<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Logam Tanah Jarang Jadi Primadona, ESDM Cari Potensi Harta Karun di RI</title><description>ESDM tengah mencari potensi Rare Earth Elements (REE) atau mineral logam tanah jarang di lautan Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/12/18/320/2940759/logam-tanah-jarang-jadi-primadona-esdm-cari-potensi-harta-karun-di-ri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/12/18/320/2940759/logam-tanah-jarang-jadi-primadona-esdm-cari-potensi-harta-karun-di-ri"/><item><title>Logam Tanah Jarang Jadi Primadona, ESDM Cari Potensi Harta Karun di RI</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/12/18/320/2940759/logam-tanah-jarang-jadi-primadona-esdm-cari-potensi-harta-karun-di-ri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/12/18/320/2940759/logam-tanah-jarang-jadi-primadona-esdm-cari-potensi-harta-karun-di-ri</guid><pubDate>Senin 18 Desember 2023 13:01 WIB</pubDate><dc:creator>Atikah Umiyani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/12/18/320/2940759/logam-tanah-jarang-jadi-primadona-esdm-cari-potensi-harta-karun-di-ri-6BAmxrmSre.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">ESDM cari potensi logam langka di Indonesia (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/12/18/320/2940759/logam-tanah-jarang-jadi-primadona-esdm-cari-potensi-harta-karun-di-ri-6BAmxrmSre.jpeg</image><title>ESDM cari potensi logam langka di Indonesia (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8xNC8xLzE3MzY0Ni81L3g4cG0yZm8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Kementerian ESDM melalui Balai Besar Survei dan Pemetaan Geologi Kelautan (BBSPGL) tengah mencari potensi Rare Earth Elements (REE) atau mineral logam tanah jarang di lautan Indonesia.
Adapun logam tanah jarang itu sendiri merupakan primadona dunia seiring dengan meningkatnya pemanfaatan energi bersih dan menjadi unsur utama dalam produk-produk kendaraan listrik maupun elektronik.

BACA JUGA:
Jurus ESDM Atasi Intermitensi Pembangkit Listrik Energi Bersih


Dengan manfaat yang besar dari logam tanah jarang tersebut, BBSPGL terus bergerak melakukan survei dan pemetaan serta telah melakukan pendataan terhadap potensi-potensi yang ada.
&quot;Kami sudah memperoleh data, jadi dari survei di seluruh Indonesia itu, kami masih mencakup sekitar 10%, yang artinya PR (pekerjaan rumah)-nya masih banyak,&quot; jelas Kepala BBSPGL Hadi Wijaya dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Senin (18/12/2023).

BACA JUGA:
Mantan Menteri ESDM Kuntoro Mangkusubroto Meninggal Dunia


Dari 10% tersebut, terang Hadi, BBSPGL telah melakukan survei dan pemetaan terhadap 1.820 sampel dari 12 komoditas di 30 lokasi perairan Indonesia, yang mana sampel tersebut diambil dari sedimen dasar laut yang menggunakan peralatan geologi.
Selain itu, apabila sampel yang diambil berada pada laut yang kedalamannya lebih dari 500 meter, BBSPGL menggunakan kapal riset canggih, yakni kapal Geomarine III, yang memiliki multipurpose vessel, dengan fungsinya untuk pemetaan hidrografi, oseanografi, geologi, maupun geofisika.
&quot;Sepanjang tahun 2023 ini, BBPSGL melakukan survei menggunakan kapal  geomarine dan perahu kecil, tercatat bahwa kita telah memperoleh  lintasan survei sepanjang 4.790 KM, atau hampir 5 kali bolak-balik  Jakarta-Banyuwangi, ini yang terpanjang selama 5 tahun terakhir,&quot;  tuturnya.
Dari hasil survei dan pemetaan serta pengolahan data yang dilakukan  BBSPGL, Hadi mengungkapkan bahwa terdapat potensi sebesar 4,6 miliar m3  mineral berat pembawa logam tanah jarang, emas plaser sebanyak 268,4  juta m3, pasir timah 386,4 juta m3, pasir silika sebanyak 22,8 miliar  m3, serta 30 miliar m3 pasir besi.
Namun hadi menegaskan bahwa potensi tersebut tidak dapat diartikan  potensi di seluruh wilayah Indonesia, karena seperti dikatakan  sebelumnya bahwa survei yang dilakukan baru mencakup 10% saja dan belum  ditambahkan dengan survei dari stakeholder.
&quot;Ini semua sebetulnya hasil murni dari Badan Geologi dan belum  ditambahkan dengan hasil penelitian para mitra ataupun stakeholder yang  terkait. Jadi artinya begitu besarnya potensi untuk mineral kelautan di  Indonesia,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8xNC8xLzE3MzY0Ni81L3g4cG0yZm8=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Kementerian ESDM melalui Balai Besar Survei dan Pemetaan Geologi Kelautan (BBSPGL) tengah mencari potensi Rare Earth Elements (REE) atau mineral logam tanah jarang di lautan Indonesia.
Adapun logam tanah jarang itu sendiri merupakan primadona dunia seiring dengan meningkatnya pemanfaatan energi bersih dan menjadi unsur utama dalam produk-produk kendaraan listrik maupun elektronik.

BACA JUGA:
Jurus ESDM Atasi Intermitensi Pembangkit Listrik Energi Bersih


Dengan manfaat yang besar dari logam tanah jarang tersebut, BBSPGL terus bergerak melakukan survei dan pemetaan serta telah melakukan pendataan terhadap potensi-potensi yang ada.
&quot;Kami sudah memperoleh data, jadi dari survei di seluruh Indonesia itu, kami masih mencakup sekitar 10%, yang artinya PR (pekerjaan rumah)-nya masih banyak,&quot; jelas Kepala BBSPGL Hadi Wijaya dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Senin (18/12/2023).

BACA JUGA:
Mantan Menteri ESDM Kuntoro Mangkusubroto Meninggal Dunia


Dari 10% tersebut, terang Hadi, BBSPGL telah melakukan survei dan pemetaan terhadap 1.820 sampel dari 12 komoditas di 30 lokasi perairan Indonesia, yang mana sampel tersebut diambil dari sedimen dasar laut yang menggunakan peralatan geologi.
Selain itu, apabila sampel yang diambil berada pada laut yang kedalamannya lebih dari 500 meter, BBSPGL menggunakan kapal riset canggih, yakni kapal Geomarine III, yang memiliki multipurpose vessel, dengan fungsinya untuk pemetaan hidrografi, oseanografi, geologi, maupun geofisika.
&quot;Sepanjang tahun 2023 ini, BBPSGL melakukan survei menggunakan kapal  geomarine dan perahu kecil, tercatat bahwa kita telah memperoleh  lintasan survei sepanjang 4.790 KM, atau hampir 5 kali bolak-balik  Jakarta-Banyuwangi, ini yang terpanjang selama 5 tahun terakhir,&quot;  tuturnya.
Dari hasil survei dan pemetaan serta pengolahan data yang dilakukan  BBSPGL, Hadi mengungkapkan bahwa terdapat potensi sebesar 4,6 miliar m3  mineral berat pembawa logam tanah jarang, emas plaser sebanyak 268,4  juta m3, pasir timah 386,4 juta m3, pasir silika sebanyak 22,8 miliar  m3, serta 30 miliar m3 pasir besi.
Namun hadi menegaskan bahwa potensi tersebut tidak dapat diartikan  potensi di seluruh wilayah Indonesia, karena seperti dikatakan  sebelumnya bahwa survei yang dilakukan baru mencakup 10% saja dan belum  ditambahkan dengan survei dari stakeholder.
&quot;Ini semua sebetulnya hasil murni dari Badan Geologi dan belum  ditambahkan dengan hasil penelitian para mitra ataupun stakeholder yang  terkait. Jadi artinya begitu besarnya potensi untuk mineral kelautan di  Indonesia,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
