<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>TikTok Shop Sepi Peminat, Ini Faktanya</title><description>Sosial e-commerce TikTok Shop mulai ditinggalkan masyarakat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/02/07/320/2966962/tiktok-shop-sepi-peminat-ini-faktanya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/02/07/320/2966962/tiktok-shop-sepi-peminat-ini-faktanya"/><item><title>TikTok Shop Sepi Peminat, Ini Faktanya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/02/07/320/2966962/tiktok-shop-sepi-peminat-ini-faktanya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/02/07/320/2966962/tiktok-shop-sepi-peminat-ini-faktanya</guid><pubDate>Rabu 07 Februari 2024 15:04 WIB</pubDate><dc:creator>Putri Syifa Amelia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/02/07/320/2966962/tiktok-shop-sepi-peminat-ini-faktanya-V0QaZ62dTS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tiktok shop sepi peminan (Foto: Tubefilter)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/02/07/320/2966962/tiktok-shop-sepi-peminat-ini-faktanya-V0QaZ62dTS.jpg</image><title>Tiktok shop sepi peminan (Foto: Tubefilter)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8yMi8xLzE3NDA2Mi81L3g4cHVka2E=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Sosial e-commerce TikTok Shop mulai ditinggalkan masyarakat. Tiktok mendorong eCommerce-nya dengan sangat keras sehingga para pengguna kehilangan esensi dari awal mula Tiktok dan kini makin dibanjiri baik dalam iklan.
Melansir portal berita asal Amerika Serikat Gizmodo, Rabu (7/2/2024), baru-baru ini menurunkan laporan mereka terkait semakin redupnya platform Tiktok yang ditinggalkan pengguna. Laporan tersebut mengungkap perlahan para pengguna mulai jengah dengan &amp;lsquo;transformasi&amp;rsquo; aplikasi asal Tiongkok itu yang dikatakan tidak menyenangkan seperti dulu.

BACA JUGA:
Cara Beli Koin Tiktok Murah Terbaru 2024, Bisa Dapat Gratis


Aplikasi ini bahkan sedang menguji fitur baru yang menggunakan AI untuk mengidentifikasi produk di latar belakang konten biasa dan mengubah setiap video menjadi iklan. Yang terbaru, perkembangan dalam format video. TikTok, dengan tujuan bersaing dengan YouTube, kabarnya sedang bersiap untuk memperbolehkan pengguna mengunggah video berdurasi 30 menit dan mendorong konten horizontal daripada format vertikal standar aplikasi.
Menurut sejumlah analis yang dikutip Gizmodo, TikTok kehilangan apa yang membuat orang jatuh cinta pada aplikasi ini sejak awal yakni video berdurasi pendek yang mendorong orang untuk menjadi kreatif dan aneh.

BACA JUGA:
Lagu Taylor Swift Resmi Hilang dari TikTok, Ada Apa?


&quot;TikTok tetap menjadi bisnis iklan sosial dengan pertumbuhan tercepat, tetapi pertumbuhan pendapatan iklannya melambat,&quot; kata Analis Media Sosial Utama di Insider Intelligence Jasmine Enberg.
&quot;Ada batas atas untuk monetisasi iklan video pendek dan peralihan ke video yang lebih panjang dapat membantu meningkatkan pendapatan iklannya. Namun TikTok mempelopori revolusi video pendek, dan berisiko menyimpang dari kasus penggunaan intinya yang menyenangkan, klip yang menghibur, dan kehilangan keunggulannya,&quot; imbuh dia.
Berdasarkan data, pengguna mulai meninggalkan Tiktok terlihat dari  jumpah pertumbuhan pengguna aktif bulanan (MAU) yang tak lagi luar  biasa. Kabarnya aplikasi berbagi video itu mulai ditinggal karena Tiktok  Shop.
Secara jumlah download, Tiktok masih di urutan pertama. Namun,  platform harus puas berada di urutan kelima dalam pengguna aktif bulan  (MAU).
Berdasarkan laporan Sensor Tower, nampaknya strategi perusahaan untuk  menggenjot ecommerce lewat Tiktok Shop tak direspons baik oleh  pengguna.
Tiktok dikalahkan oleh Meta, karena empat besar didominasi  aplikasi-aplikasi dari raksasa teknologi tersebut. Facebook yang  memimpin pada tahun lalu. WhatsApp, anak usaha Meta lainnya berada di  urutan kedua. Sementara peringkat ketiga dan keempat ditempati Instagram  dan Messenger.
Di Indonesia sendiri, seperti diketahui, masa uji coba Tiktok Shop  yang sudah bergabung dengan Tokopedia diminta oleh Kementerian  Perdagangan. Kementerian Perdagangan member waktu 3-4 bulan agar adanya  perpindahan transaksi dari Tiktok Shop ke Tokopedia. Dan hal itu diminta  agar dipatuhi.
&quot;Ini perlu ditransisi, makanya diberikan waktu 3-4 bulan, pindahin  pedagangnya, transaksinya dan banyak itu yang diurus. Supaya dia enggak  jualan di medsosnya. 3-4 bulan ini kita pantau lgi prosesnya. Tetap  mereka harus patuh sama aturan,&quot; ujar Dirjen Perdagangan Dalam Negeri  Isy Karim, 12 Desember lalu.
Berbeda dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi-UKM  meminta Tiktok mengikuti aturan agar tidak menyatukan platform media  sosial dengan belanja daring (eCommerce) milik mereka. Larangan itu  berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023. Aturan  tersebut juga menyatakan, tidak diperbolehkan transaksi dalam platform  media sosial.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMy8xMS8yMi8xLzE3NDA2Mi81L3g4cHVka2E=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;ndash; Sosial e-commerce TikTok Shop mulai ditinggalkan masyarakat. Tiktok mendorong eCommerce-nya dengan sangat keras sehingga para pengguna kehilangan esensi dari awal mula Tiktok dan kini makin dibanjiri baik dalam iklan.
Melansir portal berita asal Amerika Serikat Gizmodo, Rabu (7/2/2024), baru-baru ini menurunkan laporan mereka terkait semakin redupnya platform Tiktok yang ditinggalkan pengguna. Laporan tersebut mengungkap perlahan para pengguna mulai jengah dengan &amp;lsquo;transformasi&amp;rsquo; aplikasi asal Tiongkok itu yang dikatakan tidak menyenangkan seperti dulu.

BACA JUGA:
Cara Beli Koin Tiktok Murah Terbaru 2024, Bisa Dapat Gratis


Aplikasi ini bahkan sedang menguji fitur baru yang menggunakan AI untuk mengidentifikasi produk di latar belakang konten biasa dan mengubah setiap video menjadi iklan. Yang terbaru, perkembangan dalam format video. TikTok, dengan tujuan bersaing dengan YouTube, kabarnya sedang bersiap untuk memperbolehkan pengguna mengunggah video berdurasi 30 menit dan mendorong konten horizontal daripada format vertikal standar aplikasi.
Menurut sejumlah analis yang dikutip Gizmodo, TikTok kehilangan apa yang membuat orang jatuh cinta pada aplikasi ini sejak awal yakni video berdurasi pendek yang mendorong orang untuk menjadi kreatif dan aneh.

BACA JUGA:
Lagu Taylor Swift Resmi Hilang dari TikTok, Ada Apa?


&quot;TikTok tetap menjadi bisnis iklan sosial dengan pertumbuhan tercepat, tetapi pertumbuhan pendapatan iklannya melambat,&quot; kata Analis Media Sosial Utama di Insider Intelligence Jasmine Enberg.
&quot;Ada batas atas untuk monetisasi iklan video pendek dan peralihan ke video yang lebih panjang dapat membantu meningkatkan pendapatan iklannya. Namun TikTok mempelopori revolusi video pendek, dan berisiko menyimpang dari kasus penggunaan intinya yang menyenangkan, klip yang menghibur, dan kehilangan keunggulannya,&quot; imbuh dia.
Berdasarkan data, pengguna mulai meninggalkan Tiktok terlihat dari  jumpah pertumbuhan pengguna aktif bulanan (MAU) yang tak lagi luar  biasa. Kabarnya aplikasi berbagi video itu mulai ditinggal karena Tiktok  Shop.
Secara jumlah download, Tiktok masih di urutan pertama. Namun,  platform harus puas berada di urutan kelima dalam pengguna aktif bulan  (MAU).
Berdasarkan laporan Sensor Tower, nampaknya strategi perusahaan untuk  menggenjot ecommerce lewat Tiktok Shop tak direspons baik oleh  pengguna.
Tiktok dikalahkan oleh Meta, karena empat besar didominasi  aplikasi-aplikasi dari raksasa teknologi tersebut. Facebook yang  memimpin pada tahun lalu. WhatsApp, anak usaha Meta lainnya berada di  urutan kedua. Sementara peringkat ketiga dan keempat ditempati Instagram  dan Messenger.
Di Indonesia sendiri, seperti diketahui, masa uji coba Tiktok Shop  yang sudah bergabung dengan Tokopedia diminta oleh Kementerian  Perdagangan. Kementerian Perdagangan member waktu 3-4 bulan agar adanya  perpindahan transaksi dari Tiktok Shop ke Tokopedia. Dan hal itu diminta  agar dipatuhi.
&quot;Ini perlu ditransisi, makanya diberikan waktu 3-4 bulan, pindahin  pedagangnya, transaksinya dan banyak itu yang diurus. Supaya dia enggak  jualan di medsosnya. 3-4 bulan ini kita pantau lgi prosesnya. Tetap  mereka harus patuh sama aturan,&quot; ujar Dirjen Perdagangan Dalam Negeri  Isy Karim, 12 Desember lalu.
Berbeda dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi-UKM  meminta Tiktok mengikuti aturan agar tidak menyatukan platform media  sosial dengan belanja daring (eCommerce) milik mereka. Larangan itu  berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023. Aturan  tersebut juga menyatakan, tidak diperbolehkan transaksi dalam platform  media sosial.</content:encoded></item></channel></rss>
