<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi Indonesia Tetap Kokoh meski Banyak Tantangan, Ini Buktinya</title><description>Ekonomi Indonesia tetap kokoh meskipun banyak tantangan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/01/03/320/2949096/ekonomi-indonesia-tetap-kokoh-meski-banyak-tantangan-ini-buktinya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/01/03/320/2949096/ekonomi-indonesia-tetap-kokoh-meski-banyak-tantangan-ini-buktinya"/><item><title>Ekonomi Indonesia Tetap Kokoh meski Banyak Tantangan, Ini Buktinya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/01/03/320/2949096/ekonomi-indonesia-tetap-kokoh-meski-banyak-tantangan-ini-buktinya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/01/03/320/2949096/ekonomi-indonesia-tetap-kokoh-meski-banyak-tantangan-ini-buktinya</guid><pubDate>Rabu 03 Januari 2024 18:46 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/01/03/320/2949096/ekonomi-indonesia-tetap-kokoh-meski-banyak-tantangan-ini-buktinya-6pAT0S8faH.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Ekonomi RI tetap kokoh di tengah tantangan (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/01/03/320/2949096/ekonomi-indonesia-tetap-kokoh-meski-banyak-tantangan-ini-buktinya-6pAT0S8faH.jpeg</image><title>Ekonomi RI tetap kokoh di tengah tantangan (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMi8yMy8xLzE3NTQ0NS81L3g4cXR0YmM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Ekonomi Indonesia tetap kokoh meskipun banyak tantangan. Pertumbuhan ekonomi sampai dengan kuartal ketiga 2023 tercatat 5,05% (ytd), terutama ditopang oleh permintaan domestik yang masih kuat dan inflasi yang terkendali serta didukung kebijakan fiskal Pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan, di tengah tantangan global yang masih tinggi, kita bersyukur bahwa Indonesia berhasil menavigasi perekonomian dengan cukup baik. Tidak banyak negara-negara di dunia yang mampu tumbuh di atas 5%, dan Indonesia menjadi salah satu negara yang mampu tumbuh kuat.

BACA JUGA:
Ekonomi RI Diproyeksi Capai 5,1% di 2024


&quot;Hingga akhir tahun 2023, Pemerintah optimis perekonomian Indonesia akan berada di atas 5%. Tentunya ini menjadi capaian yang perlu diapresiasi dan dipertahankan, namun tidak mengurangi kewaspadaan kita untuk tahun 2024 yang masih akan penuh tantangan,&amp;rdquo; ujar Febrio dalam keterangan resminya, Rabu (3/1/2024).
Aktivitas investasi juga dalam tren menguat, didukung oleh progres penyelesaian proyek-proyek strategis nasional (PSN). Dari sisi produksi, sektor-sektor utama tumbuh positif, terutama manufaktur yang tumbuh 5,2% pada triwulan III, didukung kuatnya permintaan domestik.
Masih kuatnya permintaan domestik juga mendorong kinerja sektor-sektor pendukung pariwisata, seperti transportasi dan akomodasi makan minum yang tumbuh double digit.

BACA JUGA:
21 Program Sat Set Ganjar-Mahfud, Ekonomi RI Tumbuh 7% hingga Buka 17 Juta Lapangan Pekerjaan


Kombinasi pengetatan kebijakan moneter di banyak negara, meningkatnya tensi geopolitik serta fenomena El Nino berdampak negatif pada kinerja ekonomi global. Pertumbuhan global tahun 2023 diperkirakan melambat signifikan ke 3,0% dari sebelumnya 3,5% tahun 2022 (WEO IMF, Oktober 2023).
Perekonomian AS memang masih cukup resilien, namun dihadapkan pada tekanan fiskal yang terus meningkat. Perekonomian Eropa tumbuh sangat lemah, terutama Jerman yang sudah mengalami kontraksi dalam beberapa kuartal terakhir.
Sementara itu, Tiongkok menghadapi tren perlambatan dengan persoalan di sektor properti, utang Pemerintah daerah, serta persoalan struktural terkait ageing dan tingginya pengangguran kelompok muda. Dampak perang dagang dengan AS juga menjadi downside risk yang harus terus dihadapi Tiongkok ke depan.
Selain itu, indikator PMI manufaktur juga mengonfirmasi tren  pelemahan ekonomi global. Sebagian besar negara mengalami kontraksi,  termasuk di antaranya AS (48,2), kawasan Eropa (44,2), dan Jepang  (47,7). Hanya sedikit negara yang berada di zona ekspansi, termasuk di  antaranya Indonesia (52,2), Filipina (51,5) dan Tiongkok (50,8).
PMI manufaktur Indonesia pada Desember 2023 bahkan meningkat dari  posisi semula 51,7 pada bulan November, mencerminkan resiliensi pada  aktivitas manufaktur yang ditopang oleh permintaan domestik yang masih  kuat.
Laju inflasi terkendali pada rentang target Pemerintah. Inflasi tahun  2023 tercatat sebesar 2,61% (yoy), turun signifikan dibanding tahun  2022 sebesar 5,51% (yoy). Angka tersebut merupakan inflasi terendah  dalam 20 tahun terakhir, di luar periode pandemi tahun 2020 dan 2021.
Koordinasi yang kuat Tim Pengendalian Inflasi, baik di level pusat  maupun daerah, serta efektivitas peran APBN sebagai instrumen shock  absorber menjadi faktor kunci terkendalinya inflasi, khususnya inflasi  pangan yang terdampak oleh fenomena El Nino di tahun 2023. Di tahun  2024, Pemerintah akan terus menjaga inflasi terutama dalam menghadapi  gejolak harga pangan.
Ketahanan eksternal Indonesia masih tetap kuat di tengah pelemahan  ekonomi global, terlihat dari neraca perdagangan Indonesia yang  konsisten mencatatkan surplus selama 43 bulan berturut turut. Secara  kumulatif Januari-November 2023, neraca perdagangan Indonesia tercatat  surplus USD33,63 miliar. Surplus neraca perdagangan juga menopang  kinerja neraca transaksi berjalan (current account).
Secara kumulatif sampai dengan kuartal ketiga, kinerja neraca  transaksi berjalan mencatatkan defisit yang sangat rendah, sebesar  USD0,11 miliar atau -0,01% PDB, di bawah ambang batas aman -3,0% PDB.  Secara keseluruhan, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) di tahun  2023 juga cukup baik.
Sampai dengan kuartal ketiga 2023, tercatat defisit NPI sebesar  USD2,32 miliar, dan diperkirakan terus membaik sejalan dengan mulai  meningkatnya capital inflow pada Kuartal IV 2023.
Di 2024, Pemerintah optimis kinerja ini akan terus berlanjut seiring  dengan proyeksi ekonomi nasional yang terus menguat dan defisit  transaksi berjalan yang tetap terjaga.
Menguatnya aktivitas ekonomi nasional juga berdampak positif pada  kesejahteraan masyarakat. Tingkat pengangguran mengalami penurunan  signifikan menjadi 5,32% pada Agustus 2023 dari sebelumnya 5,86% pada  Agustus tahun lalu.
Penciptaan lapangan kerja yang lebih baik, relatif terkendalinya  inflasi serta kebijakan penebalan bansos yang dikeluarkan oleh  Pemerintah mampu menurunkan tingkat kemiskinan dari 9,54% di tahun 2022  menjadi 9,36% di 2023.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMi8yMy8xLzE3NTQ0NS81L3g4cXR0YmM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Ekonomi Indonesia tetap kokoh meskipun banyak tantangan. Pertumbuhan ekonomi sampai dengan kuartal ketiga 2023 tercatat 5,05% (ytd), terutama ditopang oleh permintaan domestik yang masih kuat dan inflasi yang terkendali serta didukung kebijakan fiskal Pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan, di tengah tantangan global yang masih tinggi, kita bersyukur bahwa Indonesia berhasil menavigasi perekonomian dengan cukup baik. Tidak banyak negara-negara di dunia yang mampu tumbuh di atas 5%, dan Indonesia menjadi salah satu negara yang mampu tumbuh kuat.

BACA JUGA:
Ekonomi RI Diproyeksi Capai 5,1% di 2024


&quot;Hingga akhir tahun 2023, Pemerintah optimis perekonomian Indonesia akan berada di atas 5%. Tentunya ini menjadi capaian yang perlu diapresiasi dan dipertahankan, namun tidak mengurangi kewaspadaan kita untuk tahun 2024 yang masih akan penuh tantangan,&amp;rdquo; ujar Febrio dalam keterangan resminya, Rabu (3/1/2024).
Aktivitas investasi juga dalam tren menguat, didukung oleh progres penyelesaian proyek-proyek strategis nasional (PSN). Dari sisi produksi, sektor-sektor utama tumbuh positif, terutama manufaktur yang tumbuh 5,2% pada triwulan III, didukung kuatnya permintaan domestik.
Masih kuatnya permintaan domestik juga mendorong kinerja sektor-sektor pendukung pariwisata, seperti transportasi dan akomodasi makan minum yang tumbuh double digit.

BACA JUGA:
21 Program Sat Set Ganjar-Mahfud, Ekonomi RI Tumbuh 7% hingga Buka 17 Juta Lapangan Pekerjaan


Kombinasi pengetatan kebijakan moneter di banyak negara, meningkatnya tensi geopolitik serta fenomena El Nino berdampak negatif pada kinerja ekonomi global. Pertumbuhan global tahun 2023 diperkirakan melambat signifikan ke 3,0% dari sebelumnya 3,5% tahun 2022 (WEO IMF, Oktober 2023).
Perekonomian AS memang masih cukup resilien, namun dihadapkan pada tekanan fiskal yang terus meningkat. Perekonomian Eropa tumbuh sangat lemah, terutama Jerman yang sudah mengalami kontraksi dalam beberapa kuartal terakhir.
Sementara itu, Tiongkok menghadapi tren perlambatan dengan persoalan di sektor properti, utang Pemerintah daerah, serta persoalan struktural terkait ageing dan tingginya pengangguran kelompok muda. Dampak perang dagang dengan AS juga menjadi downside risk yang harus terus dihadapi Tiongkok ke depan.
Selain itu, indikator PMI manufaktur juga mengonfirmasi tren  pelemahan ekonomi global. Sebagian besar negara mengalami kontraksi,  termasuk di antaranya AS (48,2), kawasan Eropa (44,2), dan Jepang  (47,7). Hanya sedikit negara yang berada di zona ekspansi, termasuk di  antaranya Indonesia (52,2), Filipina (51,5) dan Tiongkok (50,8).
PMI manufaktur Indonesia pada Desember 2023 bahkan meningkat dari  posisi semula 51,7 pada bulan November, mencerminkan resiliensi pada  aktivitas manufaktur yang ditopang oleh permintaan domestik yang masih  kuat.
Laju inflasi terkendali pada rentang target Pemerintah. Inflasi tahun  2023 tercatat sebesar 2,61% (yoy), turun signifikan dibanding tahun  2022 sebesar 5,51% (yoy). Angka tersebut merupakan inflasi terendah  dalam 20 tahun terakhir, di luar periode pandemi tahun 2020 dan 2021.
Koordinasi yang kuat Tim Pengendalian Inflasi, baik di level pusat  maupun daerah, serta efektivitas peran APBN sebagai instrumen shock  absorber menjadi faktor kunci terkendalinya inflasi, khususnya inflasi  pangan yang terdampak oleh fenomena El Nino di tahun 2023. Di tahun  2024, Pemerintah akan terus menjaga inflasi terutama dalam menghadapi  gejolak harga pangan.
Ketahanan eksternal Indonesia masih tetap kuat di tengah pelemahan  ekonomi global, terlihat dari neraca perdagangan Indonesia yang  konsisten mencatatkan surplus selama 43 bulan berturut turut. Secara  kumulatif Januari-November 2023, neraca perdagangan Indonesia tercatat  surplus USD33,63 miliar. Surplus neraca perdagangan juga menopang  kinerja neraca transaksi berjalan (current account).
Secara kumulatif sampai dengan kuartal ketiga, kinerja neraca  transaksi berjalan mencatatkan defisit yang sangat rendah, sebesar  USD0,11 miliar atau -0,01% PDB, di bawah ambang batas aman -3,0% PDB.  Secara keseluruhan, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) di tahun  2023 juga cukup baik.
Sampai dengan kuartal ketiga 2023, tercatat defisit NPI sebesar  USD2,32 miliar, dan diperkirakan terus membaik sejalan dengan mulai  meningkatnya capital inflow pada Kuartal IV 2023.
Di 2024, Pemerintah optimis kinerja ini akan terus berlanjut seiring  dengan proyeksi ekonomi nasional yang terus menguat dan defisit  transaksi berjalan yang tetap terjaga.
Menguatnya aktivitas ekonomi nasional juga berdampak positif pada  kesejahteraan masyarakat. Tingkat pengangguran mengalami penurunan  signifikan menjadi 5,32% pada Agustus 2023 dari sebelumnya 5,86% pada  Agustus tahun lalu.
Penciptaan lapangan kerja yang lebih baik, relatif terkendalinya  inflasi serta kebijakan penebalan bansos yang dikeluarkan oleh  Pemerintah mampu menurunkan tingkat kemiskinan dari 9,54% di tahun 2022  menjadi 9,36% di 2023.</content:encoded></item></channel></rss>
