di Jakarta, Selasa (12/12/2023).

BACA JUGA:
4 Anak Usaha PTPN III Digabung Jadi Sub Holding Palm Co


Di sisi lain, dia mengatakan PTPN IV PalmCo akan menghadapi tantangan untuk mencapai targetnya. Namun, menurutnya, terbentuknya BUMN khusus mengelola sawit sudah menjadi langkah awal yang baik untuk menyeimbangkan kebutuhan dalam negeri dalam industri sawit nasional yang saat ini didominasi oleh perusahaan swasta.
&amp;ldquo;Kalau membahas tantangan, ini sebenarnya yang paling utama itu ada dulu. Ada dulu (resmi mendirikan PalmCo-red). Jadi sebagai langkah awal, ini sudah sangat bagus. Dengan adanya BUMN fokus masuk ke dalam industri sawit, menurut saya, jauh lebih baik,&amp;rdquo; terangnya.
Alasannya, dia memaparkan peran BUMN dan Pemerintah selama ini dalam  industri sawit terlalu kecil karena dikuasai oleh perusahaan swasta.
Kondisi ini, ujarnya, menyebabkan Pemerintah sulit melakukan kendali  ketika terjadi gejolak harga, terbukti ketika terjadi masalah kelangkaan  minyak goreng di pasar.
&amp;ldquo;Pemerintah tidak bisa mengintervensi karena tidak punya produknya.  Pemerintah mau mengendalikan harga, misalnya Rp14 ribu per kg tidak bisa  karena yang punya barang bukan Pemerintah,&amp;rdquo; lanjut Piter Abdullah.
Jadi, lanjutnya, PalmCo diharapkan dapat menyeimbangkan kondisi itu  karena perusahaan ini dapat menjadi perpanjang tangan Pemeritah di  industri sawit. Dengan Pemerintah terjun langsung di industri sawit,  jelasnya, kemampuan Pemerintah mengendalikan harga, jika dibutuhkan,  akan lebih kuat.
PTPN dipercaya mampu berkontribusi meningkatkan produksi CPO nasional  dan minyak goreng dalam negeri. Dimana salah satu inisiatifnya adalah  melalui dukungan atas 60 ribu Hektar Peremajaan Sawit Rakyat di  Indonesia. PTPN sendiri memperkirakan, produksi minyak gorengnya akan  meningkat dari 460.000 ton/tahun di 2021 menjadi 1,8 juta ton/tahun (4  kali lipat) di 2026.</content:encoded></item></channel></rss>
