<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BEI Target Pengguna Jasa Karbon Naik 2 Kali Lipat</title><description>BEI optimistis jumlah pengguna jasa bursa karbon dapat melampaui 100 pada 2024.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/01/30/278/2962709/bei-target-pengguna-jasa-karbon-naik-2-kali-lipat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/01/30/278/2962709/bei-target-pengguna-jasa-karbon-naik-2-kali-lipat"/><item><title>BEI Target Pengguna Jasa Karbon Naik 2 Kali Lipat</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/01/30/278/2962709/bei-target-pengguna-jasa-karbon-naik-2-kali-lipat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/01/30/278/2962709/bei-target-pengguna-jasa-karbon-naik-2-kali-lipat</guid><pubDate>Selasa 30 Januari 2024 11:55 WIB</pubDate><dc:creator>Cahya Puteri Abdi Rabbi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/01/30/278/2962709/bei-target-pengguna-jasa-karbon-naik-2-kali-lipat-lp5SU6zUY1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Taget Pengguna Bursa Karbon (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/01/30/278/2962709/bei-target-pengguna-jasa-karbon-naik-2-kali-lipat-lp5SU6zUY1.jpg</image><title>Taget Pengguna Bursa Karbon (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMS8zMC8xLzE3NjY4NS81L3g4cndqZmY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) optimistis jumlah pengguna jasa bursa karbon dapat melampaui 100 pada 2024. Proyeksi ini berdasarkan tercapainya integrasi sistem Apple Gatrik dengan sistem registrasi nasional pengendalian perubahan iklim (SRN-PPI).
&amp;ldquo;Kami optimistis. Target kami adalah penambahan 50, paling tidak. Artinya, kalau di akhir tahun kemarin itu 46, akhir tahun 2024 paling tidak 96,&amp;rdquo; kata Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (29/1/2024).

BACA JUGA:
BEI Pantau Ketat Saham Asri Karya Lestari (ASLI)

Jeffrey berharap, sinkronisasi Apple Gatrik dan SRN-PPI berpengaruh dan meningkatkan suplai di SRN-PPI ke depannya. Jeffrey mengatakan, bila suplai di SRN-PPI meningkat, maka pilihan permintaan di bursa karbon akan meningkat.
&amp;ldquo;Kami harapkan dengan adanya pilihan-pilihan itu, demand juga bisa meningkat,&amp;rdquo; imbuh Jeffrey.

BACA JUGA:
BEI Soroti Sinar Mas Multiartha (SMMA) Usai Saham Naik Tak Wajar

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Indonesia, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi menyampaikan bahwa pengembangan bursa karbon di Indonesia berpotensi terus tumbuh dengan baik. Sejalan dengan ini, perdagangan bursa karbon diproyeksikan akan terus meningkat.Sejumlah faktor pendorong perkembangan bursa karbon Indonesia di tahun 2024 ini antara lain, adanya peningkatan jumlah unit karbon yang ditransaksikan, baik unit karbon dari skema karbon kredit maupun jenis unit karbon dari skema allowance.
Faktor lain yang juga mendorong pengembangan bursa karbon yaitu, perdagangan luar negeri yang diharapkan segera direalisasikan. Pasalnya, Indonesia merupakan negara yang mempunyai cadangan karbon besar dari sektor kehutanan dan kelautan.
Juga, penerapan pajak karbon yang dianggap sangat penting karena dapat mendukung keseluruhan ekosistem perdagangan karbon di Indonesia. Selain itu, OJK juga terus melakukan koordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMS8zMC8xLzE3NjY4NS81L3g4cndqZmY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) optimistis jumlah pengguna jasa bursa karbon dapat melampaui 100 pada 2024. Proyeksi ini berdasarkan tercapainya integrasi sistem Apple Gatrik dengan sistem registrasi nasional pengendalian perubahan iklim (SRN-PPI).
&amp;ldquo;Kami optimistis. Target kami adalah penambahan 50, paling tidak. Artinya, kalau di akhir tahun kemarin itu 46, akhir tahun 2024 paling tidak 96,&amp;rdquo; kata Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (29/1/2024).

BACA JUGA:
BEI Pantau Ketat Saham Asri Karya Lestari (ASLI)

Jeffrey berharap, sinkronisasi Apple Gatrik dan SRN-PPI berpengaruh dan meningkatkan suplai di SRN-PPI ke depannya. Jeffrey mengatakan, bila suplai di SRN-PPI meningkat, maka pilihan permintaan di bursa karbon akan meningkat.
&amp;ldquo;Kami harapkan dengan adanya pilihan-pilihan itu, demand juga bisa meningkat,&amp;rdquo; imbuh Jeffrey.

BACA JUGA:
BEI Soroti Sinar Mas Multiartha (SMMA) Usai Saham Naik Tak Wajar

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Indonesia, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi menyampaikan bahwa pengembangan bursa karbon di Indonesia berpotensi terus tumbuh dengan baik. Sejalan dengan ini, perdagangan bursa karbon diproyeksikan akan terus meningkat.Sejumlah faktor pendorong perkembangan bursa karbon Indonesia di tahun 2024 ini antara lain, adanya peningkatan jumlah unit karbon yang ditransaksikan, baik unit karbon dari skema karbon kredit maupun jenis unit karbon dari skema allowance.
Faktor lain yang juga mendorong pengembangan bursa karbon yaitu, perdagangan luar negeri yang diharapkan segera direalisasikan. Pasalnya, Indonesia merupakan negara yang mempunyai cadangan karbon besar dari sektor kehutanan dan kelautan.
Juga, penerapan pajak karbon yang dianggap sangat penting karena dapat mendukung keseluruhan ekosistem perdagangan karbon di Indonesia. Selain itu, OJK juga terus melakukan koordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).</content:encoded></item></channel></rss>
