<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Atikoh Dicurhati Pedagang saat Blusukan ke Pasar, Butuh Stabilisasi Harga</title><description>Istri Capres nomor urut 3 Siti Atikoh Supriyanti blusukan ke pasar di berbagai daerah.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/01/03/320/2948983/atikoh-dicurhati-pedagang-saat-blusukan-ke-pasar-butuh-stabilisasi-harga</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/01/03/320/2948983/atikoh-dicurhati-pedagang-saat-blusukan-ke-pasar-butuh-stabilisasi-harga"/><item><title>Atikoh Dicurhati Pedagang saat Blusukan ke Pasar, Butuh Stabilisasi Harga</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/01/03/320/2948983/atikoh-dicurhati-pedagang-saat-blusukan-ke-pasar-butuh-stabilisasi-harga</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/01/03/320/2948983/atikoh-dicurhati-pedagang-saat-blusukan-ke-pasar-butuh-stabilisasi-harga</guid><pubDate>Rabu 03 Januari 2024 15:53 WIB</pubDate><dc:creator>Suparjo Ramalan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/01/03/320/2948983/atikoh-dicurhati-pedagang-saat-blusukan-ke-pasar-butuh-stabilisasi-harga-Se3OkKRVHh.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Siti Atikoh blusukan ke pasar (Foto: MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/01/03/320/2948983/atikoh-dicurhati-pedagang-saat-blusukan-ke-pasar-butuh-stabilisasi-harga-Se3OkKRVHh.jpg</image><title>Siti Atikoh blusukan ke pasar (Foto: MPI)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMS8wMS8xLzE3NTY4NS81L3g4cjIxeTQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Istri Capres nomor urut 3 Siti Atikoh Supriyanti blusukan ke pasar di berbagai daerah. Menurutnya, masyarakat dan pedagang sama-sama membutuhkan stabilisasi harga bahan kebutuhan pokok.
Pernyataan itu disampaikan perempuan yang akrab disapa Atikoh, setelah blusukan  ke pasar tradisional di berbagai daerah, serra berdialog dengan masyarakat dan pedagang.

BACA JUGA:
Atikoh Ganjar Miliki Daya Tarik di Kampanye Pilpres 2024


Atikoh menilai, masyarakat dan pedagang sama-sama mengeluhkan harga bahan pokok, seperti gula, beras, dan cabai  yang melonjak dalam beberapa bulan terakhir.
&amp;ldquo;Hal yang adil bagi penjual dan pembeli adalah harga yang stabil. Penjual tidak pusing menentukan harga jual. Pembeli juga bisa tenang menghitung kemampuan belanjanya,&quot; kata Atikoh, seperti dikutip dari akun Instagram pribadinya, Rabu (3/1/2024).

BACA JUGA:
 Ketika Atikoh Ganjar Menangis Jenguk Relawan Korban Penganiayaan Oknum TNI 


Keluhan serupa juga disampaikan pedagang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Tegal, Jawa Tengah saat berdialog dengan Atikoh.
Salah seorang  pedagang cemilan tradisional 'Rambut Nenek' mengeluhkan harga gula yang melambung dari Rp12.000 per kilogram (kg) menjadi Rp18.000 per kg.
&quot;Terkait dengan harga gula, yang ini saya  ditangisi seluruh ibu-ibu rumah tangga. Tapi bukan hanya harga gula saja kan ibu-ibu ya?&quot; papar Atikoh.
Dia menuturkan, sebenarnya masyarakat dan pedagang sama-sama tidak  menuntut harga bahan pokok yang murah, melainkan yang terjangkau dan  stabil.  Diakui harga bahan pangan kalau murah,  maka akan merugikan  para petani, juga pedagang karena margin keuntungan tipis.
Begitu pula jika harga pangan terlalu mahal, daya beli masyarakat  berkurang, dan pedagang pun tak bisa mengambil keuntungan.
&quot;Jadi masyarakat dan pedagang itu yang dibutuhkan bukan harga murah  tapi affordable, maksudnya yang terjangkau dan stabil. Sebab kalau harga  pangan dari produk pertanian murah, yang nangis nanti petaninya,&quot;  ucapnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMS8wMS8xLzE3NTY4NS81L3g4cjIxeTQ=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Istri Capres nomor urut 3 Siti Atikoh Supriyanti blusukan ke pasar di berbagai daerah. Menurutnya, masyarakat dan pedagang sama-sama membutuhkan stabilisasi harga bahan kebutuhan pokok.
Pernyataan itu disampaikan perempuan yang akrab disapa Atikoh, setelah blusukan  ke pasar tradisional di berbagai daerah, serra berdialog dengan masyarakat dan pedagang.

BACA JUGA:
Atikoh Ganjar Miliki Daya Tarik di Kampanye Pilpres 2024


Atikoh menilai, masyarakat dan pedagang sama-sama mengeluhkan harga bahan pokok, seperti gula, beras, dan cabai  yang melonjak dalam beberapa bulan terakhir.
&amp;ldquo;Hal yang adil bagi penjual dan pembeli adalah harga yang stabil. Penjual tidak pusing menentukan harga jual. Pembeli juga bisa tenang menghitung kemampuan belanjanya,&quot; kata Atikoh, seperti dikutip dari akun Instagram pribadinya, Rabu (3/1/2024).

BACA JUGA:
 Ketika Atikoh Ganjar Menangis Jenguk Relawan Korban Penganiayaan Oknum TNI 


Keluhan serupa juga disampaikan pedagang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Tegal, Jawa Tengah saat berdialog dengan Atikoh.
Salah seorang  pedagang cemilan tradisional 'Rambut Nenek' mengeluhkan harga gula yang melambung dari Rp12.000 per kilogram (kg) menjadi Rp18.000 per kg.
&quot;Terkait dengan harga gula, yang ini saya  ditangisi seluruh ibu-ibu rumah tangga. Tapi bukan hanya harga gula saja kan ibu-ibu ya?&quot; papar Atikoh.
Dia menuturkan, sebenarnya masyarakat dan pedagang sama-sama tidak  menuntut harga bahan pokok yang murah, melainkan yang terjangkau dan  stabil.  Diakui harga bahan pangan kalau murah,  maka akan merugikan  para petani, juga pedagang karena margin keuntungan tipis.
Begitu pula jika harga pangan terlalu mahal, daya beli masyarakat  berkurang, dan pedagang pun tak bisa mengambil keuntungan.
&quot;Jadi masyarakat dan pedagang itu yang dibutuhkan bukan harga murah  tapi affordable, maksudnya yang terjangkau dan stabil. Sebab kalau harga  pangan dari produk pertanian murah, yang nangis nanti petaninya,&quot;  ucapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
