<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Penerimaan Negara Naik tapi Belanja Pemerintah Belum Optimal</title><description>Kementerian Keuangan melaporkan penerimaan pajak hingga 12 Desember 2023 lalu tembus Rp1.739,84 triliun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/12/20/320/2942043/penerimaan-negara-naik-tapi-belanja-pemerintah-belum-optimal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/12/20/320/2942043/penerimaan-negara-naik-tapi-belanja-pemerintah-belum-optimal"/><item><title>Penerimaan Negara Naik tapi Belanja Pemerintah Belum Optimal</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/12/20/320/2942043/penerimaan-negara-naik-tapi-belanja-pemerintah-belum-optimal</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/12/20/320/2942043/penerimaan-negara-naik-tapi-belanja-pemerintah-belum-optimal</guid><pubDate>Rabu 20 Desember 2023 13:02 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/12/20/320/2942043/penerimaan-negara-naik-tapi-belanja-pemerintah-belum-optimal-puBEfMLKZl.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Penerimaan negara naik tapi belanja pemerintah belum optimal (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/12/20/320/2942043/penerimaan-negara-naik-tapi-belanja-pemerintah-belum-optimal-puBEfMLKZl.jpeg</image><title>Penerimaan negara naik tapi belanja pemerintah belum optimal (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8wNi80LzE3MTc0NS81L3g4b2w0YnU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Kementerian Keuangan melaporkan penerimaan pajak hingga 12 Desember 2023 lalu tembus Rp1.739,84 triliun atau sudah melampaui target APBN 2023 sebesar Rp1.718,03 triliun.
Angka penerimaan pajak ini terdiri dari PPh non migas sebesar Rp951,83 triliun, atau 108,95% dari target. Angka ini tumbuh 6,72% dibandingkan tahun 2022.

BACA JUGA:
Penerimaan Pajak Rp1.739 Triliun, 101% dari Target APBN 2023


Meski demikian, Direktur Eksekutif Center Of Startegic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri menilai belanja pemerintah kurang optimal meski pendapatan negara pada tahun ini mengalami peningkatan 6,72% dibandingkan dengan tahun 2022.
Yose menjelaskan, hal tersebut dapat terlihat dari defisit yang diumumkan pada 12 Desember lalu hanya sebesar Rp35 triliun. Sehingga menurutnya Pemerintah masih menahan untuk membelanjakan APBN untuk mendorong perekonomian nasional.

BACA JUGA:
Jokowi Minta Serapan APBN sampai Akhir Tahun 95% 


&quot;Defisit hanya kecil sekali, artinya ini hanya kurang dari 0,2% dari PDB, padahal target itu di bawah 2,3%, jadi banyak sekali permasalahan yang perlu dilihat,&quot; ujar Yose dalam Market Review IDXChannel, Rabu (20/12/2023).
Menurutnya kenaikan nilai pajak yang membuat pendapatan negara tumbuh pada tahun ini belum diimbangi oleh kemampuan pemerintah dalam membelanjakan ke sektor-sektor produktif. &quot;Uang yang ditarik terlalu ketat, sementara tidak ada kemampuan belanja yang sesuai, hal tersebut yang menyebabkan ekonomi sendiri terkontraksi,&quot; sambungnya.
Yose menilai saat ini daya beli masyarakat terutama golongan bawah  masih cukup rendah. Pemerintah masih perlu melakukan pengeluaran lebih  besar untuk meningkatkan daya beli masyarakat.
&quot;Kita juga tidak mau uang yang dikeluarkan pemerintah itu tidak ada  manfaatnya kepada perekonomian, misal kita bisa lihat kebanyakan belanja  pemerintah lebih banyak pengeluaran biaya personal atau rutin, gaji  pegawai, dan lain-lain,&quot; kata Yose.
&quot;Sedangkan tidak besar proporsi untuk pembangunan, misal pembangunan  infrastruktur atau pembangunan modal, padahal kita membutuhkan itu,&quot;  sambungnya.
Yose menjelaskan, Belanja Pemerintah Pusat (BPP) hingga 12 Desember  2023 telah terealisasi Rp1.840,4 triliun atau setara 81,9% dari pagu.  Angka tersebut juga jauh lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pada  tahun sebelumnya.
&quot;Kalau kita liat misalnya pada tahun lalu, pada bulan Oktober sudah  mencapai 87%, sementara sekarang ini bulan Desember, tinggal beberapa  hari lagi, itu masih hanya 81%,&quot; tutupnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMC8wNi80LzE3MTc0NS81L3g4b2w0YnU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Kementerian Keuangan melaporkan penerimaan pajak hingga 12 Desember 2023 lalu tembus Rp1.739,84 triliun atau sudah melampaui target APBN 2023 sebesar Rp1.718,03 triliun.
Angka penerimaan pajak ini terdiri dari PPh non migas sebesar Rp951,83 triliun, atau 108,95% dari target. Angka ini tumbuh 6,72% dibandingkan tahun 2022.

BACA JUGA:
Penerimaan Pajak Rp1.739 Triliun, 101% dari Target APBN 2023


Meski demikian, Direktur Eksekutif Center Of Startegic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri menilai belanja pemerintah kurang optimal meski pendapatan negara pada tahun ini mengalami peningkatan 6,72% dibandingkan dengan tahun 2022.
Yose menjelaskan, hal tersebut dapat terlihat dari defisit yang diumumkan pada 12 Desember lalu hanya sebesar Rp35 triliun. Sehingga menurutnya Pemerintah masih menahan untuk membelanjakan APBN untuk mendorong perekonomian nasional.

BACA JUGA:
Jokowi Minta Serapan APBN sampai Akhir Tahun 95% 


&quot;Defisit hanya kecil sekali, artinya ini hanya kurang dari 0,2% dari PDB, padahal target itu di bawah 2,3%, jadi banyak sekali permasalahan yang perlu dilihat,&quot; ujar Yose dalam Market Review IDXChannel, Rabu (20/12/2023).
Menurutnya kenaikan nilai pajak yang membuat pendapatan negara tumbuh pada tahun ini belum diimbangi oleh kemampuan pemerintah dalam membelanjakan ke sektor-sektor produktif. &quot;Uang yang ditarik terlalu ketat, sementara tidak ada kemampuan belanja yang sesuai, hal tersebut yang menyebabkan ekonomi sendiri terkontraksi,&quot; sambungnya.
Yose menilai saat ini daya beli masyarakat terutama golongan bawah  masih cukup rendah. Pemerintah masih perlu melakukan pengeluaran lebih  besar untuk meningkatkan daya beli masyarakat.
&quot;Kita juga tidak mau uang yang dikeluarkan pemerintah itu tidak ada  manfaatnya kepada perekonomian, misal kita bisa lihat kebanyakan belanja  pemerintah lebih banyak pengeluaran biaya personal atau rutin, gaji  pegawai, dan lain-lain,&quot; kata Yose.
&quot;Sedangkan tidak besar proporsi untuk pembangunan, misal pembangunan  infrastruktur atau pembangunan modal, padahal kita membutuhkan itu,&quot;  sambungnya.
Yose menjelaskan, Belanja Pemerintah Pusat (BPP) hingga 12 Desember  2023 telah terealisasi Rp1.840,4 triliun atau setara 81,9% dari pagu.  Angka tersebut juga jauh lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pada  tahun sebelumnya.
&quot;Kalau kita liat misalnya pada tahun lalu, pada bulan Oktober sudah  mencapai 87%, sementara sekarang ini bulan Desember, tinggal beberapa  hari lagi, itu masih hanya 81%,&quot; tutupnya.</content:encoded></item></channel></rss>
