<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ini Solusi Atasi Fenomena Generasi Sandwich RI</title><description>Fenomena generasi sandwich masih menjadi topik hangat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2023/12/21/622/2942866/ini-solusi-atasi-fenomena-generasi-sandwich-ri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2023/12/21/622/2942866/ini-solusi-atasi-fenomena-generasi-sandwich-ri"/><item><title>Ini Solusi Atasi Fenomena Generasi Sandwich RI</title><link>https://economy.okezone.com/read/2023/12/21/622/2942866/ini-solusi-atasi-fenomena-generasi-sandwich-ri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2023/12/21/622/2942866/ini-solusi-atasi-fenomena-generasi-sandwich-ri</guid><pubDate>Kamis 21 Desember 2023 16:29 WIB</pubDate><dc:creator>Pika Piqhaniah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2023/12/21/622/2942866/ini-solusi-atasi-fenomena-generasi-sandwich-ri-oQ4bHa65Ju.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Solusi bagi generasi sandwich (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2023/12/21/622/2942866/ini-solusi-atasi-fenomena-generasi-sandwich-ri-oQ4bHa65Ju.jpeg</image><title>Solusi bagi generasi sandwich (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNi8yMS8xLzE2NzQwOC81L3g4bHhwMWs=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Fenomena generasi sandwich masih menjadi topik hangat. Saat ini banyak sekali generasi muda yang merasa generasi sandwich adalah suatu permasalahan yang harus diselesaikan.
Perencana Keuangan Andy Nugroho menyampaikan solusi terkait fenomena ini. Dia menyebutkan bahwa solusi dari fenomena tersebut harus dikembalikan kepada pribadi generasi mudanya masing-masing.

BACA JUGA:
Alasan Generasi Sandwich di Indonesia Lebih Tinggi dari Singapura


&amp;ldquo;Solusinya, kembali ke diri kita masing-masing. Misalnya seseorang yang sudah berkeluarga termasuk sandwich generation jadi harus mensupport juga orang tuanya kemudian membiayai keluarganya itu dan kita merasa eh kok rasanya kok enggak adil,&amp;rdquo; kata Andy, Kamis (21/12/2023).

BACA JUGA:
Generasi Sandwich Rawan Krisis Keuangan saat Pensiun? Perhatikan Hal Ini


Kemudian, Andy juga menyebutkan, orang yang menyandang label sebagai generasi sandwich harus memiliki tekad untuk berubah. Hal itu karena tak sedikit dari mereka yang merasa hal tersebut tidak adil.
&amp;ldquo;Ya, sudah. Dari kita yang merasa memang ini keadaan yang kurang baik, kita ubah,&amp;rdquo; ujar Andy.Menurut Andy cara yang bisa dilakukan untuk menghentikan generasi  sandwich saat ini adalah dengan menyiapkan dana tabungan untuk masa  pensiun. Sehingga setelah pensiun, orang tua tidak menggantungkan  hidupnya secara finansial kepada anak-anak mereka.
Selain itu, menurutnya, cara itu akan lebih efektif daripada harus  mengubah mindset orang tua saat ini. Jika generasi sandwich saat ini  belum bisa dihentikan, mungkin bisa dimulai dari sekarang. Sehingga di  masa yang akan datang, tidak ada lagi orang-orang yang merasa terbebani  karena harus menghidupi keluarganya secara terus-menerus.
&amp;ldquo;Karena kan untuk mengubah orang tua kita bisa dibilang PR banget,  gitu, ya. Effortnya yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kita harus  mengubah orang tua kita di edukasi orang tua kita, telat juga. Ya  sudah, kita mengubah diri kita,&amp;rdquo; tambahnya.
</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8wNi8yMS8xLzE2NzQwOC81L3g4bHhwMWs=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Fenomena generasi sandwich masih menjadi topik hangat. Saat ini banyak sekali generasi muda yang merasa generasi sandwich adalah suatu permasalahan yang harus diselesaikan.
Perencana Keuangan Andy Nugroho menyampaikan solusi terkait fenomena ini. Dia menyebutkan bahwa solusi dari fenomena tersebut harus dikembalikan kepada pribadi generasi mudanya masing-masing.

BACA JUGA:
Alasan Generasi Sandwich di Indonesia Lebih Tinggi dari Singapura


&amp;ldquo;Solusinya, kembali ke diri kita masing-masing. Misalnya seseorang yang sudah berkeluarga termasuk sandwich generation jadi harus mensupport juga orang tuanya kemudian membiayai keluarganya itu dan kita merasa eh kok rasanya kok enggak adil,&amp;rdquo; kata Andy, Kamis (21/12/2023).

BACA JUGA:
Generasi Sandwich Rawan Krisis Keuangan saat Pensiun? Perhatikan Hal Ini


Kemudian, Andy juga menyebutkan, orang yang menyandang label sebagai generasi sandwich harus memiliki tekad untuk berubah. Hal itu karena tak sedikit dari mereka yang merasa hal tersebut tidak adil.
&amp;ldquo;Ya, sudah. Dari kita yang merasa memang ini keadaan yang kurang baik, kita ubah,&amp;rdquo; ujar Andy.Menurut Andy cara yang bisa dilakukan untuk menghentikan generasi  sandwich saat ini adalah dengan menyiapkan dana tabungan untuk masa  pensiun. Sehingga setelah pensiun, orang tua tidak menggantungkan  hidupnya secara finansial kepada anak-anak mereka.
Selain itu, menurutnya, cara itu akan lebih efektif daripada harus  mengubah mindset orang tua saat ini. Jika generasi sandwich saat ini  belum bisa dihentikan, mungkin bisa dimulai dari sekarang. Sehingga di  masa yang akan datang, tidak ada lagi orang-orang yang merasa terbebani  karena harus menghidupi keluarganya secara terus-menerus.
&amp;ldquo;Karena kan untuk mengubah orang tua kita bisa dibilang PR banget,  gitu, ya. Effortnya yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kita harus  mengubah orang tua kita di edukasi orang tua kita, telat juga. Ya  sudah, kita mengubah diri kita,&amp;rdquo; tambahnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
