<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Pengusaha Batik Tak Mau Nyerah saat Pandemi Covid-19</title><description>Pandemi Covid-19 meninggalkan banyak kesan dan pengalaman yang luar biasa.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/02/06/455/2966389/cerita-pengusaha-batik-tak-mau-nyerah-saat-pandemi-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/02/06/455/2966389/cerita-pengusaha-batik-tak-mau-nyerah-saat-pandemi-covid-19"/><item><title>Cerita Pengusaha Batik Tak Mau Nyerah saat Pandemi Covid-19</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/02/06/455/2966389/cerita-pengusaha-batik-tak-mau-nyerah-saat-pandemi-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/02/06/455/2966389/cerita-pengusaha-batik-tak-mau-nyerah-saat-pandemi-covid-19</guid><pubDate>Selasa 06 Februari 2024 14:32 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/02/06/455/2966389/cerita-pengusaha-batik-tak-mau-nyerah-saat-pandemi-covid-19-P6B33S2i0S.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Cerita pengusaha batik tak menyerah saat pandemi covid-19 (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/02/06/455/2966389/cerita-pengusaha-batik-tak-mau-nyerah-saat-pandemi-covid-19-P6B33S2i0S.jpg</image><title>Cerita pengusaha batik tak menyerah saat pandemi covid-19 (Foto: Okezone)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMi8wMi80LzE3NjgwNi81L3g4czB3ODY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
YOGYAKARTA - Pandemi Covid-19 meninggalkan banyak kesan dan pengalaman yang luar biasa. Selama Covid-19, masyarakat dituntut bertahan karena penyakit meluas dan terjadi perubahan kehidupan karena pembatasan aktivitas di luar rumah.
Perubahan ini sangat terasa dampaknya bagi pelaku usaha. Seperti diceritakan CEO Rianty Batik Aditya Suryadinata.
Adit mengatakan, dilarang ada keramaian saat pandi membuat area Malioboro semuanya harus tutup. Hal ini terjadi selama setengah tahun dan dampaknya sangat besar.

BACA JUGA:
5 Tips Dagang Batik Online, Jangan Murahan!


&quot;Saat pandemi kemarin kita bener-bener waktu itu sangat berdampak. Area Malioboro saat itu masuk area keramaian seperti mal jadi tutup setengah tahun sangat terasa,&quot; ujarnya,.dalam Workshop Batik Bersama Shop Tokopedia, Selasa (6/2/2024).
Meski toko ditutup dan penjualan turun, Rianty Batik masih bisa berdagang secara online. Sebab, bisnis batik yang sudah dirintis sejak 2007 sudah mulai dagang online sejak 2016-2017.
&quot;Bertahap online itu sekitar 2016 atau 2017. Thanks God pada saat pandemi online bisa bantu kita survive. Jadi pada 2020 (saat pandemi) sudah ada market kita. Jadi sangat bantu melewati pandemi,&quot; ujarnya.

BACA JUGA:
Pengusaha Batik Harap Ekonomi RI Stabil di Tahun Politik


Adit merupakan lulusan luar negeri yang memilih meneruskan usaha orang tuanya, Rianty Batik. Dirinya mulai bergabung pada 2015.
Di sinilah Adit mulai menerapkan konsep jualan online untuk usaha batiknya. Karena itu, Rianty Batik sudah mencoba jualan online sejak 2016-2017.
&quot;Jadi kebetulan saya bersyukur bisa kasih kesempatan studi di luar. Di sana platform online pada waktu itu normal saat di Indonesia  belum ada, sehingga saat kembali muncul Tokopedia saat itu. Jadi kita tahu potensi besar karena di luar ada. Jadi oke kita masuk platform online,&quot; ujarnya.
Adit tak menjelaskan secara detail pemasukan usahanya selama pandemi.  Namun dia menyampaikan bahwa dengan bisnis online ketika itu dan sampai  sekarang pasar penjualan semakin besar.
&quot;Market tadinya lokal,  market hanya di Jogja. Di Tokopedia buk jadi  Indonesia market. Bahkan banyak costumer dari Jabodetabek, luar Jawa dan  tahu soal Rianty,&quot; ujarnya.
Selain jualan online, Rianty Batik mengalihkan sementara produksi  batik dari pakaian menjadi masker. Meski untungnya tidak terlalu besar,  namun produksi masker batik kala itu sangat besar.
&quot;Buat masker batik itu dan bantu kita bertahan. Sebenernya masker  batik pun gak buat cari untung kita buat bantu masyarakat.  Bahkan jual  itu Rp5.000 per pcs. Karena kalau dilihat untung hampir gak ada agar  saat itu ada krisis masker, jadi kita buat,&quot; ujarnya.
Menurut Adit, ide membuat masker ini sangat direspons luar biasa.  Yang awalnya hanya menggunakan sisa kain produksi pakaian, menjadi satu  kain dibuat masker semuanya
&quot;Akhirnya baru kerasa pulih di akhir 2022 sampai 2023. Terimakasih  Tuhan mulai pulih kalau market ritel belum kembali tapi sudah meningkat  dan sudah bersyukur,&quot; ujarnya.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wMi8wMi80LzE3NjgwNi81L3g4czB3ODY=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
YOGYAKARTA - Pandemi Covid-19 meninggalkan banyak kesan dan pengalaman yang luar biasa. Selama Covid-19, masyarakat dituntut bertahan karena penyakit meluas dan terjadi perubahan kehidupan karena pembatasan aktivitas di luar rumah.
Perubahan ini sangat terasa dampaknya bagi pelaku usaha. Seperti diceritakan CEO Rianty Batik Aditya Suryadinata.
Adit mengatakan, dilarang ada keramaian saat pandi membuat area Malioboro semuanya harus tutup. Hal ini terjadi selama setengah tahun dan dampaknya sangat besar.

BACA JUGA:
5 Tips Dagang Batik Online, Jangan Murahan!


&quot;Saat pandemi kemarin kita bener-bener waktu itu sangat berdampak. Area Malioboro saat itu masuk area keramaian seperti mal jadi tutup setengah tahun sangat terasa,&quot; ujarnya,.dalam Workshop Batik Bersama Shop Tokopedia, Selasa (6/2/2024).
Meski toko ditutup dan penjualan turun, Rianty Batik masih bisa berdagang secara online. Sebab, bisnis batik yang sudah dirintis sejak 2007 sudah mulai dagang online sejak 2016-2017.
&quot;Bertahap online itu sekitar 2016 atau 2017. Thanks God pada saat pandemi online bisa bantu kita survive. Jadi pada 2020 (saat pandemi) sudah ada market kita. Jadi sangat bantu melewati pandemi,&quot; ujarnya.

BACA JUGA:
Pengusaha Batik Harap Ekonomi RI Stabil di Tahun Politik


Adit merupakan lulusan luar negeri yang memilih meneruskan usaha orang tuanya, Rianty Batik. Dirinya mulai bergabung pada 2015.
Di sinilah Adit mulai menerapkan konsep jualan online untuk usaha batiknya. Karena itu, Rianty Batik sudah mencoba jualan online sejak 2016-2017.
&quot;Jadi kebetulan saya bersyukur bisa kasih kesempatan studi di luar. Di sana platform online pada waktu itu normal saat di Indonesia  belum ada, sehingga saat kembali muncul Tokopedia saat itu. Jadi kita tahu potensi besar karena di luar ada. Jadi oke kita masuk platform online,&quot; ujarnya.
Adit tak menjelaskan secara detail pemasukan usahanya selama pandemi.  Namun dia menyampaikan bahwa dengan bisnis online ketika itu dan sampai  sekarang pasar penjualan semakin besar.
&quot;Market tadinya lokal,  market hanya di Jogja. Di Tokopedia buk jadi  Indonesia market. Bahkan banyak costumer dari Jabodetabek, luar Jawa dan  tahu soal Rianty,&quot; ujarnya.
Selain jualan online, Rianty Batik mengalihkan sementara produksi  batik dari pakaian menjadi masker. Meski untungnya tidak terlalu besar,  namun produksi masker batik kala itu sangat besar.
&quot;Buat masker batik itu dan bantu kita bertahan. Sebenernya masker  batik pun gak buat cari untung kita buat bantu masyarakat.  Bahkan jual  itu Rp5.000 per pcs. Karena kalau dilihat untung hampir gak ada agar  saat itu ada krisis masker, jadi kita buat,&quot; ujarnya.
Menurut Adit, ide membuat masker ini sangat direspons luar biasa.  Yang awalnya hanya menggunakan sisa kain produksi pakaian, menjadi satu  kain dibuat masker semuanya
&quot;Akhirnya baru kerasa pulih di akhir 2022 sampai 2023. Terimakasih  Tuhan mulai pulih kalau market ritel belum kembali tapi sudah meningkat  dan sudah bersyukur,&quot; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
