<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Program Teknologi Nilai Tambah Ganjar-Mahfud Pacu Pemerataan Pembangunan dan Kesejahteraan</title><description>Program Teknologi Nilai Tambah menjadi upaya Ganjar-Mahfud menyejahterakan masyarakat Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/01/02/320/2948286/program-teknologi-nilai-tambah-ganjar-mahfud-pacu-pemerataan-pembangunan-dan-kesejahteraan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/01/02/320/2948286/program-teknologi-nilai-tambah-ganjar-mahfud-pacu-pemerataan-pembangunan-dan-kesejahteraan"/><item><title>Program Teknologi Nilai Tambah Ganjar-Mahfud Pacu Pemerataan Pembangunan dan Kesejahteraan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/01/02/320/2948286/program-teknologi-nilai-tambah-ganjar-mahfud-pacu-pemerataan-pembangunan-dan-kesejahteraan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/01/02/320/2948286/program-teknologi-nilai-tambah-ganjar-mahfud-pacu-pemerataan-pembangunan-dan-kesejahteraan</guid><pubDate>Selasa 02 Januari 2024 11:47 WIB</pubDate><dc:creator> Royandi Hutasoit</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/01/02/320/2948286/program-teknologi-nilai-tambah-ganjar-mahfud-pacu-pemerataan-pembangunan-dan-kesejahteraan-vk5NWtUitf.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Program Ganjar-Mahfud sejahterakan masyarakat Indonesia (Foto: MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/01/02/320/2948286/program-teknologi-nilai-tambah-ganjar-mahfud-pacu-pemerataan-pembangunan-dan-kesejahteraan-vk5NWtUitf.jpg</image><title>Program Ganjar-Mahfud sejahterakan masyarakat Indonesia (Foto: MPI)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMS8wMS8xLzE3NTY5Ny81L3g4cjJiZmk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Program Teknologi Nilai Tambah menjadi upaya Ganjar-Mahfud menyejahterakan masyarakat Indonesia. Jika sebelumnya struktur kepemilikan usaha industri dipegang oleh perusahaan-perusahaan besar, maka program Teknologi Nilai Tambah akan mendistribusikan pertumbuhan nilai kesejahteraan dengan menjadikan masyarakat sebagai pemiliknya.
&quot;Bentuknya bisa koperasi atau usaha kelompok tani. Program ini akan menjadikan perubahan transformasi struktur masyarakat agraris menjadi masyarakat agroindustris,&quot; ujar Direktur Eksekutif Teknologi Nilai Tambah TPN Ganjar-Mahfud Gembong Primadjaja pada keterangannya di Jakarta, Selasa (2/1/2024).

BACA JUGA:
Ganjar Tanya Anak Muda: Mau Makan Siang Gratis atau Internet Gratis?


Production by the mass di desa-desa tentu akan menjadikan Indonesia maju dan merata. Tidak seperti sekarang di mana sawit dominan diolah jadi CPO yang harganya fragile turun naik di market internasional, begitu pula dengan karet.
Gembong kemudian memaparkan, proses teknologi nilai tambah secara sederhana bisa digambarkan sebagai berikut, Agroindustri (koperasi/kelompok tani) di desa akan bekerja sama dengan perusahaan besar.

BACA JUGA:
Ganjar Akan Luncurkan Program Pemutihan Utang Petani di Demak


Mereka dipercaya untuk memproduksi produk setengah jadi atau jadi di mana produknya bisa dimanfaatkan di desanya sendiri dan sebagiannya dijual ke perusahaan besar untuk pasar regional atau internasional.
Jadi, tidak ada lagi komoditi sawit dan karet di Pulau Kalimantan dan Sumatera yang dominan dimiliki oleh perusahaan besar. Dua komoditi tersebut harus diolah hingga produk akhir.
&quot;Sawit tidak lagi diolah menjadi CPO yang harganya fragile turun naik di market internasional, tetapi langsung diolah menjadi minyak goreng, margarin, biodiesel, biogasoline, atau oleochemical,&quot; urainya.
Begitu pula dengan komoditi karet di mana saat ini pabrik salah satu alat kontrasepsi kondom yang produknya tersebar masif di Indonesia ternyata masih dikuasai oleh Malaysia sebagai pemilik industri besarnya.
Sudah saatnya karet diolah untuk dijadikan ban, sarung tangan karet,  spare parts mesin dan otomotif, termasuk kondom. Ketimpangan struktur  ekonomi pun terjadi antar pulau.
Dilihat dari data statistik secara spasial, pertumbuhan ekonomi  Maluku-Papua sebenarnya paling tinggi di angka 10,09%, disusul Sulawesi  dengan pertumbuhan ekonomi 5.67%, lalu Jawa 3.66%, Sumatera dan  Kalimantan 3.18%, sementara Bali dan Nusa Tenggara (ekonominya banyak  bergantung di sektor pariwisata dimana saat itu masih terdampak wabah  Covid 19) hanya 0.07% pada tahun 2021.
Menurut Gembong, Indonesia adalah importir nomor 1 tepung ikan di  dunia, padahal Indonesia juga dikenal sebagai eksportir ikan tuna,  cakalang, dan tongkol nomor 1 di dunia.
&quot;Sangat ironis melihat realitas seperti itu. Oleh karena itu sudah  seharusnya Pulau Jawa yang telah memberikan kontribusi sebesar 57,8% ke  struktur perekonomian Indonesia, industri kecil dan menengahnya  diberikan teknologi nilai tambah,&quot; imbuh dia.
Untuk itu, mereka harus diberi kepercayaan untuk menghasilkan tepung  ikan dan minyak ikan sebagai produk akhirnya. Tepung ikan diproduksi  dengan mengolah ikan-ikan non value atau out of grade, sehingga dalam  proses produksinya akan menghasilkan dua produk, yaitu tepung ikan dan  minyak ikan. Ini semua adalah hilirisasi industri berbasis Teknologi  Nilai Tambah dalam skala kecil menengah.
Inilah program gratis Ganjar-Mahfud di bidang teknologi nilai tambah  untuk masyarakat. Manfaatnya akan segera dirasakan langsung oleh  masyarakat luas. &quot;Inilah pembeda hilirisasi era Jokowi yang mengimpor  teknologi dari luar dan dalam skala industri besar. Hilirisasi yang  dicanangkan Ganjar-Mahfud tidak hanya di sektor kelapa sawit, karet, dan  perikanan yang telah disebutkan di atas, tetapi juga termasuk padi, dan  lain-lain,&quot; pungkas Gembong.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMS8wMS8xLzE3NTY5Ny81L3g4cjJiZmk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Program Teknologi Nilai Tambah menjadi upaya Ganjar-Mahfud menyejahterakan masyarakat Indonesia. Jika sebelumnya struktur kepemilikan usaha industri dipegang oleh perusahaan-perusahaan besar, maka program Teknologi Nilai Tambah akan mendistribusikan pertumbuhan nilai kesejahteraan dengan menjadikan masyarakat sebagai pemiliknya.
&quot;Bentuknya bisa koperasi atau usaha kelompok tani. Program ini akan menjadikan perubahan transformasi struktur masyarakat agraris menjadi masyarakat agroindustris,&quot; ujar Direktur Eksekutif Teknologi Nilai Tambah TPN Ganjar-Mahfud Gembong Primadjaja pada keterangannya di Jakarta, Selasa (2/1/2024).

BACA JUGA:
Ganjar Tanya Anak Muda: Mau Makan Siang Gratis atau Internet Gratis?


Production by the mass di desa-desa tentu akan menjadikan Indonesia maju dan merata. Tidak seperti sekarang di mana sawit dominan diolah jadi CPO yang harganya fragile turun naik di market internasional, begitu pula dengan karet.
Gembong kemudian memaparkan, proses teknologi nilai tambah secara sederhana bisa digambarkan sebagai berikut, Agroindustri (koperasi/kelompok tani) di desa akan bekerja sama dengan perusahaan besar.

BACA JUGA:
Ganjar Akan Luncurkan Program Pemutihan Utang Petani di Demak


Mereka dipercaya untuk memproduksi produk setengah jadi atau jadi di mana produknya bisa dimanfaatkan di desanya sendiri dan sebagiannya dijual ke perusahaan besar untuk pasar regional atau internasional.
Jadi, tidak ada lagi komoditi sawit dan karet di Pulau Kalimantan dan Sumatera yang dominan dimiliki oleh perusahaan besar. Dua komoditi tersebut harus diolah hingga produk akhir.
&quot;Sawit tidak lagi diolah menjadi CPO yang harganya fragile turun naik di market internasional, tetapi langsung diolah menjadi minyak goreng, margarin, biodiesel, biogasoline, atau oleochemical,&quot; urainya.
Begitu pula dengan komoditi karet di mana saat ini pabrik salah satu alat kontrasepsi kondom yang produknya tersebar masif di Indonesia ternyata masih dikuasai oleh Malaysia sebagai pemilik industri besarnya.
Sudah saatnya karet diolah untuk dijadikan ban, sarung tangan karet,  spare parts mesin dan otomotif, termasuk kondom. Ketimpangan struktur  ekonomi pun terjadi antar pulau.
Dilihat dari data statistik secara spasial, pertumbuhan ekonomi  Maluku-Papua sebenarnya paling tinggi di angka 10,09%, disusul Sulawesi  dengan pertumbuhan ekonomi 5.67%, lalu Jawa 3.66%, Sumatera dan  Kalimantan 3.18%, sementara Bali dan Nusa Tenggara (ekonominya banyak  bergantung di sektor pariwisata dimana saat itu masih terdampak wabah  Covid 19) hanya 0.07% pada tahun 2021.
Menurut Gembong, Indonesia adalah importir nomor 1 tepung ikan di  dunia, padahal Indonesia juga dikenal sebagai eksportir ikan tuna,  cakalang, dan tongkol nomor 1 di dunia.
&quot;Sangat ironis melihat realitas seperti itu. Oleh karena itu sudah  seharusnya Pulau Jawa yang telah memberikan kontribusi sebesar 57,8% ke  struktur perekonomian Indonesia, industri kecil dan menengahnya  diberikan teknologi nilai tambah,&quot; imbuh dia.
Untuk itu, mereka harus diberi kepercayaan untuk menghasilkan tepung  ikan dan minyak ikan sebagai produk akhirnya. Tepung ikan diproduksi  dengan mengolah ikan-ikan non value atau out of grade, sehingga dalam  proses produksinya akan menghasilkan dua produk, yaitu tepung ikan dan  minyak ikan. Ini semua adalah hilirisasi industri berbasis Teknologi  Nilai Tambah dalam skala kecil menengah.
Inilah program gratis Ganjar-Mahfud di bidang teknologi nilai tambah  untuk masyarakat. Manfaatnya akan segera dirasakan langsung oleh  masyarakat luas. &quot;Inilah pembeda hilirisasi era Jokowi yang mengimpor  teknologi dari luar dan dalam skala industri besar. Hilirisasi yang  dicanangkan Ganjar-Mahfud tidak hanya di sektor kelapa sawit, karet, dan  perikanan yang telah disebutkan di atas, tetapi juga termasuk padi, dan  lain-lain,&quot; pungkas Gembong.</content:encoded></item></channel></rss>
