<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sederet Tantangan Industri Tekstil 2024, Ancaman Badai PHK Berlanjut?</title><description>Sektor industri tekstil masih menghadapi sejumlah tangangan pada 2024.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/01/22/320/2958619/sederet-tantangan-industri-tekstil-2024-ancaman-badai-phk-berlanjut</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/01/22/320/2958619/sederet-tantangan-industri-tekstil-2024-ancaman-badai-phk-berlanjut"/><item><title>Sederet Tantangan Industri Tekstil 2024, Ancaman Badai PHK Berlanjut?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/01/22/320/2958619/sederet-tantangan-industri-tekstil-2024-ancaman-badai-phk-berlanjut</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/01/22/320/2958619/sederet-tantangan-industri-tekstil-2024-ancaman-badai-phk-berlanjut</guid><pubDate>Senin 22 Januari 2024 14:14 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/01/22/320/2958619/sederet-tantangan-industri-tekstil-2024-ancaman-badai-phk-berlanjut-1N8siy2M7o.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tantangan industri tekstil tahun 2024 (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/01/22/320/2958619/sederet-tantangan-industri-tekstil-2024-ancaman-badai-phk-berlanjut-1N8siy2M7o.jpg</image><title>Tantangan industri tekstil tahun 2024 (Foto: Reuters)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8xNS8xLzE3MzcxOC81L3g4cG5heTk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Sektor industri tekstil masih menghadapi sejumlah tangangan pada 2024. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurrahman mengatakan, tantangan tersebut bakal berdampak pada strategi perusahaan dalam melakukan berbagai efisiensi seperti pengurangan tenaga kerja.
Lebih spesifik, Rizal menyebut industri tekstil dan produk tekstil (TPT) paling berdampak dari adanya tantangan yang datang dari dalam negeri maupun luar negeri.

BACA JUGA:
Cara Maju Jaya Tekstil Perkuat Ekosistem Fesyen Muslim


Menurutnya, dari luar negeri adanya pembatasan keran impor beberpa negara membuat produk-produk UMKM lokal tidak mudah terserap di pasar internasional. Disatu sisi, masalah di pasar domestik soal membanjirnya barang impor juga tidak kunjung teratasi.
&quot;Memang permintaan barang, dari produk industri padat karya semakin menurun di pasar ekspor, apalagi berkaitan dengan permasalahan daya saing, di pasar domestik lemah akibat banyak barang impor, baik legal maupun tidak legal mampu menguasai pasar domestik,&quot; ujar Rizal dalam Market Review IDXChannel, Senin (22/1/2024).

BACA JUGA:
UMP 2024 Naik, Pengusaha Tekstil Pasrah Industri Masih Lesu


Menurutnya kondisi yang demikian bisa berdampak buruk pada sektor ketenagakerjaan di Indonesia. Jumlah pengangguran bertambah akibat dampak efisiensi perusahaan yang kehilangan order dan pasar.
Saya kira tentu mesti ada satu regulasi memperketat masuknya produk impor, pemerintah harus aware menyelamatkan Industri dalam negeri dan meningkatkan daya saing Industri kita,&quot; kata Rizal.
&quot;Tahun ini cukup berapa bagi industri padat karya, baik itu di TPT,  terutama TPT sangat berat, karena produk impor masih luar biasa  membanjiri domestik, industri padat karya sulit bersaing,&quot; sambungnya.
Selain itu perubahan standar sertifikasi yang diterapkan oleh negara  tujuan impor juga harus menjadi perhatian pemerintah. Seperti contoh  penerapan EUDR yang melarang barang yang teridentifikasi merusak masuk  ke kawasan Eropa.
&quot;Selain itu pemerintah harus respon perubahan kebijakan negara  importir, misalnya Amerika akan menerima impor ban apabila bahan baku  ramah lingkungan, pemerintah harus merespons kebijakan ini,&quot; pungkas  Rizal.
</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8xNS8xLzE3MzcxOC81L3g4cG5heTk=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Sektor industri tekstil masih menghadapi sejumlah tangangan pada 2024. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurrahman mengatakan, tantangan tersebut bakal berdampak pada strategi perusahaan dalam melakukan berbagai efisiensi seperti pengurangan tenaga kerja.
Lebih spesifik, Rizal menyebut industri tekstil dan produk tekstil (TPT) paling berdampak dari adanya tantangan yang datang dari dalam negeri maupun luar negeri.

BACA JUGA:
Cara Maju Jaya Tekstil Perkuat Ekosistem Fesyen Muslim


Menurutnya, dari luar negeri adanya pembatasan keran impor beberpa negara membuat produk-produk UMKM lokal tidak mudah terserap di pasar internasional. Disatu sisi, masalah di pasar domestik soal membanjirnya barang impor juga tidak kunjung teratasi.
&quot;Memang permintaan barang, dari produk industri padat karya semakin menurun di pasar ekspor, apalagi berkaitan dengan permasalahan daya saing, di pasar domestik lemah akibat banyak barang impor, baik legal maupun tidak legal mampu menguasai pasar domestik,&quot; ujar Rizal dalam Market Review IDXChannel, Senin (22/1/2024).

BACA JUGA:
UMP 2024 Naik, Pengusaha Tekstil Pasrah Industri Masih Lesu


Menurutnya kondisi yang demikian bisa berdampak buruk pada sektor ketenagakerjaan di Indonesia. Jumlah pengangguran bertambah akibat dampak efisiensi perusahaan yang kehilangan order dan pasar.
Saya kira tentu mesti ada satu regulasi memperketat masuknya produk impor, pemerintah harus aware menyelamatkan Industri dalam negeri dan meningkatkan daya saing Industri kita,&quot; kata Rizal.
&quot;Tahun ini cukup berapa bagi industri padat karya, baik itu di TPT,  terutama TPT sangat berat, karena produk impor masih luar biasa  membanjiri domestik, industri padat karya sulit bersaing,&quot; sambungnya.
Selain itu perubahan standar sertifikasi yang diterapkan oleh negara  tujuan impor juga harus menjadi perhatian pemerintah. Seperti contoh  penerapan EUDR yang melarang barang yang teridentifikasi merusak masuk  ke kawasan Eropa.
&quot;Selain itu pemerintah harus respon perubahan kebijakan negara  importir, misalnya Amerika akan menerima impor ban apabila bahan baku  ramah lingkungan, pemerintah harus merespons kebijakan ini,&quot; pungkas  Rizal.
</content:encoded></item></channel></rss>
