<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pakai Data Satelit, Produktivitas Pertanian RI Bisa Meningkat</title><description>Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan sektor pertanian menjadi salah satu sektor utama dari perekonomian.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/01/05/320/2950207/pakai-data-satelit-produktivitas-pertanian-ri-bisa-meningkat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/01/05/320/2950207/pakai-data-satelit-produktivitas-pertanian-ri-bisa-meningkat"/><item><title>Pakai Data Satelit, Produktivitas Pertanian RI Bisa Meningkat</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/01/05/320/2950207/pakai-data-satelit-produktivitas-pertanian-ri-bisa-meningkat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/01/05/320/2950207/pakai-data-satelit-produktivitas-pertanian-ri-bisa-meningkat</guid><pubDate>Jum'at 05 Januari 2024 18:15 WIB</pubDate><dc:creator>Nurul Amirah Nasution</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/01/05/320/2950207/pakai-data-satelit-produktivitas-pertanian-ri-bisa-meningkat-JKAy9bTnuv.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Data pertanian RI manfaatkan satelit (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/01/05/320/2950207/pakai-data-satelit-produktivitas-pertanian-ri-bisa-meningkat-JKAy9bTnuv.jpg</image><title>Data pertanian RI manfaatkan satelit (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMi8xMy8xLzE3NTEwNC81L3g4cWk5Nm4=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan sektor pertanian menjadi salah satu sektor utama dari perekonomian. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berdasarkan harga berlaku (ADHB) tahun 2022 mencapai 12,4%, di mana angka tersebut turun 0,88% dibanding tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).
Hal tersebut erat kaitannya dengan produktivitas industri yang masih tergolong rendah. Meskipun Indonesia menjadi produsen padi terbesar di ASEAN, namun produktivitas padi nasional masih berada di bawah negara-negara Asia Tenggara lain seperti Vietnam dan Thailand.

BACA JUGA:
 Bahas Modernisasi Pertanian, Ganjar Pranowo Dialog Bareng Ribuan Petani di Purworejo


Indonesia adalah produsen kelapa sawit terbesar di dunia, dengan 17 juta hektar lahan yang dikelola, serta peningkatan fokus pada pengembangan perkebunan biomassa untuk energi dan karbon yang berkelanjutan.
Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas pertanian di Indonesia antara lain adalah teknologi pertanian yang masih tergolong tertinggal dan pengelolaan lahan yang tidak optimal. Mayoritas petani dan pelaku industri di Indonesia belum menggunakan teknologi modern yang dapat mempengaruhi keberhasilan panen mereka.

BACA JUGA:
Jurus Jitu Ganjar Majukan Sektor Pertanian RI, Pacu Penggunaan Pupuk Organik


Hal ini perlu didukung dengan berbagai peningkatan di sektor pertanian, antara lain dengan kerja sama antar pihak, seperti peningkatan kesadaran petani dan pelaku industri tentang pentingnya penggunaan teknologi pertanian terkini dan optimasi pengelolaan lahan.
Guna mendukung peningkatan sektor pertanian di Indonesia, PT Inagro Cipta Nusantara bermitra dengan DataFarming dalam memanfaatkan data satelit untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Dengan Geographic Information System (GIS) miliknya, DataFarming memungkinkan PT Inagro Cipta Nusantara untuk memberikan solusi guna pegembangan dan pengelolaan lahan serta metode pertanian presisi yang lebih baik.
DataFarming menciptakan Digital AgronomistTM, sebuah platform yang  dirancang untuk petani dan para agronomis, menyediakan peta pertanian  dari satelit dengan NDVI (indeks vegetasi yang menggambarkan tingkat  kehijauan tanaman) yang menargetkan masalah dan memantau lahan pertanian  atau perkebunan dengan citra yang diperbarui setiap lima hari.
Teknologi ini dapat menemukan masalah di lapangan, kekeringan, dan  kualitas lahan, yang memberikan wawasan penting dari data spasial dan  peta pertanian. Pengguna dapat menghemat waktu dan biaya dengan  mengetahui di mana harus melakukan pengujian lahan atau tanah, dan  menargetkan solusi seperti pupuk atau air dengan lebih optimal. Untuk  perusahaan besar dan mitra industri, DataFarming memiliki platform  serupa yang disebut Agri-IntelligenceTM.
&amp;ldquo;Dengan banyaknya satelit yang mengelilingi bumi saat ini, kami dapat  melihat banyak hal dari atas, sampai ke hal-hal mendetail sekalipun.  Mulai dari memonitor pertumbuhan padi setiap beberapa harinya, hingga  kesehatan tanaman kelapa sawit,&amp;rdquo; kata Direktur Utama DataFarming Tim  Neale, Jumat (5/12/2023).
Namun, hal yang paling penting adalah memberikan informasi dan  wawasan serta penanganan yang tepat di lapangan guna memberi solusi  terhadap tantangan-tantangan yang dihadapi Indonesia.
&amp;ldquo;Dengan solusi pertanian presisi, kami dapat melihat lahah-lahan  pertanian yang membutuhkan perhatian khusus, sehingga kami dapat  membantu perusahaan-perusahaan dan pelaku industri pertanian dalam  mengembangkan, mengelola, serta memperbaiki kinerja dan produktivitas  lahan mereka,&amp;rdquo; papar CEO PT Inagro Cipta Nusantara Dedi Rahadian.
Dengan wawasan yang didapatkan dari teknologi tersebut, PT Inagro  Cipta Nusantara dapat menganalisa lahan pertanian dalam hal agronomi,  panen, dan logistik.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMi8xMy8xLzE3NTEwNC81L3g4cWk5Nm4=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan sektor pertanian menjadi salah satu sektor utama dari perekonomian. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berdasarkan harga berlaku (ADHB) tahun 2022 mencapai 12,4%, di mana angka tersebut turun 0,88% dibanding tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).
Hal tersebut erat kaitannya dengan produktivitas industri yang masih tergolong rendah. Meskipun Indonesia menjadi produsen padi terbesar di ASEAN, namun produktivitas padi nasional masih berada di bawah negara-negara Asia Tenggara lain seperti Vietnam dan Thailand.

BACA JUGA:
 Bahas Modernisasi Pertanian, Ganjar Pranowo Dialog Bareng Ribuan Petani di Purworejo


Indonesia adalah produsen kelapa sawit terbesar di dunia, dengan 17 juta hektar lahan yang dikelola, serta peningkatan fokus pada pengembangan perkebunan biomassa untuk energi dan karbon yang berkelanjutan.
Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas pertanian di Indonesia antara lain adalah teknologi pertanian yang masih tergolong tertinggal dan pengelolaan lahan yang tidak optimal. Mayoritas petani dan pelaku industri di Indonesia belum menggunakan teknologi modern yang dapat mempengaruhi keberhasilan panen mereka.

BACA JUGA:
Jurus Jitu Ganjar Majukan Sektor Pertanian RI, Pacu Penggunaan Pupuk Organik


Hal ini perlu didukung dengan berbagai peningkatan di sektor pertanian, antara lain dengan kerja sama antar pihak, seperti peningkatan kesadaran petani dan pelaku industri tentang pentingnya penggunaan teknologi pertanian terkini dan optimasi pengelolaan lahan.
Guna mendukung peningkatan sektor pertanian di Indonesia, PT Inagro Cipta Nusantara bermitra dengan DataFarming dalam memanfaatkan data satelit untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Dengan Geographic Information System (GIS) miliknya, DataFarming memungkinkan PT Inagro Cipta Nusantara untuk memberikan solusi guna pegembangan dan pengelolaan lahan serta metode pertanian presisi yang lebih baik.
DataFarming menciptakan Digital AgronomistTM, sebuah platform yang  dirancang untuk petani dan para agronomis, menyediakan peta pertanian  dari satelit dengan NDVI (indeks vegetasi yang menggambarkan tingkat  kehijauan tanaman) yang menargetkan masalah dan memantau lahan pertanian  atau perkebunan dengan citra yang diperbarui setiap lima hari.
Teknologi ini dapat menemukan masalah di lapangan, kekeringan, dan  kualitas lahan, yang memberikan wawasan penting dari data spasial dan  peta pertanian. Pengguna dapat menghemat waktu dan biaya dengan  mengetahui di mana harus melakukan pengujian lahan atau tanah, dan  menargetkan solusi seperti pupuk atau air dengan lebih optimal. Untuk  perusahaan besar dan mitra industri, DataFarming memiliki platform  serupa yang disebut Agri-IntelligenceTM.
&amp;ldquo;Dengan banyaknya satelit yang mengelilingi bumi saat ini, kami dapat  melihat banyak hal dari atas, sampai ke hal-hal mendetail sekalipun.  Mulai dari memonitor pertumbuhan padi setiap beberapa harinya, hingga  kesehatan tanaman kelapa sawit,&amp;rdquo; kata Direktur Utama DataFarming Tim  Neale, Jumat (5/12/2023).
Namun, hal yang paling penting adalah memberikan informasi dan  wawasan serta penanganan yang tepat di lapangan guna memberi solusi  terhadap tantangan-tantangan yang dihadapi Indonesia.
&amp;ldquo;Dengan solusi pertanian presisi, kami dapat melihat lahah-lahan  pertanian yang membutuhkan perhatian khusus, sehingga kami dapat  membantu perusahaan-perusahaan dan pelaku industri pertanian dalam  mengembangkan, mengelola, serta memperbaiki kinerja dan produktivitas  lahan mereka,&amp;rdquo; papar CEO PT Inagro Cipta Nusantara Dedi Rahadian.
Dengan wawasan yang didapatkan dari teknologi tersebut, PT Inagro  Cipta Nusantara dapat menganalisa lahan pertanian dalam hal agronomi,  panen, dan logistik.</content:encoded></item></channel></rss>
