<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kembali Meledak, Smelter Investor China di Morowali Jadi Sorotan</title><description>Industri pengolahan mineral (smelter) di Kawasan Industri Morowali jadi sorotan. Pasalnya, Belum sebulan usai terjadi ledakan tungku.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/01/22/320/2958334/kembali-meledak-smelter-investor-china-di-morowali-jadi-sorotan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/01/22/320/2958334/kembali-meledak-smelter-investor-china-di-morowali-jadi-sorotan"/><item><title>Kembali Meledak, Smelter Investor China di Morowali Jadi Sorotan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/01/22/320/2958334/kembali-meledak-smelter-investor-china-di-morowali-jadi-sorotan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/01/22/320/2958334/kembali-meledak-smelter-investor-china-di-morowali-jadi-sorotan</guid><pubDate>Senin 22 Januari 2024 05:30 WIB</pubDate><dc:creator>Fadila Nur Hasan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/01/22/320/2958334/kembali-meledak-smelter-investor-china-di-morowali-jadi-sorotan-IY2O5zGjNV.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Smelter meledak lagi di Morowali (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/01/22/320/2958334/kembali-meledak-smelter-investor-china-di-morowali-jadi-sorotan-IY2O5zGjNV.jpg</image><title>Smelter meledak lagi di Morowali (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMS8xNy8xLzE3NjIyOC81L3g4cmplM24=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Industri pengolahan mineral (smelter) di Kawasan Industri Morowali jadi sorotan. Pasalnya, Belum sebulan usai terjadi ledakan tungku milik PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS), kini kembali terjadi lagi ledakan tungku smelter milik PT Sulawesi Mining Investment.
&quot;Peristiwa kecelakaan ini kembali berulang pada smelter investor China,&quot; ujar Peneliti Indonesia Institute for Sustainable Mining (IISM) Jannus TH Siahaan, Senin (22/1/2024).

BACA JUGA:
Smelter Investor China di Morowali Jadi Sorotan Usai Kembali Meledak

Dari kejadian tersebut Negara harus ikut bertanggung jawab terhadap segala kejadian yang terjadi di industri pengolahan mineral, termasuk kejadian smelter yang meledak.
&quot;Kita sudah harus berhenti terus-menerus menyalahkan orang lain, menyalahkan investor, terhadap kejadian ini karena bagaimanapun negara yang mengizinkan mereka untuk beroperasi negara yang mengundang mereka untuk beroperasi, dan negara pula yang seharusnya bertanggung jawab dalam mengawasi kegiatan tersebut,&quot; ujar Jannus.

BACA JUGA:
Tungku Smelter di Morowali Kembali Meledak, Negara Harus Tanggung Jawab!

Sementara itu pemerintah juga harus melakukan investigasi mendalam dan menyeluruh bahkan termasuk lebih detail dari apa yang telah dilakukan oleh pemerintah sebelumnya. Sebab kejadian ini bukanlah yang pertama kali bahkan yang beberapa kali dalam waktu yang sangat berdekatan.Pemerintah sebaiknya membentuk tim terpadu lintas Kementerian, Lembaga dan juga melibatkan pemerintah daerah setempat agar proses investigasi atau penyelidikan ini berlangsung menyeluruh dan komprehensif.
&quot;Dengan demikian hasilnya dapat diterima atau dapat mewakili masing-masing kepentingan yang terkait dengan tanggung jawab pengawasan tersebut,&quot; lanjut Jannus.
Baca Selengkapnya: Smelter Investor China di Morowali Jadi Sorotan Usai Kembali Meledak</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMS8xNy8xLzE3NjIyOC81L3g4cmplM24=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Industri pengolahan mineral (smelter) di Kawasan Industri Morowali jadi sorotan. Pasalnya, Belum sebulan usai terjadi ledakan tungku milik PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS), kini kembali terjadi lagi ledakan tungku smelter milik PT Sulawesi Mining Investment.
&quot;Peristiwa kecelakaan ini kembali berulang pada smelter investor China,&quot; ujar Peneliti Indonesia Institute for Sustainable Mining (IISM) Jannus TH Siahaan, Senin (22/1/2024).

BACA JUGA:
Smelter Investor China di Morowali Jadi Sorotan Usai Kembali Meledak

Dari kejadian tersebut Negara harus ikut bertanggung jawab terhadap segala kejadian yang terjadi di industri pengolahan mineral, termasuk kejadian smelter yang meledak.
&quot;Kita sudah harus berhenti terus-menerus menyalahkan orang lain, menyalahkan investor, terhadap kejadian ini karena bagaimanapun negara yang mengizinkan mereka untuk beroperasi negara yang mengundang mereka untuk beroperasi, dan negara pula yang seharusnya bertanggung jawab dalam mengawasi kegiatan tersebut,&quot; ujar Jannus.

BACA JUGA:
Tungku Smelter di Morowali Kembali Meledak, Negara Harus Tanggung Jawab!

Sementara itu pemerintah juga harus melakukan investigasi mendalam dan menyeluruh bahkan termasuk lebih detail dari apa yang telah dilakukan oleh pemerintah sebelumnya. Sebab kejadian ini bukanlah yang pertama kali bahkan yang beberapa kali dalam waktu yang sangat berdekatan.Pemerintah sebaiknya membentuk tim terpadu lintas Kementerian, Lembaga dan juga melibatkan pemerintah daerah setempat agar proses investigasi atau penyelidikan ini berlangsung menyeluruh dan komprehensif.
&quot;Dengan demikian hasilnya dapat diterima atau dapat mewakili masing-masing kepentingan yang terkait dengan tanggung jawab pengawasan tersebut,&quot; lanjut Jannus.
Baca Selengkapnya: Smelter Investor China di Morowali Jadi Sorotan Usai Kembali Meledak</content:encoded></item></channel></rss>
