<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rasio Elektrifikasi 100% Butuh Rp22 Triliun</title><description>Indonesia membutuhkan dana Rp22 triliun untuk mencapai rasio elektrifikasi 100%.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/01/19/320/2957428/rasio-elektrifikasi-100-butuh-rp22-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/01/19/320/2957428/rasio-elektrifikasi-100-butuh-rp22-triliun"/><item><title>Rasio Elektrifikasi 100% Butuh Rp22 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/01/19/320/2957428/rasio-elektrifikasi-100-butuh-rp22-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/01/19/320/2957428/rasio-elektrifikasi-100-butuh-rp22-triliun</guid><pubDate>Jum'at 19 Januari 2024 20:58 WIB</pubDate><dc:creator>Atikah Umiyani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/01/19/320/2957428/rasio-elektrifikasi-100-butuh-rp22-triliun-H5OuZwg5oW.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Indonesia butuh dana untuk penuhi rasio elektrifikasi (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/01/19/320/2957428/rasio-elektrifikasi-100-butuh-rp22-triliun-H5OuZwg5oW.jpg</image><title>Indonesia butuh dana untuk penuhi rasio elektrifikasi (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMS8xMy8xLzE3NjA2Ny81L3g4cmV5Yzk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Indonesia membutuhkan dana Rp22 triliun untuk mencapai rasio elektrifikasi 100%. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Jisman P. Hutajulu menyampaikan realisasi rasio elektrifikasi (RE) mencapai 99,78%, sedangkan rasio desa berlistrik (RD) sebesar 99,83% di 2023.
Pemenuhan RE dan RD terus diupayakan oleh pemerintah hingga mencapai 100%, untuk mewujudkan keadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Hal tersebut diungkapkannya ketika konferensi pers capaian kinerja sektor ketenagalistrikan di Jakarta, Kamis (18/1/2024).

BACA JUGA:
Upaya Elektrifikasi Transportasi di Tengah Ancaman Polusi Udara


Meski demikian, Jisman mengatakan bahwa untuk mencapai RE 100% bukan perkara mudah, selain berada di remote area, dana yang dibutuhkan untuk mengejar RE 100% juga tidak sedikit. Hingga tahun 2025 membutuhkan dana sebesar Rp22,08 triliun.
&quot;Kami sudah hitung bersama PLN, kita sudah konsinyiring 3 hari 3 malam untuk menghitung berapa sih kebutuhan anggaran untuk menyelesaikan 100% RE dalam 2 tahun ke depan, sampai 2025 ada Rp22,08 triliun,&quot; ujarnya.

BACA JUGA:
Hyundai N Tidak Selalu Elektrifikasi, Bakal Disesuaikan Minat Konsumen


Dari sekitar Rp22 triliun tersebut, tuturnya, akan difokuskan menjadi tiga hal, yaitu dengan perluasan jaringan yang mencapai porsi 55,59%. Kemudian pembangunan pembangkit komunal dengan porsi 44,33%, pada umumnya menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) ditambah baterai, dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) sebesar 1,3 MW di 20 lokasi.
&quot;Kita akan lakukan perluasan jaringan nanti, tapi jika jaringan PLN masih jauh kita nanti upayakan menggunakan energi setempat pembangkit komunal untuk memperkuat menggunakan baterai,&quot; imbuh Jisman.
Selain itu akan diterapkan program dari Ditjen EBTKE Kementerian ESDM  yaitu APDAL (Alat Penyalur Daya Listrik) dan SPEL (Stasiun Pengisian  Energi Listrik) yang diperuntukkan di daerah yang sulit dijangkau,  dengan porsi 0,08%.
Lebih lanjut, Jisman mengatakan dari jumlah RE yang mencapai 99,78%  pada tahun 2023, sebanyak 98,32% listriknya berasal dari listrik PLN,  dan 1,46% sisanya berlistrik non-PLN, seperti dari program-program Lampu  Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE), maupun program dari Kementerian lain  menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk di remote  area.
&quot;Namun, ke depan kita menginginkan supaya lebih sustain dan lebih  andal ini kelistrikan di rumah tangga, termasuk di remote area itu, agar  dilayani oleh PLN. Karena pelayanan PLN itu akan lebih baik daripada  yang swakelola,&quot; ujar Jisman.
Selain itu, dengan menikmati jaringan listrik dari PLN, masyarakat  yang tidak mampu khususnya yang berada di wilayah timur Indonesia juga  bisa menikmati subsidi listrik yang sama dengan masyarakat lainnya serta  menerima haknya sebagai warga negara. Sementara apabila menggunakan  listrik yang berasal dari swakelola atau non-PLN, tidak ada subsidinya.
Adapun, hingga akhir Desember 2023, jumlah rumah tangga belum  berlistrik diproyeksikan sebanyak 185.662 rumah tangga. Sementara  sebanyak 140 desa belum dialiri listrik. Dari jumlah tersebut, 12 desa  di Provinsi Papua Barat Daya, 9 desa di Papua, 56 desa di Papua  Pegunungan, 47 desa di Papua Tengah, dan 16 desa di Papua Selatan.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMS8xMy8xLzE3NjA2Ny81L3g4cmV5Yzk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Indonesia membutuhkan dana Rp22 triliun untuk mencapai rasio elektrifikasi 100%. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Jisman P. Hutajulu menyampaikan realisasi rasio elektrifikasi (RE) mencapai 99,78%, sedangkan rasio desa berlistrik (RD) sebesar 99,83% di 2023.
Pemenuhan RE dan RD terus diupayakan oleh pemerintah hingga mencapai 100%, untuk mewujudkan keadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Hal tersebut diungkapkannya ketika konferensi pers capaian kinerja sektor ketenagalistrikan di Jakarta, Kamis (18/1/2024).

BACA JUGA:
Upaya Elektrifikasi Transportasi di Tengah Ancaman Polusi Udara


Meski demikian, Jisman mengatakan bahwa untuk mencapai RE 100% bukan perkara mudah, selain berada di remote area, dana yang dibutuhkan untuk mengejar RE 100% juga tidak sedikit. Hingga tahun 2025 membutuhkan dana sebesar Rp22,08 triliun.
&quot;Kami sudah hitung bersama PLN, kita sudah konsinyiring 3 hari 3 malam untuk menghitung berapa sih kebutuhan anggaran untuk menyelesaikan 100% RE dalam 2 tahun ke depan, sampai 2025 ada Rp22,08 triliun,&quot; ujarnya.

BACA JUGA:
Hyundai N Tidak Selalu Elektrifikasi, Bakal Disesuaikan Minat Konsumen


Dari sekitar Rp22 triliun tersebut, tuturnya, akan difokuskan menjadi tiga hal, yaitu dengan perluasan jaringan yang mencapai porsi 55,59%. Kemudian pembangunan pembangkit komunal dengan porsi 44,33%, pada umumnya menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) ditambah baterai, dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) sebesar 1,3 MW di 20 lokasi.
&quot;Kita akan lakukan perluasan jaringan nanti, tapi jika jaringan PLN masih jauh kita nanti upayakan menggunakan energi setempat pembangkit komunal untuk memperkuat menggunakan baterai,&quot; imbuh Jisman.
Selain itu akan diterapkan program dari Ditjen EBTKE Kementerian ESDM  yaitu APDAL (Alat Penyalur Daya Listrik) dan SPEL (Stasiun Pengisian  Energi Listrik) yang diperuntukkan di daerah yang sulit dijangkau,  dengan porsi 0,08%.
Lebih lanjut, Jisman mengatakan dari jumlah RE yang mencapai 99,78%  pada tahun 2023, sebanyak 98,32% listriknya berasal dari listrik PLN,  dan 1,46% sisanya berlistrik non-PLN, seperti dari program-program Lampu  Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE), maupun program dari Kementerian lain  menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk di remote  area.
&quot;Namun, ke depan kita menginginkan supaya lebih sustain dan lebih  andal ini kelistrikan di rumah tangga, termasuk di remote area itu, agar  dilayani oleh PLN. Karena pelayanan PLN itu akan lebih baik daripada  yang swakelola,&quot; ujar Jisman.
Selain itu, dengan menikmati jaringan listrik dari PLN, masyarakat  yang tidak mampu khususnya yang berada di wilayah timur Indonesia juga  bisa menikmati subsidi listrik yang sama dengan masyarakat lainnya serta  menerima haknya sebagai warga negara. Sementara apabila menggunakan  listrik yang berasal dari swakelola atau non-PLN, tidak ada subsidinya.
Adapun, hingga akhir Desember 2023, jumlah rumah tangga belum  berlistrik diproyeksikan sebanyak 185.662 rumah tangga. Sementara  sebanyak 140 desa belum dialiri listrik. Dari jumlah tersebut, 12 desa  di Provinsi Papua Barat Daya, 9 desa di Papua, 56 desa di Papua  Pegunungan, 47 desa di Papua Tengah, dan 16 desa di Papua Selatan.</content:encoded></item></channel></rss>
